Ini Kisah Dua UMKM Lokal Yang Jadi Pahlawan Masa Kini

Entrepreneur - Khoirul Anam, CNBC Indonesia
10 November 2021 07:30
M Dandi Sepsaditri, Pemilik Bakso Aci Akang & Muhammad Shidiq, Pemilik Geoffmax

Jakarta, CNBC Indonesia - Hari Pahlawan dirayakan untuk memperingati perjuangan para pahlawan yang berjuang di Surabaya pada 10 November 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan. Semangat para pahlawan juga tertanam di benak seluruh masyarakat Indonesia.

UMKM telah menjadi pahlawan bagi keberlangsungan perekonomian nasional, seperti pelaku UMKM Muhammad Shidiq (31) dan M. Dandi Sepsaditri (32). Mereka terbukti yang berhasil menjadi 'Pahlawan' bagi masyarakat di sekitarnya melalui bisnis kuliner dan sepatu yang didirikan.

Dengan modal teknologi digital untuk terus berkembang, kedua bisnis tersebut berhasil menjadi sumber pendapatan bagi ratusan karyawan. Mereka juga ikut memberdayakan komunitas sekitar seperti penjual dan pengrajin lokal.


Dalam menyambut Hari Pahlawan, Shidiq dan Dandi pun menceritakan pengalaman dalam membangun bisnisnya masing-masing.

Bisnis Sepatu Asal Bandung Buka Ratusan Lapangan Kerja Baru

Karyawan GeoffmaxFoto: Karyawan Geoffmax
Karyawan Geoffmax

Geoffmax didirikan oleh tiga orang sahabat pada 2012, salah satunya Shidiq. Saat didirikan, mereka ingin menampilkan brand sepatu yang berbeda dengan mengusung konsep old school sebagai ciri khas produknya. Berawal dari perasaan miris sebab melihat banyaknya anak muda yang lebih senang membeli produk luar, bahkan sampai membeli replikanya, trio pengusaha asal Bandung ini menghadirkan sepatu Geoffmax.

"Bisnis Geoffmax kita mulai dari sebuah toko kecil di Bandung dan sekarang meluas ke berbagai daerah di Jabodetabek. Setelah beberapa tahun, kita lihat belanja online semakin trending, dan akhirnya mulai jualan di media sosial dan sekarang di e-commerce Shopee. Selama pandemi jadi tumpuan banget, bahkan 80% pesanan sekarang juga dari Shopee," jelas Shidiq dikutip dari keterangannya, Rabu (10/11/2021).

Geoffmax tidak hanya dikembangkan di daerah Bandung. Bisnis ini sering melakukan kolaborasi dengan brand lokal lain di luar Bandung, seperti Malang, Batu, Bogor, Banjarbaru, Bali, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, bersama Shopee, Geoffmax berhasil mencapai salah satu cita-citanya untuk menjual produknya ke luar negeri.

"Enggak nyangka juga sekarang bisa ekspor ke Malaysia, Singapura, dan Filipina. Setiap bulannya, ada ratusan produk yang sudah bisa kita ekspor. Jualan ke luar negeri segampang jualan di Indonesia. Dibantu sama Shopee semuanya," tambahnya.

Ia mengaku, bisnis tersebut tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tapi juga komunitas sekitar.

"Kita bersyukur banget karena digitalisasi bisnis, usaha kita jadi bisa berkembang. Awalnya kita hanya memiliki 6 karyawan. Setelah berjalan selama 9 tahun, sekarang sudah bisa pekerjakan 150 karyawan. Bukan cuma buat di kantor saja, komunitas sekitar kami juga diberdayakan melalui pabrik kecil Geoffmax yang menyerap ratusan karyawan dari masyarakat lokal," jelas dia.

Menurut Shidiq, karyawan yang ia terima berasal dari berbagai macam daerah dan latar belakang. Ada anak yang putus sekolah dan tidak lulus SMA. Ia percaya, jika memang memiliki semangat yang besar, semua berhak mendapatkan kesempatan untuk bekerja terlepas dari latar belakangnya.

Untuk produk Geoffmax, Shidiq juga mengambil bahan dari penjual kain lokal dan penjahit di sekitaran tempat produksi Geoffmax.

Dari Gerobak Pinjaman hingga Beri Kesempatan Kerja Lebih dari 600 Karyawan

Karyawan Bakso Aci AkangFoto: Karyawan Bakso Aci Akang
Karyawan Bakso Aci Akang

Berdirinya Baso Aci Akang didasari oleh kecintaan M. Dandi Sepsaditri, Founder & CEO Akang Group pada hidangan baso dan pengalamannya menyantap baso aci kemasan di Garut pada 2015. Saat itu, muncul ide untuk membangun bisnis menjual baso aci yang saat itu belum menjamur.

"Saya memberanikan diri untuk pindah ke Tangerang dan akhirnya mendirikan bisnis Baso Aci Akang pada tahun 2018 bermodalkan uang sebesar Rp 8 juta, gerobak pinjaman dari tetangga, dan tempat sewaan di dalam komplek perumahan yang kurang strategis," kata dia.

Di tengah perkembangan bisnisnya yang pesat, Dandi dan Baso Aci Akang dihadapkan dengan pandemi Covid-19 yang membawa dampak signifikan terhadap omzet usahanya.

"Mengadopsi layanan pembayaran digital ShopeePay menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk bangkit, dan berbagai kampanye dan promo menarik yang dihadirkan ShopeePay mampu membantu mendorong jumlah transaksi pelanggan sehingga meningkatkan pendapatan Baso Aci Akang di tengah situasi pandemi," jelasnya.

Ia menyebutkan, selama tiga tahun, Baso Aci Akang telah memiliki 108 gerai yang tersebar di Lampung, Jawa, dan Bali. Bisnis yang berawal dari modal minim dan gerobak pinjaman ini juga mempekerjakan lebih dari 600 karyawan.

Selain memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang, Baso Aci Akang mencoba untuk memberdayakan UMKM lokal dengan cara menjadikan UMKM sebagai pemasok bahan baku dari berbagai menu hidangan Baso Aci Akang.

"Buat saya, UMKM lokal adalah pahlawan yang secara tidak langsung berjuang dalam menjaga perekonomian Indonesia. Bangga banget," tambahnya.

"Ke depannya melalui Baso Aci Akang, saya akan membuka semakin banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia dan memberikan manfaat bagi karyawan-karyawan saya dengan memberikan akses untuk mendapatkan nafkah yang cukup serta pendidikan yang layak," ujar Dandi.

Digitalisasi teknologi tidak hanya membuat UMKM lokal mampu bertahan, tetapi juga bisa berdaya dan bermanfaat bagi komunitas sekitarnya.


(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading