Petaka AI Muncul di Mana-Mana, Microsoft Ungkap Solusinya

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
03 November 2026 16:55
Director of Customer Success Microsoft Indonesia, Irving Hutagalung saat menyampaikan pemaparan dalam Coffee Morning dengan tema Beyond AI Adoption : Indonesias Role in the AI Economydi Jakarta, Selasa (3/11/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Director of Customer Success Microsoft Indonesia, Irving Hutagalung saat menyampaikan pemaparan dalam Coffee Morning dengan tema “Beyond AI Adoption : Indonesia’s Role in the AI Economy”di Jakarta, Selasa (3/11/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya dimanfaatkan oleh korporasi untuk mendongkrak produktivitas, tetapi juga telah menjadi senjata baru bagi para pelaku kejahatan siber. Para peretas (hacker) kini turut memanfaatkan kecanggihan AI untuk melancarkan serangan dan membobol benteng keamanan sistem perusahaan.

Director of Customer Success Microsoft Indonesia, Irving Hutagalung, menyatakan bahwa kondisi ini menuntut perusahaan untuk segera memperkuat dan mempercanggih sistem keamanan siber mereka. Pasalnya, teknologi AI yang digunakan oleh para peretas pada dasarnya juga tersedia bagi tim teknologi informasi (IT) untuk melindungi sistem internal perusahaan.

"Unfortunately, memang dengan adanya AI, pihak yang jahat juga punya tools yang sama. Kan kita bisa sering baca di berita ya, bahwa ada breach di mana-mana, di sini, di situ, itu semuanya sekarang hacker-nya sudah pakai AI," ujar Irving dalam acara CNBC Indonesia Coffee Morning di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Meski demikian, Irving menilai perusahaan memiliki peluang besar untuk membalikkan keadaan dan melawan serangan tersebut dengan memanfaatkan teknologi serupa. Dengan kata lain, AI dapat dijadikan perisai utama untuk menghadapi ancaman serangan siber berbasis AI.

Menurutnya, perusahaan perlu membekali seluruh karyawan, terutama tim IT dan keamanan siber, dengan pelatihan yang tepat dan terukur. Pelatihan tersebut krusial agar personel memahami cara mengoperasikan teknologi AI untuk mengantisipasi hingga memitigasi serangan siber.

Irving menegaskan bahwa kecanggihan perangkat teknologi saja tidak pernah cukup untuk menjamin keamanan penuh bagi perusahaan. Pemanfaatan tools keamanan mutakhir harus diimbangi oleh kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam mengoperasikannya.

"Kalau dikasih tools semahal apa pun sampai puluhan juta Dolar AS, tetapi tidak dipakai dengan benar, ya akan sulit juga. Jadi poin utamanya adalah bagaimana mereka memanfaatkan AI tersebut," jelasnya.

Irving menerangkan, AI dapat membantu tim keamanan siber menjalankan pemantauan sistem secara otomatis (real-time), sebuah tugas yang sebelumnya menyita waktu karena harus dilakukan secara terus-menerus oleh manusia. Teknologi ini juga mampu menyaring berbagai indikasi bahaya atau peringatan (alert) yang masuk, sehingga tim IT dapat menentukan ancaman mana yang membutuhkan intervensi langsung secara presisi.

Dengan kemampuan tersebut, tim keamanan tidak perlu merespons seluruh peringatan secara manual. AI dapat menjalankan fungsi pemilahan awal (triage) untuk membedakan ancaman kritis yang memerlukan penanganan manusia dan mana yang cukup ditangani sistem.

"Yang tadinya semua alert harus langsung direspons, sekarang ada AI yang bisa melakukan triage terlebih dahulu, mana yang harus ditangani manusia dan mana yang tidak," terang Irving.

Ia juga menambahkan bahwa perusahaan tidak selalu membutuhkan skema yang rumit untuk memperkuat fondasi keamanan sibernya. Langkah-langkah sederhana yang diterapkan secara konsisten acap kali efektif menekan risiko serangan siber secara signifikan.

"Sering kali hal-hal yang simpel bisa diterapkan dengan cara yang simpel juga," pungkasnya.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Petaka Baru Muncul di China, Peneliti Kasih Peringatan Bahaya


Most Popular
Features