Matahari Terus Menyala Selama 4,6 Miliar Tahun, Terungkap Rahasianya

Wiji Nur Hayat,  CNBC Indonesia
24 October 2026 17:15
Ilustrasi Badai Matahari. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Badai Matahari. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama kurang lebih 4,6 miliar tahun, Matahari telah menjadi pusat tata surya kita yang menjaga stabilitas orbit planet-planet di sekelilingnya. Bintang raksasa ini terus bersinar terang tanpa henti, memancarkan energi yang menjaga suhu Bumi tetap layak huni sekaligus menjadi sumber kehidupan.

Namun, pernahkah kita menyadari bahwa Matahari sebenarnya tidak "terbakar" seperti api yang kita kenal di Bumi?

Peneliti Ahli Madya, Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rasdewita Kesumaningrum, mengungkapkan, mempelajari karakteristik Matahari bukan sekadar pemenuhan rasa ingin tahu di ranah sains, melainkan kebutuhan strategis, karena dinamika pusat tata surya ini memiliki implikasi langsung terhadap ekosistem global.

"Matahari berguna sebagai energi terbarukan, dan juga memengaruhi iklim karena energi Matahari mengatur suhu Bumi, sirkulasi atmosfer dan samudra, serta pola cuaca jangka panjang. Maka dari itu, mempelajari Matahari tidak hanya penting bagi ilmu sains, tapi juga bagi kehidupan sehari-hari dan keselamatan operasional antariksa," ujar Rasdewita, dalam Pelatihan Dasar Space Situational Awareness, Selasa lalu dikutip Sabtu (24/10/2026).

Reaktor Plasma di Jantung Tata Surya

Kunci utama dari panjangnya umur Matahari bermula dari wujud dan komposisi penyusunannya. Bintang raksasa ini bukanlah sebuah bola padat, melainkan bentukan gas atau plasma.

Di dalam lingkungan Matahari, suhu, dan tekanan ekstrem melucuti elektron dari atom-atom netral, menyisakan lautan ion (proton) dan elektron bebas yang beringas dalam wujud plasma. Jika ditelaah dari massanya, sekitar 73 hingga 74 persen wujud Matahari didominasi oleh unsur Hidrogen (H) yang bertindak sebagai bahan bakar paling utama. Sementara itu, 24 hingga 25 persen lainnya adalah gas Helium (He), sebuah hasil sisa dari pembakaran kosmik tersebut.

"Karena ilmuwan di Bumi tidak bisa begitu saja terbang dan mengambil sampel dari sana, rahasia besarnya cadangan bahan bakar ini terkuak melalui pengamatan atas spektrum cahaya yang dipancarkannya," jelas Rasdewita.

Ibarat sebuah "sidik jari" pada panjang gelombang tertentu, garis spektrum itu menyingkap keberadaan unsur-unsur yang lebih berat. Unsur-unsur yang kerap menyusun 1 hingga 2 persen dari total massa Matahari, yang di antaranya mencakup oksigen, karbon, besi, nitrogen, hingga silikon.

Berbekal lautan gas hidrogen yang melimpah ruah, kelestarian energi Matahari digerakkan oleh sebuah proses dahsyat di lapisan paling dalamnya, yaitu Inti (Core). Di ruang pusat inilah suhu bergolak hebat hingga menyentuh angka 15 juta derajat Celcius. Kondisi super panas ini memicu keseimbangan yang dinamis, gaya gravitasi raksasa terus-menerus menarik plasma ke dalam. Sementara ledakan fusi mendorong tekanannya berbalik ke luar.

A child walks beside beach cabins on a pebbled beach, during sunset as a heatwave hits France, in Cayeux-sur-Mer, France, June 29, 2019. REUTERS/Pascal Rossignol     TPX IMAGES OF THE DAYA child walks beside beach cabins on a pebbled beach, during sunset as a heatwave hits France, in Cayeux-sur-Mer, France, June 29, 2019. REUTERS/Pascal Rossignol TPX IMAGES OF THE DAY Foto: Seorang anak berjalan di samping kabin pantai di pantai berkerikil, saat matahari terbenam saat gelombang panas menghantam Prancis, di Cayeux-sur-Mer, Prancis, 29 Juni 2019. REUTERS / Pascal Rossignol

Di tengah impitan tak terbayangkan ini, empat atom hidrogen dipaksa saling berbenturan lalu melebur menjadi satu atom helium. Reaksi penggabungan inilah yang melahirkan fusi nuklir.

Menariknya, dari peleburan tersebut selalu ada selisih massa yang lenyap sebesar 0.029 unit. Massa yang seolah hilang ini nyatanya tidak musnah, melainkan meledak dan berubah bentuk menjadi energi murni serta partikel neutrino. Reaksi rantai fusi nuklir yang ditopang melimpahnya cadangan hidrogen inilah yang menjadi jawaban pasti mengapa Matahari mampu terus menyala stabil dan tidak meredup sedikitpun selama 4,6 miliar tahun lamanya.

Hebatnya lagi, energi rintisan ini tidak langsung melesat membelah ruang angkasa. Foton energi harus bersusah payah menembus lapisan Zona Radiatif yang sangat padat, memantul tak tentu arah hingga memakan waktu jutaan tahun lamanya hanya untuk bisa lolos. Begitu berhasil membebaskan diri, energi ini menumpang arus plasma panas di lapisan Zona Konvektif yang menggelegak perlahan naik menuju permukaan atau Fotosfer.

Setibanya di Fotosfer bersuhu 5.500°C, energi dari bagian dalam Matahari ini akhirnya dilepaskan ke hamparan tata surya dalam wujud cahaya tampak dan radiasi panas yang menghidupi Bumi.

Diperkirakan Terus Menyala Miliaran Tahun Ke Depan

Kunci utama mengapa Matahari bisa bertahan selama miliaran tahun dan diperkirakan akan terus menyala hingga miliaran tahun ke depan, terletak pada skala massanya yang luar biasa masif dan keseimbangan gaya fisika yang sempurna. Dengan massa sekitar 333.000 kali lipat massa Bumi, Matahari memiliki pasokan hidrogen di bagian inti yang seakan tak ada habisnya.

Setiap detiknya, reaktor alami ini terus membakar hidrogen menjadi energi tanpa henti. Ledakan energi beruntun dari dalam inti ini menciptakan tekanan kuat yang secara konsisten mendorong plasma ke arah luar. Di saat bersamaan, massa Matahari yang raksasa menghasilkan gaya gravitasi ekstrem yang terus menekan bola plasma ke arah dalam.

"Tarik tambang" kosmik antara tekanan fusi yang meledak keluar dan tarikan gravitasi yang menekan ke dalam inilah yang menciptakan sebuah keseimbangan dinamis. Keseimbangan mutlak ini mencegah Matahari meledak hancur berserakan maupun runtuh mengerut ke dalam intinya sendiri. Selama pasokan bahan bakar hidrogen di jantungnya masih tersedia untuk direaksikan, mesin fusi nuklir ini akan terus beroperasi memancarkan kehangatan dan sinar terang yang tiada putus bagi tata surya.

"Pemahaman struktur Matahari menjadi dasar penting untuk memahami asal dan proses terjadinya aktivitas Matahari. Selanjutnya, pengetahuan ini diharapkan dapat mendukung pemantauan, analisis, dan kesiapsiagaan terhadap cuaca antariksa. Pembelajaran ini menjadi fondasi guna membangun konsep yang sepaham antara personel operasional, pengamat Matahari, dan analis cuaca antariksa," pungkas Rasdewita

(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Peneliti BRIN "Kuliti" Fakta-Fakta Matahari: Warna Asli-Sisa Umur


Most Popular
Features