Harga Laptop Naik Gila-Gilaan Tahun Depan, Jualan Makin Susah

Redaksi,  CNBC Indonesia
12 October 2026 13:40
Calon pembeli melihat laptop yang dijual pada salah satu toko di Harco Mangga Dua, Jakarta, Selasa (25/6/2024).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Calon pembeli melihat laptop yang dijual pada salah satu toko di Harco Mangga Dua, Jakarta, Selasa (25/6/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar laptop global diproyeksikan bakal menghadapi ancaman serius pada 2027 mendatang. Jika sebelumnya industri komputer dihantam kelangkaan pasokan komponen, fokus ancaman kini bergeser ke lonjakan harga komponen yang berpotensi memukul daya beli konsumen.

Berdasarkan riset terbaru TrendForce, pengiriman laptop global pada 2027 diperkirakan terkoreksi (low-single-digit). Namun, jika harga komponen utama seperti CPU dan memori DRAM terus melambung tinggi, dampaknya bisa jauh lebih fatal.

Produsen kemungkinan terpaksa membebankan kenaikan biaya produksi ke harga jual eceran. Risikonya, pembeli bakal makin enggan mengganti laptop lama mereka, mendorong penurunan pengiriman sepanjang 2027 melonjak hingga ke kisaran high-single-digit (sekitar 7%-9%).

"Fokus pasar laptop pada 2027 akan bergeser dari ketersediaan komponen menjadi sejauh mana konsumen mampu menyerap harga yang lebih tinggi," tulis riset TrendForce, dikutip Senin (12/10/2027).

Komponen Inti Meroket, Margin Produsen Terjepit

Akar masalah lonjakan harga laptop ini bersumber dari meroketnya komponen inti. TrendForce mencatat bahwa pada kuartal III-2026, gabungan biaya CPU, DRAM, dan SSD sudah memakan porsi hingga 68% dari total Bill of Materials (BOM) sebuah laptop mainstream seharga US$900 (sekitar Rp16 jutaan).

Kondisi ini menempatkan para pemegang merek dalam dilema dan pilihan sulit. Jika menaikkan harga eceran, ada risiko besar pembeli kabur dan permintaan pasar drop drastis.

Jika terus-terusan menyerap kenaikan biaya, pabrikan laptop akan menghadapi tantangan karena terus menggerus margin keuntungan kotor hingga menipis. 

Kemudian, jika memangkas spesifikasi dengan mengurangi kapasitas RAM untuk menekan biaya BOM, daya saing akan menurun dan produk yang ditawarkan kehilangan daya tarik bagi konsumen.

Kondisi pasar diperparah oleh dinamika yang terjadi sepanjang 2026. Ketersediaan CPU yang sempat membaik serta aksi borong komponen di awal tahun memang sempat menopang angka pengiriman. Namun, TrendForce menegaskan hal itu bukan sinyal pemulihan riil pasar.

Sebagian besar permintaan penggantian unit di paruh kedua 2026 dan seterusnya sudah ditarik lebih awal (pull-forward). Akibatnya, momentum pembelian konsumen pada periode berikutnya dipastikan bakal makin lesu.

Ketika stok komponen murah terkuras habis, produsen langsung berhadapan dengan hantaman harga CPU, DRAM, dan SSD baru yang mahal.

Kabur dari China Malah Bikin Buntung

Tekanan biaya komponen yang melambung juga memaksa produsen menilai ulang strategi pemindahan pabrik ke luar China yang selama ini dilakukan untuk menghindari risiko geopolitik.

Biaya logistik, pengadaan, dan rantai pasok di lokasi manufaktur baru ternyata menguras dompet lebih dalam. Akibatnya, sejumlah produsen mulai mempertimbangkan untuk memboyong kembali kapasitas produksinya ke China demi mengejar efisiensi biaya dan kelengkapan rantai pasok.

TrendForce memproyeksikan porsi produksi laptop global di luar China bakal terus tergerus. Dari sekitar 24% pada 2025, turun ke 21% pada 2026, hingga berpotensi lengser ke bawah 20% pada 2027.

Pasokan Makin Tak Menentu

Kondisi pasar 2027 diprediksi makin rumit akibat pasokan komponen yang tidak merata. Pasokan DRAM PC diperkirakan tetap ketat dan berharga mahal karena produsen chip memprioritaskan kapasitas produksi (advanced-process) untuk server kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, kendala pasokan NAND Flash baru berpotensi mereda di paruh kedua 2027 seiring masuknya kapasitas baru.

Tak hanya memori, komponen pendukung lain seperti PCB, MLCC, hingga PMIC juga ikut tertekan akibat alokasi kapasitas dan harga bahan baku.

Kemampuan vendor laptop dalam mengombinasikan harga, spesifikasi, dan efisiensi rantai pasok akan menjadi kunci penentu apakah industri komputer mampu bertahan atau makin terpuruk di 2027.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Laptop Apple Paling Laku Tiba-Tiba Hilang, Naik Harga Gila-gilaan


Most Popular
Features