CNBC Insight

Lagi Salat Usai Sahur, 500 Warga Palestina Ditembaki Tentara Israel

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
25 February 2026 12:40
People carry bodies during a mass burial of unidentified Palestinians, whose bodies were released after being held in Israel during the war, in Deir Al-Balah, in the central Gaza Strip, February 13, 2026. REUTERS/Mahmoud Issa
Foto: Israel (REUTERS/Mahmoud Issa)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Fatima Hamis al-Jabari datang ke Masjid Ibrahim bersama suami dan dua anaknya untuk melaksanakan salat Subuh berjemaah di bulan Ramadan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, mereka datang dengan keyakinan akan keberkahan seraya membawa doa-doa yang sama, tanpa firasat buruk apa pun.

Mereka kemudian menempati saf masing-masing bersama jemaah lain. Fatima berada di barisan perempuan, sementara suami dan anak-anaknya berada di saf laki-laki.

Saat salat dimulai, suasana masjid langsung hening. Ruang ibadah hanya dipenuhi lantunan ayat suci imam yang mengalir pelan dan menenangkan.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit. Tiba-tiba, suara tembakan memecah kekhusyukan.

Seketika suara teriakan dan kepanikan menggema. Fatima kaget dan langsung berlari mencari suaminya di tengah kekacauan jemaah yang berhamburan.

Nahas, yang dia temukan menjadi luka seumur hidup. Tubuh suaminya tergeletak bersimbah darah di lantai masjid. Anaknya terluka di dekatnya.

"Saat penembakan dimulai, suami saya mencoba melindungi putra bungsu kami, Sari, yang berusia delapan tahun. Suleiman tertembak di punggung dan peluru menembus tubuhnya dan mengenai Sari. Suami saya tewas, isi perut Sari keluar dan kami mengira dia juga akan meninggal, tetapi dia selamat setelah satu bulan dirawat di rumah sakit," kata Fatima kepada Al Jazeera, dikutip Rabu (25/2/2026).

Tragedi yang menimpa Fatima dan keluarganya pagi itu menjadi bagian dari peristiwa sangat besar dalam sejarah kelam penduduk Israel atas tanah Palestina. Yakni pembantaian di Masjid Ibrahim, Hebron, pada 25 Februari 1994, tepat hari ini 34 tahun lalu. 

Ditembak Tentara

Pembantaian tersebut berlangsung sekitar 10 menit dan dikenal sebagai salah satu tragedi paling singkat, tetapi paling mematikan dalam sejarah pendudukan Israel. Dari 500-an jemaah salat, ada 29 jemaah tewas dan 150 orang luka-luka.

Setelah situasi mereda, terungkap pelakunya adalah seorang tentara sekaligus dokter militer bernama Baruch Goldstein. Goldstein tewas di lokasi kejadian setelah diserang balik oleh para jemaah.

Mengutip BBC International, Goldstein merupakan warga negara Israel kelahiran Amerika Serikat (AS). Dia pindah ke Israel pada 1983 dan bergabung sebagai dokter militer.

Dia juga diketahui memiliki paham anti-Arab dan ultra-nasionalis yang dipengaruhi ajaran rabi ekstremis Meir Kahane. Tragedi ini mengguncang dunia internasional karena terjadi di tengah wacana perdamaian Israel-Palestina, serta melibatkan seorang tentara aktif sebagai pelaku.

Sayang, akibat Goldstein tewas di lokasi, motif pastinya tidak pernah dapat digali secara langsung. Mengutip laporan New York Times berjudul "That Day in Hebron -- A special report; Soldier Fired at Crowd, Survivors of Massacre Say", hasil investigasi resmi menyebut Goldstein bertindak sendirian dan tidak ada rekan yang terafiliasi dengannya.

Selain itu, terdapat 115 selongsong peluru di lokasi kejadian. Namun, peluru yang berasal dari senapan Goldstein hanya 109 selongsong. Sedangkan sisanya berasal dari dua tentara di lokasi kejadian yang menembakkan peluru untuk menenangkan situasi.

"Lima selongsong lainnya berasal dari senapan Galil milik dua tentara yang sempat melepaskan beberapa tembakan saat para jemaah Arab mulai berlarian keluar dari kompleks tempat suci Cave of the Patriarchs," tulis laporan tersebut. 

Meski begitu, salah satu saksi mengungkap, letusan peluru dari tentara tersebut mengarah ke para jemaah. Terlepas dari benar atau tidaknya kesaksian kejadian ini lantas memantik amarah umat Muslim dan pendukung Palestina di seluruh dunia. Sebab terjadi ketika warga sedang khusyuk salat di bulan suci Ramadan.

Hampir semua negara mengutuk kejadian ini. Dewan Keamanan PBB pun segera bersidang mengeluarkan resolusi. 

Namun, seperti sebelum-sebelumnya, berbagai kecaman tersebut tak menghentikan pendudukan. pembantaian oleh Israel masih terjadi di masa-masa berikutnya. 

(mfa/sef) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features