Berkat Vape, Wanita Ini Jadi Orang Terkaya 2021 Versi Forbes

Entrepreneur - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
03 May 2021 14:05
Geliat Industri Rokok Elektrik Masa Kini (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kate Wang adalah salah satu orang yang masuk dalam jajaran orang terkaya 2021 versi Forbes dengan kekayaan US$ 2,6 miliar dari perusahaan vape RLX.

Semua itu bisa terjadi dari kebiasaan merokok sang ayah. Wang tumbuh dan mengenyam pendidikan di kota Xi'an, China bagian tengah. Lulus dengan gelar sarjana di bidang keuangan dari Universitas Xi'an Jiaotong pada 2005, Wang masuk manajemen trainee Procter&Gamble (P&G) di Guangzhou.

Selama 3 tahun menjadi manajer proyek di sektor kecantikan, dia hengkang ke Hong Kong dan membuat sebuah perusahaan investasi. Sayangnya, hal tersebut tidak bertahan lama.


Pada 2011, Wang hijrah ke Amerika Serikat untuk mengejar gelar MBA di Columbia Business School. Pengalaman inilah yang membuatnya brubah. "Saya kewalahan dengan peluang. Berbeda dengan Xi'an yang bergerak lambat. New York bergerak cepat dan memberi saya pola pikir yang berbeda," ujarnya mengutip CNN, Senin (3/5/2021).

Setelah dari New York, Wang pindah ke Beijing dan bergabung dengan perusahaan konsultan Bain & Co. Setelah itu, dia pindah ke Uber China yang kemudian melebur menjadi layanan ride-hailing Didi Chuxing.

Salah satu tugasnya saat itu adalah membantu meluncurkan Uber di Hangzhou, kota berpenduduk 10 juta orang, di mana berbagi tumpangan masih jarang terjadi. "Uber ada di sana tapi orang tidak tahu. Pengemudi tidak tertarik menjadi mitra kami, jadi setiap hari saya memikirkan cara berkomunikasi dengan mereka. Ini mengharuskan saya untuk bekerja sebagai wirausahawan dan mengatasi tantangan yang biasanya tidak diperlukan karyawan," kisahnya.

Berikutnya, pada 2017, demam rokok elektrik dimulai. Amerika Serikat memiliki Juul Labs yang telah mencetak lebih dari US$100 juta dalam pendanaan tahap awal. Sebaliknya, saat itu hanya ada 0,5 persen dari 300 juta perokok yang menggunakan vape di China.

Wang, sebagai salah satu perokok sekaligus seorang ibu pun berjuang untuk menghentikan kebiasaan merokok. Alasannya sederhana, dia malu dengan bau tembakau yang menempel di bajunya. Sehingga, dia selalu bergegas ganti pakaian sebelum pulang ke rumah.

Tak hanya itu, ayahnya pun perokok aktif yang bisa menghabiskan dua bungkus rokok sehari. Kebiasaan yang mengganggu kesehatan. Sehingga, Wang beralih ke rokok elektrik. "Saya baru saja mencoba semua produk (vaping), tetapi kebanyakan dari mereka buruk," katanya.

Awalnya Wang mencoba-coba dan melihat ada peluang pasar dan nekat membangun merek hingga perusahaan sendiri saat dia masih bekerja di Didi. Akhirnya, Wang memutuskan keluar dari Didi dan mengajak lima rekannya untuk bergabung dalam perusahaan vape yang akan dia bangun.

Enam orang dalam satu tim itu, mereka mulai mencari dana ke crowdfunding di situs e-commerce JD.com. Akhirnya, Wang dan kawan-kawan berhasil mengumpulkan sekitar US$ 6 juta dalam pendanaan awal dari IDG Capital dan perusahaan VC Beijing Source Code Capital pada Juni 2018.

Saat itu, titik penjualan perusahaan sangat sederhana, vape yang ramping dan mudah digunakan dengan rasa, ditargetkan untuk populasi besar perokok lansia di China. Perusahaan mempekerjakan lulusan muda dan mempromosikan dirinya sebagai startup teknologi.

Perusahaan baru ini mendapatkan suku cadang untuk perangkatnya dari mitra termasuk Smoore, pembuat perangkat vaping terbesar di dunia yang dipimpin oleh miliarder Chen Zhiping.

Smoore menghasilkan lebih dari 70 persen produk RLX pada tahun 2019. Pada saat itu, pasar vaping di China hampir seluruhnya tidak diatur, tidak seperti rokok, yang dijual hampir secara eksklusif oleh China Tobacco. Keuntungan tersebut membuat RLX tumbuh dengan cepat.

Pada semester pertama 2019, setelah lebih dari satu tahun beroperasi, perusahaan pemula ini telah merebut hampir setengah dari pasar vaping domestik China. Pada April 2019, RLX mendapatkan US$ 75 juta dalam putaran Seri A dari Sequoia China dan investor miliarder Yuri Milner.

Pada September tahun itu, perusahaan membuka pabrik seluas 215 ribu kaki persegi di selatan Shenzhen dengan 4.000 pekerja. Sayangnya, bisnis vape milik Wang tak selalu berjalan lancar. Pada Oktober 2019, regulator China mulai menindak industri yang baru lahir dan melarang penjualan rokok elektronik online dalam upaya mengekang vaping di bawah umur.

Akibatnya, ini menghapus 20 persen bisnis RLX. Jadi Wang dan rekannya putar otak dan memutuskan untuk membuka toko utama di Shanghai. Perusahaan juga memasang teknologi ID dan pengenalan wajah untuk mencegah anak di bawah umur berbelanja di gerainya.

Di luar China, vape RLX dijual oleh RELX International, sebuah perusahaan milik pribadi yang terpisah dengan dari induk. RELX International merencanakan ekspansi ke AS. Perusahaan mempekerjakan mantan ilmuwan Juul Donald Graff pada Februari 2020 untuk memimpin rencana masuk pasar AS.

Pada awal tahun ini, tepatnya Januari 2021, RLX berhasil mengumpulkan US$ 1,4 miliar dalam IPO di New York Stock Exchange. Aksi korporasi ini yang melambungkan empat pendirinya ke peringkat terkaya di dunia. Di tengah pandemi corona pun, penjualan RLX tumbuh 147 persen menjadi US$585 juta pada tahun 2020.

Berbicara mengenai vape di Indonesia, pada pertengahan 2019 sempat ada imbauan larangan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk tidak menggunakan vape atau rokok elektrik karena mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Vape terbukti memperburuk kesehatan paru-paru, jantung, pembuluh darah, otak, dan organ-organ lainnya.

Selengkapnya simak halaman berikut ini >>>>>>>>>>>>>


(yun/yun)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading