Geger Orang Terkaya di Jawa Punya 320 Pembantu, Ini Sosoknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Memiliki rumah super besar tentu saja tak bisa diurus seorang diri. Pemilik rumah mau tidak mau memanggil orang lain dalam hal ini adalah Pekerja Rumah Tangga (PRT), seperti dilakukan orang terkaya di Jawa era 1800-an, yakni Augustijn Michiels.
Skalanya bukan lagi puluhan, tapi ratusan orang. Michiels tercatat memiliki 320 pembantu yang pada masa itu disebut budak atau babu. Sejarawan Djoko Soekiman dalam Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (2000) mengungkap, rumah tangga Agustijn Michiels alias Mayor Jantje memerlukan 320 budak.Â
Ratusan orang itu dibagi dalam tugas-tugas rinci. Ada yang mengurus pekerjaan domestik seperti menyapu, mencuci, dan memasak. Ada juga yang bekerja di luar rumah, mengelola kebun dan lahan. Bahkan pembagiannya spesifik.
Ada 80 orang memotong rumput, 9 orang memetik sayuran, dan 5 orang merawat taman. Sebagian lainnya ditugaskan untuk hiburan, menari dan memainkan gamelan. Bahkan, untuk mengurus 362 ekor kuda, Michiels juga memperkerjakan puluhan PRT.Â
Kekayaan dan lahan Michiels sendiri tersebar di beberapa wilayah. Mulai dari Cileungsi, Klapanunggal, Nambo, Cipanas, Ciputri, Cibarusah, hingga Naggewer yang kini masuk wilayah Bogor dan Bekasi.
Skalanya bahkan disebut setara satu provinsi di Eropa. Menurut F. de Haan dalam De Laatste der Mardijkers (1917), perkirakan luas tanah milik Michiels setara dengan luas Provinsi Utrecht, Belanda, yang mencapai 1.449 km2 atau 144 ribu hektare. Besarnya kekayaannya berasal dari warisan sang ayah, yakni Jonathan. Pada 1776 Jonathan membeli tanah di Cileungsi. Tanah tersebut kemudian diketahui menjadi habitat burung walet, yang sarangnya bernilai tinggi dan kelak menjadi sumber kekayaan utama keluarga.
Saat Jonathan wafat, kekayaan diwariskan kepada anak-anaknya, salah satunya Michiels. Dari situlah Michiels melangkah lebih jauh. Dia yang awalnya berprofesi tentara kemudian berhenti untuk mengurusi aset-asetnya.
Dia lalu memutar uang dari asetnya lewat bisnis dan investasi. Kelak, kemampuan Michiels dalam mengelola aset menjadi kunci. Dengan memperluas kepemilikan lahan sekaligus menjaga produktivitasnya, terutama dari komoditas bernilai tinggi seperti sarang burung walet, membuat posisinya sulit ditandingi pada zamannya. Tak heran hartanya terus membengkak dan menempatkannya sebagai salah satu orang terkaya di Jawa pada masanya.Â
(mfa/wur) Addsource on Google