Manusia Sudah Digantikan, Tandanya Makin Kencang di China
Jakarta, CNBC Indonesia - Era ketika robot hanya sekadar berlari, menari, dan melakukan aksi salto di laboratorium, sudah lewat. Perusahaan-perusahaan teknologi dunia, khususnya raksasa China dan Amerika Serikat (AS), kini secara masif mengalirkan modal miliar dolar untuk mengembangkan kecerdasan buatan (embodied AI) yang dirancang khusus untuk mengambil alih berbagai pekerjaan manusia di pabrik, logistik, hingga sektor layanan publik.
Fenomena ini memicu ledakan investasi besar-besaran. Menurut data firma riset ITjuzi, perusahaan embodied AI di China berhasil menghimpun pendanaan sebesar 93,5 miliar yuan (sekitar Rp254 triliun) hanya pada paruh pertama tahun 2026. Angka tersebut melonjak lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Persaingan sengit yang menekan harga perangkat keras (hardware) membuat industri menyadari bahwa kunci utama otomatisasi tenaga kerja tidak lagi terletak pada fisik mesin, melainkan pada kecerdasan otaknya.
"Para pembuat robot menyimpulkan bahwa margin keuntungan terbesar tidak lagi datang dari perangkat keras, melainkan dari otaknya," ungkap Dermot McGrath, pendiri konsultan teknologi ZenGen Labs yang berbasis di Shanghai, dikutip dari Reuters, Senin (2/11/2026).
Perkembangan ini membuka medan pertempuran baru dalam rivalitas teknologi AS-China. Negara yang paling cepat memadukan AI canggih ke dalam fisik robot diprediksi akan menguasai rantai pasok industri global, memangkas kebergantungan pada buruh manusia, dan merombak peta produktivitas dunia.
Robot Mulai Garap Pekerjaan Manusia di Dunia Nyata
Uji coba penggantian tenaga kerja manusia oleh robot canggih tidak lagi sebatas teori. Di China, robot-robot berbasis embodied AI mulai ditempatkan langsung di lini produksi dan sektor jasa komersial:
- Manufaktur Komponen Otomotif: Produsen baterai kendaraan listrik raksasa CATL melaporkan bahwa robot besutan Spirit AI kini telah mengambil alih tugas manusia dalam memasangkan kabel-kabel fleksibel pada proses pengujian paket baterai di pabrik Zhongzhou, dengan tingkat keberhasilan presisi di atas 99%.
- Sektor Farmasi & Layanan: Robbyant, unit usaha robotika Ant Group, mengungkapkan bahwa robot-robot besutannya kini dipercaya mengelola dan menyiapkan pesanan obat di dua jaringan apotek di Shanghai. Staf manusia kini hanya bertugas melakukan pemeriksaan akhir sebelum obat dikirimkan.
- Operasi Presisi Tinggi: Firma robotika DexForce mencatat bahwa sistem simulasi mereka mampu melatih robot untuk siap mengoperasikan tugas-tugas industri presisi tinggi hanya dalam kurun waktu 6 hingga 8 jam, dengan tingkat keberhasilan mencapai 99,9%.
Melatih 'Akal Sehat' Robot Lewat Perilaku Manusia
Berbeda dari chatbot biasa yang belajar dari teks internet, robot industri membutuhkan pemahaman mendalam atas interaksi fisik manusia. Demi mempercepat proses peralihan ini, perusahaan robotika berlomba mengumpulkan ribuan jam data pergerakan manusia.
Spirit AI, misalnya, mempekerjakan sekitar 1.000 orang khusus untuk merekam aktivitas fisik sehari-hari dan industri. Sementara itu, ACE Robotics memasang sensor pemantau (wearable sensors) pada tubuh pekerja manusia di toko dan hotel guna merekam gaya genggaman serta dinamika gerakan otot mereka.
"Kami ingin robot beralih dari yang sebelumnya digerakkan oleh baris kode kaku menjadi digerakkan oleh akal sehat (common sense)," tegas Co-founder dan COO X Square, Yang Qian.
Dengan dibekali 'akal sehat', robot tidak hanya mematuhi perintah terprogram, tetapi juga mampu memecahkan masalah (problem solving) di tempat kerja secara independen. Dalam sebuah eksperimen yang digarap JoyIn Technology, saat seekor robot gagal menjangkau headphone di atas lemari tinggi, robot tersebut mempelajari video demonstrasi manusia, lalu secara mandiri menggeser kotak kayu untuk dijadikan pijakan demi meraih objek tersebut.
Ancaman Momen 'ChatGPT' Bagi Tenaga Kerja Global
Para pelaku industri memprediksi bahwa revolusi penggantian tenaga kerja oleh robot akan mengalami akselerasi luar biasa dalam waktu dekat. Pendiri Unitree, Wang Xingxing, mengungkapkan bahwa integrasi model bahasa generasi terbaru seperti GPT-6 dan GPT-7 ke dalam fisik robot akan menjadi "Momen ChatGPT" bagi dunia robotika.
Titik krusial tersebut diperkirakan terjadi ketika robot humanoid mampu menyelesaikan 80% tugas kompleks di 80% lingkungan pekerjaan baru hanya berdasarkan instruksi lisan dari atasan.
Meski demikian, pengembang di China masih harus menghadapi tantangan besar, termasuk pembatasan ekspor chip AI canggih oleh AS serta kebutuhan validasi keandalan mesin dalam jangka panjang.
Kendati para analis menilai komersialisasi masif di seluruh sektor usaha masih membutuhkan waktu beberapa tahun, arah pergeseran tren sudah sangat jelas: peran buruh dan pekerja operasional manusia secara perlahan namun pasti mulai digantikan oleh kecerdasan buatan berbentuk fisik.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]