Roket China yang Jatuh di Kalimantan Bertebaran Sampai Amerika

Redaksi,  CNBC Indonesia
22 October 2026 19:40
Kantor Sheriff Stevens County menerima panggilan telepon mengenai sisa-sisa luar negeri yang ditemukan di sawah jagung di Scott Township yang dirilis 14 Oktober 2026. (Facebook/StevensCountySheriffsOffice)
Foto: Kantor Sheriff Stevens County menerima panggilan telepon mengenai sisa-sisa luar negeri yang ditemukan di sawah jagung di Scott Township yang dirilis 14 Oktober 2026. (Facebook/StevensCountySheriffsOffice)

Jakarta, CNBC Indonesia - Potongan besar roket buatan China jatuh di ladang jagung di negara bagian Minnesota, Amerika Serikat. Benda logam raksasa itu dikonfirmasi sebagai bagian dari wahana peluncur Zhuque-2E yang lepas landas dari Gurun Gobi untuk mengirimkan satelit ke orbit, lalu kembali jatuh ke Bumi, dikutip Kamis (22/10/2026).

Kejadian ini bermula saat warga di Kabupaten Stevens, Minnesota, melaporkan benda logam besar yang menancap di ladang jagung milik mereka. Benda itu berdiameter sekitar 3,4 meter dan terlihat jelas berasal dari luar angkasa. Pihak kepolisian segera berkoordinasi dengan lembaga federal untuk mengidentifikasi serta mengangkat benda tersebut dari lokasi.

Penelusuran mengarah pada roket Zhuque-2E milik perusahaan LandSpace yang diluncurkan baru-baru ini. Roket tersebut berhasil melepaskan sepuluh satelit ke orbit, namun bagian tubuhnya tidak terbakar habis saat kembali masuk atmosfer. Benda itu terlihat membara di langit Kansas dan Minnesota sebelum akhirnya mendarat di ladang tersebut.

Bertebaran di Seluruh Dunia, Termasuk Indonesia

Kejadian ini menambah daftar panjang puing-puing peluncuran yang jatuh ke permukiman. Sebelumnya, potongan serupa juga dilaporkan ditemukan di wilayah Kalimantan dan beberapa daerah lain di Indonesia, serta di Kanada dan Australia. Benda misterius berupa logam berukuran besar ditemukan di kawasan perkebunan kelapa sawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Teka-teki soal logam ini mulai menemukan titik terang.

Hasil analisis lintasan orbit menunjukkan benda tersebut diduga kuat merupakan sampah antariksa dari bekas roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) asal China yang memasuki kembali atmosfer Bumi pada Minggu (18/10/2026).

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa identifikasi awal dilakukan dengan menelusuri data orbit benda antariksa yang diperkirakan melintas di wilayah Kalimantan pada waktu kejadian.

Misteri benda logam berukuran besar yang ditemukan diduga kuat merupakan sampah antariksa dari bekas roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) asal China yang memasuki kembali atmosfer Bumi di kawasan perkebunan kelapa sawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Minggu (18/10/2026). (Dok. BRIN)Foto: Misteri benda logam berukuran besar yang ditemukan diduga kuat merupakan sampah antariksa dari bekas roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) asal China yang memasuki kembali atmosfer Bumi di kawasan perkebunan kelapa sawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Minggu (18/10/2026). (Dok. BRIN)

Berdasarkan informasi yang diperoleh, warga sebelumnya mendengar suara gemuruh dari langit pada Minggu (18/10) sekitar pukul 17.30 WIB. Keesokan paginya, pekerja perkebunan menemukan kepingan logam besar dengan kondisi terkoyak di kawasan perkebunan sawit.

Setelah dilakukan penelusuran, diketahui bahwa lintasan orbit bekas roket ZhuQue-2E bergerak dari arah utara menuju selatan melintasi wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026.

Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasan orbit benda tersebut berada di sekitar Sampit, berdekatan dengan waktu terdengarnya suara gemuruh yang dilaporkan warga.

"Berdasarkan data orbit yang kami telusuri, bekas roket ZhuQue-2E melintas dari arah utara ke selatan di atas wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026. Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada di sekitar Sampit," jelas Thomas dikutip dari keterangan resmi, Selasa (20/10/2026).

ZhuQue-2E merupakan roket peluncur satelit yang dikembangkan perusahaan antariksa komersial China, LandSpace. Roket tersebut menggunakan bahan bakar metana cair dan oksigen cair, yang dikenal sebagai teknologi propulsi liquid oxygen-liquid methane atau methalox. Teknologi ini menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan industri antariksa untuk meningkatkan efisiensi sistem peluncuran.

ZhuQue-2E memiliki dua tingkat roket dan merupakan versi pengembangan dari keluarga ZhuQue-2. Roket ini dirancang untuk membawa satelit ke orbit rendah Bumi maupun orbit sinkron Matahari.

Berdasarkan informasi peluncuran yang dipublikasikan Xinhua, roket ZhuQue-2E Y4 diluncurkan dari kawasan peluncuran Dongfeng di China pada 14 Oktober 2026 dengan membawa sepuluh satelit. Misi peluncuran tersebut dinyatakan berhasil setelah seluruh satelit ditempatkan pada orbit yang telah ditentukan.

Roket Makin Sering Berjatuhan

Thomas menjelaskan, sampah antariksa merupakan benda buatan manusia yang berada di ruang angkasa dan sudah tidak lagi menjalankan fungsinya. Benda tersebut dapat berupa satelit yang tidak aktif, bagian roket, maupun pecahan komponen wahana antariksa.

Ketika benda antariksa memasuki kembali atmosfer, kecepatannya yang sangat tinggi menyebabkan pemanasan ekstrem akibat interaksi dengan udara. Sebagian besar material dapat terbakar, meleleh, atau terpecah menjadi bagian-bagian lebih kecil.

"Proses tersebut terkadang menghasilkan cahaya terang yang dapat terlihat dari permukaan Bumi, bahkan disertai suara dentuman atau gemuruh ketika terjadi gelombang kejut di atmosfer," ujar Thomas.

Makin seringnya peluncuran ke luar angkasa membuat risiko ini makin nyata. Meskipun belum ada korban jiwa akibat jatuhnya puing antariksa, para pengamat memperingatkan bahwa hal ini hanya masalah waktu.

Makin besar dan makin  kokoh wahana yang dikirim ke orbit, makin besar pula bagian yang mampu bertahan hingga mencapai permukaan tanah. Sebelumnya pada tahun 2024, komponen dari Stasiun Luar Angkasa Internasional menembus atap rumah di Florida saat keluarga sedang tidur.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BRIN Ungkap Identitas Roket China yang Jatuh di Kebun Sawit Kalimantan


Most Popular
Features