PBB Peringatkan Dunia Dalam Bahaya, Semua Orang Kena Dampaknya

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
31 October 2026 14:30
Infografis/ Bahaya Mengintai RI! Risiko Kabut Asap ASEAN Naik ke Level Tertinggi/ Ilham Restu
Foto: Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Peningkatan suhu terus terjadi di Bumi. Hal ini disebabkan oleh tingkat gas rumah kaca yang terus mengalami peningkatan dan mencatatkan rekor baru.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB dalam buletin terbarunya mengumumkan peningkatan gas rumah kaca yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2025. Konsentrasi CO2 permukaan rata-rata mencapai 426,8 bagian per juta (parts per million/ppm); metana sebesar 1.948 bagian per miliar; dan dinitrogen oksida pada angka 339,1 bagian per miliar.

Nilai tersebut masing-masing setara dengan 153%, 267%, dan 126% dari tingkat pra-industri sebelum tahun 1750.

"Satu tahun lagi, satu rekor baru," kata Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett, dikutip dari France 24, Sabtu (31/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa gas rumah kaca memerangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer. Menurutnya, kondisi ini menyediakan energi bagi cuaca ekstrem serta memicu risiko terhadap perekonomian dan masyarakat.

Bahkan, tren peningkatan suhu panas yang terjadi selama 11 tahun terakhir kemungkinan besar akan terus berlanjut.

"Karbon dioksida memiliki masa hidup yang sangat panjang, sehingga akan berdampak pada iklim global bukan hanya selama bertahun-tahun, melainkan hingga beberapa dekade dan bahkan berabad-abad," ucapnya.

Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa konsentrasi rata-rata global CO2 dari tahun 2024 ke 2025 meningkat sebesar 2,8 ppm. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan lonjakan pada setahun sebelumnya yang mencapai 3,6 ppm.

Fenomena ini, menurut pejabat ilmiah senior WMO, Oksana Tarasova, mencerminkan pemulihan penyerapan karbon di darat, termasuk adanya pengurangan emisi karbon dari kebakaran hutan pada 2025 setelah periode El Niño kuat tahun 2023-2024.

Meski begitu, peningkatan yang terjadi pada 2024-2025 tetap didominasi oleh pembakaran bahan bakar fosil.

"Peningkatan tahunan sebesar 2,8 ppm masih menjadi penambahan karbon yang signifikan ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil," kata Tarasova.

Metana, yang memiliki masa hidup lebih pendek dibandingkan CO2, menyumbangkan 16% dari efek pemanasan iklim akibat gas rumah kaca.

Sepertiga dari gas yang dilepaskan berasal dari sumber alami, seperti lahan basah. Sementara itu, sisanya berasal dari sumber antropogenik, seperti peternakan, pertanian padi, tempat pembuangan sampah, dan pembakaran biomassa.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bumi Menuju Kiamat Makin Cepat, Situasinya Sudah Sangat Genting


Most Popular
Features