Petaka Booking Tiket Pesawat, Banyak Orang Sudah Jadi Korban
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri penerbangan global kembali diuji oleh insiden keamanan siber. Kebocoran data melanda sistem pemesanan (booking system) Amadeus, penyedia teknologi perjalanan terkemuka dunia, yang berdampak pada sejumlah maskapai penerbangan internasional, termasuk Singapore Airlines.
Dalam keterangan resminya, Singapore Airlines mengonfirmasi bahwa data pelanggan yang terekspos akibat peretasan tersebut mencakup nama penumpang, nomor referensi pemesanan (booking reference number), rincian rencana perjalanan (travel itinerary), hingga kelas penerbangan.
Selain itu, informasi sensitif lain seperti alamat email, nomor telepon, rincian dokumen perjalanan, serta nomor keanggotaan KrisFlyer diduga kuat turut diakses pada sekitar 620 rekam pemesanan (booking records).
Meski demikian, Singapore Airlines memastikan informasi finansial penumpang aman dari peretasan.
"Amadeus telah mengonfirmasi bahwa informasi rekening bank maupun kartu kredit pelanggan tidak ikut bocor, dan rincian pemesanan tidak mengalami perubahan," tulis pihak maskapai dalam keterangannya, dikutip dari Reuters, Rabu (4/11/2026).
Singapore Airlines juga menegaskan bahwa sistem teknologi informasi (IT) internal milik perusahaan tidak mengalami pembobolan, melainkan celah kerentanan berasal dari sistem pihak ketiga. Sebagai langkah antisipasi, maskapai tengah menghubungi para penumpang terdampak yang memiliki jadwal penerbangan dalam waktu dekat untuk memperbarui nomor referensi pemesanan mereka.
Dampak Sistemik di Asia Pasifik
Secara terpisah, pihak Amadeus mengakui adanya celah kerentanan (vulnerability) pada lingkungan tampilan pemesanan perjalanan (travel booking display environment) mereka. Namun, Amadeus enggan merinci total keseluruhan data pelanggan maskapai global yang terdampak dari insiden ini.
Imbas dari peretasan sistem Amadeus ini meluas ke berbagai maskapai besar di kawasan Asia Pasifik. Dalam beberapa hari terakhir, dua maskapai raksasa lainnya, Cathay Pacific dan Japan Airlines (JAL), turut melaporkan dampak dari celah keamanan tersebut.
Cathay Pacific mengonfirmasi kebocoran data melibatkan setidaknya 53.000 data pemesanan penerbangan. Sementara itu, Japan Airlines mencatatkan angka yang lebih besar, di mana sekitar 92.000 data pelanggan dilaporkan ikut terekspos akibat insiden siber tersebut.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]