Raja Ecommerce Blak-Blakan Profesi Kurir Online Segera Punah

Redaksi,  CNBC Indonesia
23 June 2026 16:20
Ilustrasi Kurir. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Kurir. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam beberapa bulan terakhir, diskusi terkait masa depan pekerjaan manusia yang berpotensi digantikan sistem kecerdasan buatan (AI) makin sering terdengar. Kelompok pekerja mulai cemas profesi mereka akan segera direnggut AI yang kian canggih dan andal.

Baru-baru ini, beberapa pemimpin teknologi AI seperti Sam Altman dari OpenAI, menyebut kekhawatiran masyarakat tersebut berlebihan. Ia menyebut akan ada pergeseran di bursa kerja, tetapi manusia di masa depan akan lebih fokus pada profesi-profesi yang menuntut kreativitas dan pengarahan.

Di tengah debat tajam soal dampak AI ke bursa kerja, ada teknologi lain yang berkembang pesat dan kemungkinan lebih berisiko. Teknologi ini tak lain adalah robot, yang umumnya juga dibangun berdasarkan sistem AI.

Salah satu raksasa e-commerce China, JD.com, buka-bukaan menyebut para pekerja kurir online nantinya akan digantikan robot, dikutip dari IndiaToday, Selasa (23/6/2026).

Pendiri dan Kepala JD.com, Richard Liu, memperingatkan 'pasukan' kurir online perusahaan yang berjumlah 700.000 orang, suatu saat akan digantikan robot. Hal ini disampiakan saat ia berbicara di forum CEO APEC di Beijing.

"Di masa depan, ketika robot mengantarkan paket, cepat atau lambat, akan tiba saatnya kurir pada dasarnya tidak lagi dibutuhkan," kata Liu.

"Pasti robot yang akan mengantarkan paket. Tapi saya benar-benar tidak ingin 700.000 saudara kita kelaparan, kehilangan pekerjaan," ia menambahkan.

JD.com adalah salah satu pengecer online terbesar di China dan bersaing dengan raksasa e-commerce seperti Alibaba dan Meituan. Meskipun Liu tidak memberikan jangka waktu kapan pengiriman robot dapat menjadi hal yang umum, perusahaan tersebut sudah mempersiapkan diri untuk masa depan itu.

Menurutnya, JD.com telah bermitra dengan sekitar 120 sekolah untuk membantu melatih kembali para pekerja pengiriman untuk peran baru yang mungkin muncul seiring dengan meluasnya otomatisasi.

Salah satu pekerjaan yang menurut Liu akan makin penting adalah pemeliharaan robot.

"Karena robot adalah mesin... mereka akan selalu, pada suatu saat, mengalami kerusakan," katanya, menyarankan bahwa pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi dapat dilatih untuk memperbaiki dan mengelola sistem robot.

Ambisi China 5 Tahun ke Depan, Robot di Mana-Mana

Komentar tersebut muncul saat China secara agresif berinvestasi dalam robotika dan otomatisasi. Rencana lima tahun terbaru negara itu menempatkan robotika sebagai salah satu teknologi prioritasnya, dengan para pembuat kebijakan memandang robot sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi masa depan.

Beberapa proyek percontohan sudah diuji di seluruh China, termasuk robot yang mengantarkan makanan kepada penumpang bandara dan robot lain yang beroperasi di jaringan kereta komuter untuk mengisi kembali toko-toko swalayan.

Pernyataan tersebut juga kembali memicu kekhawatiran tentang lapangan kerja. Ekonomi pekerja lepas di China telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Perkiraan penelitian menunjukkan jumlah pekerja lepas di negara itu dapat mencapai 320 juta tahun ini, naik dari sekitar 200 juta lima tahun lalu. Pekerja pengiriman, pengemudi layanan transportasi online, dan pekerja pabrik sementara merupakan sebagian besar dari angkatan kerja ini.

Liu menegaskan bahwa teknologi seharusnya meningkatkan kehidupan manusia, bukan menghilangkan kemampuan mereka untuk mencari nafkah.

"Teknologi seharusnya membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik dan pekerjaan lebih menarik, daripada mengambil hak manusia untuk bekerja," katanya.

Di seluruh industri teknologi, perusahaan makin banyak mempertimbangkan robot dan otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya.

Amazon, misalnya, mengungkapkan pada Juni 2026 bahwa mereka telah mengerahkan lebih dari satu juta robot di seluruh jaringan operasionalnya sejak tahun 2012. Perusahaan menggunakan sistem robot untuk tugas-tugas seperti penyortiran inventaris dan pengemasan.

Sebuah laporan terbaru dari Business Insider juga menunjukkan Amazon sedang menguji teknologi yang secara otomatis mengelola penugasan pekerja di dalam gudang berdasarkan perubahan beban kerja sepanjang hari.

Pada Oktober 2025, New York Times melaporkan bahwa Amazon berencana untuk mengganti lebih dari setengah juta pekerjaan dengan robot, yang merupakan hal yang sangat besar. Saat ini belum diketahui apakah hal yang sama dapat terjadi di negara-negara lain. Laporan tersebut menyatakan bahwa rencana saat ini adalah untuk Amerika Serikat.

Tren ini meluas melampaui raksasa e-commerce. Startup robotika Figure AI baru-baru ini mengklaim bahwa jumlah robot sekarang melebihi jumlah karyawan manusia di dalam perusahaannya sendiri.

Pendiri Figure AI, Brett Adcock, mengumumkan bahwa perusahaan tersebut memiliki lebih banyak robot daripada manusia dalam daftar gajinya, dengan penyebaran robot meningkat tajam seiring dengan peningkatan skala manufaktur.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pegawai Indomaret-Alfamart Bisa Punah, Penggantinya Muncul dari China


Most Popular
Features