Dapat Bimbingan SETC, Omzet UMKM Ini Sentuh Puluhan Juta

Entrepreneur - Feri Sandria, CNBC Indonesia
19 December 2022 10:50
dok HM Sampoerna Foto: dok HM Sampoerna - Neneng Apriani, pelaku UMKM di Jawa Timur, mengikuti Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) yang merupakan inkubator pengembangan bisnis bagi UMKM. Pelaku UMKM tersebut mendapati bisnisnya berkembang pesat setalah mengikuti pelatihan yang disediakan oleh SETC.

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten perusahaan tembakau, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna/HMSP), secara aktif memberikan pelatihan dan bimbingan bagi para pelaku UMKM agar dapat semakin bersaing. Program bimbingan tersebut dilakukan lewat Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC), yang berada dalam payung program Sampoerna Untuk Indonesia. Berkat bimbingan tersebut, banyak pelaku UMKM yang mampu meningkatkan omzet penjualan, sehingga turut membantu menggerakkan perekonomian di daerahnya.

Berlokasi 65 km di selatan kota Surabaya, SETC dengan fasilitas pendukung yang berbasis di Kabupaten Pasuruan menjadi inkubator bagi sejumlah UMKM daerah sekitar, mulai dari Surabaya hingga Malang, bahkan seluruh Indonesia. SETC secara rutin memberikan pelatihan kepada UMKM, baik itu secara virtual maupun secara langsung dengan kapasitas 25 orang. Pendampingan dan bimbingan diberikan kepada seluruh UMKM tanpa memandang gender dan usia.

Bagi UMKM, kehadiran SETC menjadi laboratorium penting demi meningkatkan kapasitas, baik itu dari sisi hardskill maupun softskill. Lasti Suhartini, yang berasal dari Malang, mengatakan bahwa SETC memiliki pengaruh signifikan baginya, khususnya ketika situasi pandemi dua tahun lalu lagi tinggi-tingginya.

Perempuan dengan latar belakang arsitektur, namun memiliki kegemaran di bidang mode, mengaku sangat terbantu dengan bimbingan dari SETC selama pandemi. Memulai bisnis dengan produksi masker, kini Lasti mulai merambah ke bisnis baju lukis sesuai dengan passion yang dimiliki.

Saat ini, Lasti mengaku mampu mengembangkan bisnisnya yang kini memiliki omzet di kisaran Rp 8-10 juta per bulan. Pada saat ramai, omzetnya bisa mencapai Rp 20 juta per bulan. Tidak hanya itu, efek domino ikut dirasakan oleh orang sekitar lewat pemberian lapangan kerja kepada empat orang.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Neneng Apriani, pebisnis bawang hitam asal Malang. Bisnis ini berawal ketika dirinya tidak sengaja memproduksi bawang hitam sebagai bagian dari pengobatan alternatif yang ditempuh. Lewat bimbingan SETC, Neneng mampu menangkap celah pasar yang pemainnya masih relatif terbatas.

Secara personal, Neneng yang pernah masuk 10 besar kompetisi bergengsi nasional yang diadakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengaku bangga menjadi bagian dari UMKM binaan SETC.

Bawang hitam sendiri merupakan produk dari proses fermentasi bawang putih segar yang disimpan pada suhu 60-70 derajat Celsius selama 30-40 hari. Melansir Alodokter, bawang hitam memiliki sejumlah manfaat medis mulai dari kesehatan jantung, menjaga gula darah hingga mencegah kanker.

Saat ini produknya sudah dikirimkan ke banyak pelanggan, bahkan mencapai Turki dan Australia.

Neneng juga bercerita dengan bangga bahwa usaha yang digelutinya saat ini menjadi laboratorium bagi calon-calon pemikir muda baru Indonesia. Neneng mengaku bahwa rumah yang menjadi tempat operasi bisnis UMKM miliknya kini telah menjelma jadi pusat penelitian mahasiswa, termasuk untuk bahan penelitian akhir. Neneng menyebut mahasiswa yang datang berasal dari berbagai kampus, mulai Universitas Brawijaya hingga sejumlah kampus di Surabaya.

Selain Lasti dan Neneng, SETC juga memberikan bimbingan dan inkubasi bagi lebih banyak UMKM. SETC sendiri hingga saat ini telah memberi keterampilan kewirausahaan kepada lebih dari 65.000 peserta dari seluruh Indonesia.

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Demi UMKM Naik Kelas, BRI Gelar Pengusaha Muda BRILian 2022


(rah/rah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading