Petaka Baru Dunia Penerbangan, Satu Per Satu Maskapai Jadi Korban

Redaksi,  CNBC Indonesia
03 November 2026 17:15
A Malaysian Airlines passenger aircraft is seen flying in front of the moon, over London, Britain, February 15, 2019. REUTERS/Toby Melville
Foto: Ilustrasi pesawat Malaysia Airlines. (REUTERS / Toby Melville)

Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai penerbangan nasional (flag carrier) Malaysia Airlines mengonfirmasi bahwa sebagian data pribadi milik pelanggannya berpotensi mengalami kebocoran akibat insiden kejahatan siber (cybersecurity incident) yang menghantam penyedia sistem teknologi pemesanan tiket global, Amadeus.

Dikutip dari Reuters, Selasa (3/11/2026), Malaysia Airlines menjadi maskapai terbaru yang terkena dampak skandal peretasan ini. Insiden tersebut menyusul laporan serupa dari sejumlah maskapai raksasa kawasan Asia dalam beberapa hari terakhir, seperti Cathay Pacific Airways, Japan Airlines, hingga Asiana Airlines asal Korea Selatan.

Manajemen Malaysia Airlines menjelaskan bahwa kebocoran siber ini berpotensi berdampak pada data transaksi penumpang yang diproses sepanjang rentang periode Agustus 2023 hingga September 2026.

Pihak maskapai menegaskan tengah berkoordinasi intensif dengan Amadeus dan otoritas terkait guna menyelidiki cakupan insiden serta mengukur dampak kerugian yang ditimbulkan.

Meski demikian, Malaysia Airlines menggaransi bahwa sistem teknologi informasi (IT) internal milik perusahaan tetap aman dan tidak berhasil ditembus oleh peretas.

"Sistem IT internal kami tidak terbobol dan hingga saat ini tidak ditemukan bukti adanya akses ilegal terhadap data maupun informasi keuangan pelanggan," tulis pernyataan resmi Malaysia Airlines.

Kendati data keuangan diklaim aman, maskapai tetap mengimbau para pengguna jasanya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi aksi penipuan (phishing), terutama jika menerima pesan atau komunikasi mencurigakan yang meminta informasi pribadi maupun finansial.

Puluhan Ribu Data Penumpang Asia Terdampak

Secara terpisah, pihak Amadeus mengonfirmasi bahwa mereka menemukan celah keamanan (vulnerability) pada tampilan antarmuka sistem pemesanan perjalanan miliknya. Namun, Amadeus enggan membeberkan total akumulasi data penumpang global yang terkena dampak pembobolan tersebut.

Skala dampak peretasan ini diperkirakan sangat besar. Sebelum Malaysia Airlines merilis pernyataan resminya, Cathay Pacific Airways telah melaporkan bahwa kebocoran data di sistem Amadeus berdampak pada 53.000 data pemesanan tiket (booking). Sementara itu, Japan Airlines mengonfirmasi sebanyak 92.000 data penumpangnya turut terekspos akibat insiden siber tersebut.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Modus Penipuan Baru, Bobol Kartu Kredit Lewat Aplikasi Tanpa OTP


Most Popular
Features