HP China Sudah Tidak Laku, Ramai-Ramai Beralih ke iPhone

Redaksi,  CNBC Indonesia
04 November 2026 13:55
Profil smartphone iPhone Duo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Profil smartphone iPhone Duo. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Apple resmi mengumumkan laporan keuangan untuk kuartal IV (Q4) tahun fiskal 2026 yang berakhir pada September. Raksasa Cupertino mencatatkan rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$114,5 miliar (sekitar Rp2.076 triliun), melonjak 12% secara tahunan (year-over-year).

Moncernya kinerja keuangan Apple salah satunya didorong oleh penjualan iPhone, yang mencatatkan pertumbuhan pesat, baik pada kinerja kuartalan maupun sepanjang tahun fiskal 2026.

Sepanjang kuartal September saja, penjualan iPhone melesat hingga US$57,6 miliar (sekitar Rp1.045 triliun), tumbuh signifikan dari US$49,0 miliar pada periode yang sama tahun lalu, dikutip dari GSMArena, Rabu (4/11/2026).

Secara akumulatif sepanjang tahun fiskal 2026 (12 bulan penuh), total penjualan iPhone melonjak drastis hingga menyentuh US$254,1 miliar (sekitar Rp4.610 triliun), melambung tinggi dibanding capaian tahun sebelumnya senilai US$209,6 miliar.

Pencapaian penjualan iPhone ini menutup tahun fiskal 2026 Apple dengan total pendapatan rekor melampaui US$479 miliar (setara Rp8.691 triliun), disertai pertumbuhan laba per saham (EPS) mencapai dua digit hingga US$2,10 per saham atau naik 14%.

CEO Apple John Ternus menegaskan bahwa lonjakan penjualan iPhone menjadi motor penggerak utama di tengah rentetan peluncuran jajaran produk paling ambisius dalam sejarah perusahaan.

"Hari ini, Apple dengan bangga melaporkan rekor pendapatan kuartal September sebesar US$114,5 miliar, naik 12 persen dari tahun lalu. Capaian ini didorong oleh rekor baru penjualan iPhone pada kuartal September serta pendapatan lini Layanan yang mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high)," ujar Ternus, dikutip dari GSMArena.

"Kami menutup tahun ini dengan lini produk paling ambisius, termasuk peluncuran iPhone Duo sebagai iPhone paling transformatif sejak generasi pertama, bersanding dengan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max sebagai iPhone paling bertenaga yang pernah kami buat," tambahnya.

Selain lonjakan penjualan iPhone, lini bisnis Layanan (Services) juga menembus rekor tertinggi sepanjang masa dengan membukukan pendapatan US$31,6 miliar pada kuartal September, serta US$123,3 miliar untuk kinerja satu tahun penuh.

Di lini hardware, Mac berhasil mengambil alih posisi sebagai segmen terbesar ketiga Apple dengan angka penjualan kuartalan sebesar US$10,8 miliar (naik dari US$8,7 miliar). Capaian Mac ini resmi menggeser kategori Wearables, Home and Accessories yang terkoreksi ke angka US$8,3 miliar, serta melampaui lini iPad yang mencatatkan pendapatan US$6,2 miliar.

Dari sisi geografis, wilayah Amerika Serikat dan sekitarnya masih memimpin sebagai kontributor pendapatan terbesar Apple dengan angka penjualan bersih US$48,7 miliar pada Q4 2026. Pasar Eropa menyumbang US$32 miliar, sedangkan kawasan China mencatatkan pendapatan US$17,5 miliar.

Jualan HP China Makin Merosot

Di tengah kinerja moncel iPhone, para pesaingnya dari China justru merosot tajam. Laporan dari firma riset Counterpoint Research mengungkapkan bahwa merek-merek papan atas seperti Xiaomi, Oppo, dan vivo mengalami penurunan pengiriman yang sangat drastis akibat lonjakan biaya chip memori (DRAM dan NAND) serta kelangkaan pasokan komponen global pada Q3 2026.

Lonjakan biaya chip memori dipicu oleh masifnya aksi borong pasokan untuk proyek-proyek infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kondisi tersebut membengkakkan biaya komponen (Bill of Materials/BOM) dan memaksa produsen menaikkan harga eceran ponsel hingga rata-rata 20% sepanjang 2026.

"Kuartal ketiga menjadi periode kedua berturut-turut yang merasakan dampak penuh dari krisis memori. Kelangkaan ekstrem ini mendorong pasar ke fase yang lebih selektif," ujar Analis Senior Counterpoint, Shilpi Jain, dalam laporannya, beberapa saat lalu.

Dampak krisis komponen menghantam keras strategi vendor-vendor China yang selama ini mengandalkan volume penjualan tinggi pada segmen harga terjangkau (entry-level hingga mid-range).

Xiaomi mencatatkan rekor penurunan paling tajam di antara pemain utama, di mana pengirimannya terjun bebas lebih dari 30% YoY. Porsi pangsa pasar Xiaomi pun tergerus hingga tersisa 10%. Perusahaan terpaksa mengurangi porsi produksi pada segmen harga murah dan memangkas ekspansi di pasar luar negeri demi mengamankan margin keuntungan agar tidak mengalami kerugian operasional.

Oppo (termasuk OnePlus dan realme) serta vivo juga tidak luput dari pembantaian pasar. Pengiriman kedua produsen ini anjlok lebih dari 20% YoY, yang membuat pangsa pasar mereka masing-masing merosot menjadi 9% dan 8%.

Demi bertahan hidup, Oppo terpaksa mengonsolidasikan lini produk dan operasional lintas merek (Oppo, realme, dan OnePlus) untuk efisiensi biaya. Sementara itu, vivo harus menelan pil pahit karena kenaikan harga terpaksa menggeser model-model murah seri Y keluar dari rentang harga terjangkau yang diminati konsumen.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article HP China Tidak Laku, Jualan Oppo-Xiaomi-Vivo Anjlok Parah


Most Popular
Features