Krisis Tenaga Kerja Makin Parah, Manusia Sudah Digantikan Robot

Redaksi,  CNBC Indonesia
07 April 2026 14:45
infografis bank di dunia yang melakukan  PHK terhadap karyawannya
Foto: infografis/infografis bank di dunia yang melakukan PHK terhadap karyawannya/Aristya Rahadian krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang menjadi salah satu negara yang mengalami fenomena 'resesi seks', ditandai dengan merosotnya angka perkawinan dan kelahiran anak. Dampaknya sudah mulai terasa pada angkatan kerja yang turut menurun.

Di saat bersamaan, Jepang menghadapi tekanan yang meningkat untuk memelihara produktivitas. Menanggulangi masalah ini, perusahaan-perusahaan sudah meningkatkan penggunaan robot berbasis kecerdasan buatan (AI) di berbagai pabrik, gudang, dan infrastruktur kritis.

Kementerian Ekonomi dan Perdagangan Jepang mengatakan pada Maret 2026 bahwa negara berencana membangun sektor fisik AI domestik yang bisa meraup 30% pangsa pasar global pada 2040 mendatang.

Managing Director Woven Capital, Ro Gupta, mengatakan kepada TechCrunch bahwa beberapa faktor mendorong adopsi robot AI pekerja yang signifikan di Jepang. Antara lain krisis kelangkaan tenaga kerja akibat tekanan demografis, kekuatan industri yang mendalam di bidang mekatronika, dan rantai pasokan perangkat keras.

"AI fisik dibeli sebagai alat untuk menjaga keberlangsungan operasional, bagaimana menjaga agar pabrik, gudang, infrastruktur, dan operasi layanan tetap berjalan dengan jumlah karyawan yang lebih sedikit," kata Hogil Doh, mitra umum Global Brain.

"Dari apa yang saya lihat, kekurangan tenaga kerja adalah pendorong utamanya," ia menambahkan.

Penyusutan demografis di Jepang mengalami percepatan. Penurunan populasi sudah terjadi dalam 14 tahun berturut-turut di 2024. Usia pekerja hanya berkontribusi terhadap 59,6% dari total populasi.

Angka itu diproyeksikan akan menyusut hampir 15 juta dalam 20 tahun ke depan, menueur Doh. Hal ini telah mengubah cara operasional perusahaan. Survei 2024 dari Reuters/Nikkei menemukan kelangkaan tenaga kerja menjadi pendorong utama para perusahaan mengadopsi AI.

"Pendorongnya telah bergeser dari efisiensi sederhana ke kelangsungan hidup industri," kata Sho Yamanaka, seorang kepala di Salesforce Ventures, dalam sebuah wawancara dengan TechCrunch, dikutip Selasa (7/4/2026).

"Jepang menghadapi kendala pasokan fisik di mana layanan penting tidak dapat dipertahankan karena kekurangan tenaga kerja. Mengingat menyusutnya populasi usia kerja, AI fisik merupakan masalah mendesak nasional untuk mempertahankan standar industri dan layanan sosial," ia menambahkan.

Menurut CEO dan salah satu pendiri Mujin, Issei Takino, Jepang meningkatkan upaya untuk memajukan otomatisasi di seluruh sektor manufaktur dan logistik. Pemerintah telah mempromosikan otomatisasi untuk mengatasi tantangan struktural seperti kekurangan tenaga kerja.

Mujin, sebuah perusahaan Jepang, telah mengembangkan perangkat lunak yang memungkinkan robot industri menangani tugas pengambilan dan logistik secara otonom. Pendekatan Mujin berpusat pada perangkat lunak, khususnya platform kontrol robotika, yang memungkinkan perangkat keras yang ada untuk beroperasi lebih otonom dan efisien, kata Takino.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Karyawan Bank Terancam PHK Massal, Ini Penyebabnya


Most Popular
Features