Harga Listrik di RI Masih Kompetitif untuk Bangun Data Center

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
03 November 2026 15:18
CEO Digital Edge Indonesia, Stephanus Oscar saat menyampaikan pemaparan dalam Coffee Morning dengan tema Beyond AI Adoption : Indonesias Role in the AI Economydi Jakarta, Selasa (3/11/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: CEO Digital Edge Indonesia, Stephanus Oscar saat menyampaikan pemaparan dalam Coffee Morning dengan tema “Beyond AI Adoption : Indonesia’s Role in the AI Economy”di Jakarta, Selasa (3/11/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Digital Edge Indonesia Stephanus Oscar menjelaskan bahwa Indonesia masih menarik sebagai tempat berinvestasi data center, terutama karena harga listrik di Indonesia masih cukup kompetitif.

"Harga listrik di Indonesia, dengan tarif adjustment untuk data center, jadi harganya naik, tapi even with that tetap masih kompetitif kok, harga listrik di Indonesia," ungkap Stephanus dalam Coffee Morning bertajuk "Melampaui Adopsi AI: Apa Peran Indonesia dalam Ekonomi AI?", Selasa (3/11/2026).

Untuk itu, kebutuhan listrik bukan menjadi permasalahan untuk investasi data center di Indonesia. Namun, kata Oscar, pemerintah tetap perlu mempersiapkan kebijakan penggunaan listrik tersebut.

"Jadi misal harga listrik itu kepastiannya seperti apa, karena off-taker, customer besar pasti juga waktu dia mau masuk ke Indonesia, dia akan melihat seberapa stable country-nya," ujar dia.

Oscar mencontohkan kenaikan harga listrik setiap pertengahan tahun atau setiap tahun akan menjadi pertimbangan bagi perusahaan sebelum berinvestasi data center.

"Jadi saya rasa ini perlu dikomunikasikan aja dari pemerintah, dari PLN, misalnya pemerintah ESDM, oke harga tarif listrik akan dinaikkan, paling maksimum sekian dan ini tahap-tahapnya segala macam, ini saya rasa masih bisa acceptable buat off-taker," terang dia.

Diketahui kebutuhan listrik untuk data center diperkirakan memerlukan tambahan 20 gigawatt (GW) atau setara 20% dari total kapasitas listrik saat ini. Kebutuhan itu terus meningkat seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI).

Jika pusat data pada era komputasi awan membutuhkan daya sekitar 10-30 megawatt (MW), pusat data berbasis AI dapat membutuhkan daya 100 MW hingga 1 GW. Ketersediaan listrik, air, jaringan serat optik, dan kesiapan lokasi menjadi penentu utama realisasi investasi.

Dari sisi pasokan, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW. Dari jumlah itu, 42,6 GW berasal dari EBT, 10,3 GW berupa sistem penyimpanan energi, dan 16,6 GW dari pembangkit fosil, dengan potensi investasi Rp2.967,4 triliun. Pengembangan PLTS 100 GWp juga mencakup PLTS skala besar, terapung, atap, dan kawasan industri.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tolak Data Center, Warga Ogah Dibayar Rp 154 Juta Per Orang


Most Popular
Features