Heboh Asap Karhutla Disebut Sudah Sampai Jakarta, BMKG Buka Suara

Redaksi,  CNBC Indonesia
15 October 2026 15:25
Kualitas udara Jakarta pada Kamis (9/7/2026) pagi hingga siang hari berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 09.30 WIB tidak sehat bagi kelompok sensitif. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Kualitas udara Jakarta pada Kamis (9/7/2026) pagi hingga siang hari berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 09.30 WIB tidak sehat bagi kelompok sensitif. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi langit wilayah Jakarta pada hari ini, Kamis (15/10/2026), terpantau berkabut dan berubah warna menjadi abu-abu. Banyak netizen membagikan potret foto langit Jakarta di media sosial X dan beredar asumsi asap Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan sudah meluas ke Jakarta.

Merespons spekulasi yang beredar, Sekretaris Utama (Sestama) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menegaskan sebaran asap karhutla hingga saat ini belum terdeteksi mengarah ke wilayah Jakarta dan Jabodetabek.

"Jika Anda melihat langit keabu-abuan atau jarak pandang agak berkurang, lebih besar kemungkinannya berasal dari akumulasi polutan perkotaan, partikel debu halus (PM2.5), kelembapan udara, dan kondisi atmosfer yang stabil, bukan karena kiriman asap karhutla dalam skala besar," kata Guswanto melalui pesan singkat, Kamis (15/10/2026).

Sesuai dengan peringatan BMKG, Guswanto mengimbai agar masyarakat tidak langsung mengaitkan semua kabut di Jakarta dengan karhutla.

Beda Mendung dan Kabut Polusi

Lebih lanjut, Guswanto juga memperinci cara membedakan secara kasat mata cuaca mendung dengan kabut polusi. Dalam kondisi mendung, awan tampak jelas, matahari tertutup awan, udara biasanya terasa lebih sejuk, kemudian seringkali diikuti hujan.

Sementara itu, kabut polusi memiliki karakteristik langit tampak putih susu atau abu-abu, matahari masih terlihat tetapi redup dan silau kekuningan, jarak pandang jauh dan tampak buram, serta udara terasa tetap panas.

Dalam konteks cuaca Jakarta yang terasa panas dengan langit abu-abu dan buram, Guswanto menilai lebih mirip dengan karakteristik polusi atmosfer.

Imbauan BMKG

Jika kualitas udara sedang buruk, Guswanto mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Utamanya untuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma atau penyakit paru.

Pada platform resmi Udara Jakarta, kualitas udara Jakarta siang ini tercatat kategori 'Tidak Sehat' (ISPU 115) dengan anjuran mengurangi paparan polusi dan menggunakan masker terutama di area lalu lintas padat atau berdebu.

"Kalau Anda sering beraktivitas di luar Jakarta saat kondisi seperti sekarang, masker yang paling efektif untuk partikel PM2.5 adalah KN95, KF94, atau N95, karena masker kain biasa kurang efektif menyaring partikel halus polusi udara," pungkas Guswanto.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Asap Karhutla Kalimantan Disebut Sampai Pulau Jawa, Ini Kata BMKG


Most Popular
Features