Ketemu di Kalimantan, 3 Jangkrik Tanpa Sayap Dipamerkan di Singapura

Redaksi,  CNBC Indonesia
30 October 2026 19:50
Jangkrik Paradiestrammena aquilina. (Dok. Zhu & Tan)
Foto: Jangkrik Paradiestrammena aquilina. (Dok. Zhu & Tan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga spesies jangkrik tanpa sayap yang sebelumnya belum tercatat ilmuwan ditemukan di hutan hujan Kalimantan. Spesimen-serangga baru ini kini disimpan di Koleksi Referensi Zoologi Museum Sejarah Alam Nasional Lee Kong Chian, Singapura, sekaligus menjadi bukti kekayaan hayati yang masih tersembunyi di jantung hutan tropis Asia Tenggara.

Peneliti Qi Zhu dan Ming Kai Tan mengidentifikasi ketiga spesies tersebut dari spesimen yang dikumpulkan di Sarawak dan Sabah, bagian Malaysia dari pulau Kalimantan. Ketiganya masuk ke dalam kelompok jangkrik unta atau jangkrik gua yang tidak bersayap, dengan nama ilmiah Paradiestrammena cordata, Paradiestrammena aquilina, dan Paradiestrammena sabahensis.

Spesies pertama, P. cordata, ditemukan di dekat Bau, Sarawak. Namanya diambil dari bentuk alat kelamin jantannya yang menyerupai bentuk jantung, berwarna cokelat kekuningan polos tanpa corak. Panjang tubuh jantan sekitar 8,65 milimeter.

Lalu P. aquilina ditemukan di Sepilok, Sabah, di bawah batang kayu yang membusuk. Bentuk alat kelaminnya digambarkan menyerupai elang yang sedang melebarkan sayap, sehingga namanya merujuk pada kata "elang" dalam bahasa Latin. Tubuhnya bercorak cokelat dan hitam, jantan berukuran 8,10 hingga 8,85 milimeter. Pengamatan di alam menunjukkan hewan ini hidup berkelompok di tanah berlempung, seringkali di lereng bukit di bawah rimbunan hutan.

Terakhir, P. sabahensis, merupakan yang terbesar di antara ketiganya. Ditemukan di Cekungan Maliau pada ketinggian 646 meter di atas permukaan laut, panjang tubuh jantan mencapai 11,8 milimeter dan betina 10,8 milimeter. Bentuknya mirip dengan P. aquilina, tetapi ukurannya lebih besar dan bagian alat kelaminnya berbentuk segitiga yang khas.

Genus Paradiestrammena sendiri memiliki sejarah penamaan yang panjang dan berubah-ubah sejak pertama kali didirikan pada tahun 1919. Selama puluhan tahun, para ahli saling memindahkan nama spesies ke kelompok lain dan kembali, sehingga penemuan tiga spesies baru ini sekaligus melengkapi dan memperjelas peta hubungan kekerabatannya.

Kini, diketahui ada 16 spesies dalam kelompok ini, yang tersebar di wilayah Asia Tenggara, bagian selatan China, hingga Jepang.

Spesimen asli dari ketiga penemuan ini disimpan di dua tempat. Sebagian di Pusat Penelitian Hutan di Sepilok, Sabah, dan sebagian lagi di Koleksi Referensi Zoologi di Singapura. Hal ini memastikan setiap peneliti dari manapun di dunia dapat membandingkan temuan mereka dengan bukti asli tersebut.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BRIN Temukan Spesies Ikan Baru di Perairan Jawa, Ini Lokasinya


Most Popular
Features