Bumi Menuju Kiamat Makin Cepat, Situasinya Sudah Sangat Genting
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanasan bumi yang terjadi akibat aktivitas manusia kini bergerak jauh lebih cepat dibanding dekade-dekade sebelumnya. Temuan baru ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan sekadar berjalan lambat, melainkan makin dipercepat, dan berpotensi menembus batas aman yang disepakati dunia jauh lebih awal dari perkiraan.
Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Geophysical Research Letters menunjukkan bahwa laju kenaikan suhu rata-rata dunia hampir berlipat ganda dalam sepuluh tahun terakhir. Penelitian yang dipimpin ilmuwan Stefan Rahmstorf dan ahli statistik Grant Foster ini menganalisis lima kumpulan data suhu global resmi, lalu memisahkan pengaruh faktor alam seperti siklus El Niño, aktivitas matahari, serta letusan gunung berapi agar tren jangka panjang terlihat lebih jelas.
Hasilnya menunjukkan, pada rentang 1970 hingga 2015, suhu dunia rata-rata naik sekitar 0,2 derajat Celcius setiap dekade. Namun dalam kurun 2015 hingga 2025, laju itu melonjak menjadi 0,35 derajat Celcius per 10 tahun, dengan tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen. Ini menjadi bukti pertama yang kuat bahwa pemanasan tidak hanya terjadi, tapi berlangsung makin kencang.
"Kami menyaring pengaruh alami yang diketahui dari data pengamatan sehingga gangguan berkurang dan sinyal pemanasan jangka panjang yang sesungguhnya makin terlihat jelas," ujar Grant Foster dalam keterangan persnya, dikutip dari laporan yang dimuat situs Futurism (4/8/2026).
Rahmstorf memperingatkan bahwa jika laju pemanasan 10 tahun terakhir terus berlanjut, batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celcius dari masa pra-industri yang disepakati dalam Perjanjian Paris akan terlewati sebelum tahun 2030. Batas ini dianggap sangat penting karena jika dilewati, risiko cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, dan naiknya permukaan air laut akan meningkat secara drastis dan berdampak luas bagi kehidupan manusia serta ekosistem.
"Seberapa cepat bumi akan terus memanas pada akhirnya bergantung pada seberapa cepat kita menurunkan emisi karbon dari bahan bakar fosil hingga mencapai nol," tegasnya.
Kenaikan suhu yang makin cepat ini sudah terasa dampaknya di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang kerap mengalami gelombang panas lebih lama, curah hujan yang tidak menentu, hingga risiko gagal panen dan banjir yang lebih sering terjadi. Para ilmuwan menegaskan, data ini menjadi sinyal keras bagi seluruh negara untuk segera mempercepat transisi energi dan memangkas emisi secara signifikan, bukan sekadar janji di atas kertas.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]