Polusi Meledak Akibat Data Center AI, Setara Emisi Satu Negara
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan data center kecerdasan buatan (AI) ternyata menyimpan ancaman besar bagi iklim bumi. Menurut analisis terbaru, pembangunan fasilitas ini dapat menghapus seluruh capaian pengurangan emisi gas rumah kaca Amerika Serikat selama 15 tahun terakhir pada tahun 2030. Polusi yang dihasilkan bahkan setara dengan total emisi gas rumah kaca Meksiko.
Berdasarkan kajian yang dirilis organisasi lingkungan hidup Sierra Club dan dilaporkan oleh Bloomberg, permintaan daya listrik dari pusat data AI dapat mendorong emisi karbon sektor kelistrikan Amerika Serikat mencapai 2,1 miliar ton pada tahun 2030, naik sekitar 42 persen dibanding 2025. Lonjakan ini diperkirakan sama besarnya dengan seluruh pengurangan emisi yang berhasil dicapai selama 15 tahun terakhir.
Sumber utama kenaikan ini bukan hanya dari jaringan listrik umum. Banyak pengembang data center membangun pembangkit listrik sendiri di luar jaringan, yang sebagian besar mengandalkan turbin gas alam. Hanya dari pembangkitan mandiri ini, emisi dapat mencapai 460 juta ton karbon dioksida per tahun pada tahun 2030.
Angka ini hampir sama dengan total emisi seluruh negara Meksiko dalam satu tahun, menurut laporan yang juga dikutip Detroit News.
Alasan pembangunan pembangkit listrik mandiri berkaitan dengan lambatnya proses penyambungan ke jaringan listrik nasional yang dapat memakan waktu bertahun-tahun. Agar dapat beroperasi secepat mungkin, perusahaan teknologi memilih jalur sendiri yaitu membangun turbin gas langsung di lokasi data center.
Akibatnya, emisi yang dihasilkan sering kali berada di luar pengawasan peraturan emisi yang berlaku bagi jaringan listrik umum.
Bahkan data center yang terhubung ke jaringan pun menambah beban. Diperkirakan pada tahun 2030, emisi dari konsumsi listrik pusat data yang terhubung ke jaringan dapat menambah sekitar 154 juta ton karbon dioksida, naik 10 persen di atas perkiraan dasar, menurut analisis Sierra Club.
Beberapa negara mulai menyusun aturan untuk mengantisipasi lonjakan polusi akibat data center. Irlandia, misalnya, mewajibkan pusat data baru menggunakan 80 persen energi dari sumber terbarukan. Aturan ini diberlakukan secara bertahap selama enam tahun.
Para pengamat mengingatkan, laju pembangunan saat ini jauh lebih cepat daripada masa penyesuaian tersebut, sehingga banyak fasilitas dapat beroperasi sepenuhnya sebelum kewajiban energi bersih mulai berlaku.
Para ahli menegaskan, solusinya bukan sekadar menambah aturan, melainkan memastikan setiap data cebter baru disertai penambahan kapasitas energi bersih yang benar-benar baru, bukan sekadar mengambil dari pasokan yang sudah ada. Tanpa prinsip "tambahan nyata" ini, permintaan daya yang melonjak hanya akan menambah beban pembangkitan bahan bakar fosil.
Perlu ditegaskan bahwa angka-angka ini adalah proyeksi skenario terburuk, bukan kepastian. Keterlambatan pasokan peralatan, pembatalan proyek, maupun perubahan kebijakan dapat menurunkan angka tersebut. Namun dorongan untuk membangun secepatnya tetap ada, dan struktur insentif yang mendorong pemilihan bahan bakar fosil belum berubah.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]