Profesi Bergaji Tinggi Dikira Sudah Punah, Tiba-Tiba Banyak Dicari

Redaksi,  CNBC Indonesia
12 October 2026 14:15
Artificial Intelligence (AI). REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Foto: Artificial Intelligence (AI). REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Permintaan pekerjaan terkait pengembangan perangkat lunak (software development) mengalami kenaikan di Amerika Serikat (AS). Padahal, tahun lalu lowongan pekerjaan di bidang ini sempat merosot akibat masifnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI), bahkan sempat diramal bakal punah.

CNBC International melaporkan bahwa kekhawatiran terhadap penurunan lowongan kerja pengembang software ini sebelumnya muncul karena makin banyak perusahaan yang mengadopsi alat bantu pemrograman berbasis AI, yang kemampuannya kian canggih dari hari ke hari.

Platform pengembangan perangkat lunak milik Microsoft, GitHub, bahkan mencatat bahwa pada 2023 sekitar setengah dari proyek telah menggunakan kode buatan AI. Pada Oktober lalu, platform tersebut mengonfirmasi bahwa satu dari tiga pekerjaan untuk mengusulkan kode telah melibatkan AI.

"Jika kecepatan itu bertahan dalam dua tahun ke depan, sebagian besar kode yang diunggah ke GitHub akan ditulis oleh agen [AI]. Sebagian besar bahkan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya dibaca oleh manusia," ujar para pakar AI, dikutip Senin (12/10/2026).

Kendati demikian, para ahli melihat tren ini justru menjadi potensi bagi profesi tersebut untuk terus berkembang alih-alih punah. Hal ini sejalan dengan catatan Indeed Hiring Lab yang menyebutkan bahwa lowongan pekerjaan untuk pengembang perangkat lunak di AS justru meningkat hampir 15% sejak 2025.

Peningkatan ini dinilai oleh sejumlah pakar ekonomi sebagai cerminan pandangan yang optimistis terhadap adopsi AI di pasar kerja. Chairman McKinsey Amerika Utara, Eric Kutcher, menjelaskan bahwa kebutuhan akan profesi ini justru semakin membengkak seiring bertambahnya volume kode yang dibuat perusahaan untuk berbagai proyek mereka.

"Kita justru melihat pertumbuhan yang lebih besar di area yang sebelumnya kita perkirakan akan mengalami pergeseran terbesar akibat otomatisasi," ucap Kutcher.

McKinsey Global sebelumnya juga melaporkan bahwa penurunan jumlah pengembang perangkat lunak yang sempat terjadi bukan semata-mata disebabkan oleh AI. Faktor lain yang memicu penurunan tersebut adalah aksi korporasi perusahaan yang mengerem perekrutan setelah melakukan rekrutmen besar-besaran pada masa pandemi.

Meski begitu, tingkat permintaan saat ini masih berada di bawah level sebelum pandemi. Data Indeed Hiring Lab mencatat lowongan kerja untuk posisi tersebut berada di kisaran 27,5%, dengan dominasi peran senior mencapai 71% pada periode Mei 2025 hingga Mei 2026.

Data yang sama juga menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan yang secara khusus mencantumkan keahlian AI menyumbang 37% dari total peningkatan permintaan pekerjaan di bidang pengembangan software

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Lowongan Buka Besar-besaran Buat Karyawan Latih AI Penggantinya


Most Popular
Features