Teka-teki Puluhan Tahun Akhirnya Terjawab, Dunia Matematika Geger
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia matematika global tengah diguncang setelah OpenAI merilis lebih dari 350 temuan matematika yang dihasilkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara serentak pada Selasa (6/10/2026). Rilis tersebut memicu reaksi beragam dari kalangan matematikawan, mulai dari kekaguman hingga kekhawatiran soal masa depan disiplin ilmu ini.
Dikutip dari The New York Times, puluhan ribu halaman temuan yang dilepas OpenAI mencakup jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terbuka penting di hampir seluruh cabang matematika, termasuk aljabar, teori bilangan, ilmu komputer teoretis, logika matematika, dan topologi.
Temuan yang paling menyita perhatian adalah bukti atas "hipotesis kuasi-Riemann", sebuah konjektur yang berkaitan dengan Hipotesis Riemann, salah satu soal paling terkenal dalam daftar Millennium Prize Problems. Ketua Departemen Matematika Rutgers University, Alex Kontorovich, menilai bahwa capaian itu akan langsung diganjar Fields Medal, penghargaan tertinggi di bidang matematika, apabila dihasilkan manusia.
Meski demikian, tidak ada satu pun temuan yang sepenuhnya menyelesaikan lima Millennium Prize Problems yang tersisa. Namun, kumpulan hasil tersebut disebut memuat kemajuan terkait pada kelima soal itu.
Presiden Clay Mathematics Institute sekaligus matematikawan Oxford, Martin Bridson, menyebut rilis OpenAI tersebut menakjubkan. Menurutnya, belum lama ini mustahil membayangkan batas pengetahuan matematika bisa bergeser sejauh itu dalam satu hari.
Di balik kekaguman, sejumlah akademisi menyoroti persoalan verifikasi. Mantan Presiden American Mathematical Society, Bryna Kra, menilai hasilnya luar biasa, tetapi puluhan ribu halaman tersebut kini harus diperiksa dengan cermat. Ia menyoroti bahwa proses ini melewati mekanisme peer review yang selama ini menjadi standar verifikasi karya ilmiah.
Kra juga khawatir pola rilis semacam ini dapat merusak ekosistem riset yang justru memungkinkan lahirnya karya tersebut. Ia menilai matematikawan yang memanfaatkan perangkat AI berisiko kehilangan kendali atas ide-ide mereka sendiri.
Kekhawatiran soal akurasi bukan tanpa dasar. Hingga Kamis (8/10/2026), OpenAI telah memperbarui repositori daringnya dengan menarik tiga makalah dan memperbaiki beberapa lainnya. Juru bicara OpenAI menyatakan perusahaan akan segera mengoreksi kesalahan yang ditemukan dan menarik makalah bila tidak ada perbaikan yang memungkinkan, seraya menyebut proses ini bersifat iteratif layaknya naskah riset lain.
Profesor University of Virginia sekaligus matematikawan pendiri Axiom Math, Ken Ono, mengaku banyak koleganya merasa terpukul saat rilis tersebut muncul. Namun, ia menyebut perasaan itu dengan cepat berubah menjadi antusiasme dan tekad untuk membidik target yang lebih tinggi.
Sementara itu, matematikawan legendaris asal Prancis, Jean-Pierre Serre, yang baru genap berusia 100 tahun bulan lalu, mendapati salah satu temuan OpenAI membuktikan konjektur yang ia ajukan hampir 70 tahun silam. Peraih Fields Medal dan Abel Prize itu mengaku berada dalam posisi dilematis. Menurutnya, AI memperkaya kesenangan belajar, tetapi mengurangi kepuasan menemukan hal baru, dampak yang dinilainya paling serius bagi matematikawan muda.
Mahasiswa Doktoral Paling Terdampak
Gejolak ini dinilai paling dirasakan kalangan mahasiswa pascasarjana. Thomas Carlson, mahasiswa doktoral Montana State University, mempertanyakan bagaimana nilai gelar doktor matematika lulusan 2028 bisa dijaga setara dengan lulusan beberapa tahun sebelumnya.
Mahasiswa doktoral Northwestern University, Yuanning Zhang, menyebut perasaannya lebih menyerupai rasa pusing ketimbang penilaian. Ia menilai jika temuan-temuan tersebut terverifikasi, riset matematika berbantuan AI tampaknya mulai beroperasi dalam skala industri.
Di tengah perdebatan tersebut, beredar kabar bahwa OpenAI akan segera merilis gelombang temuan berikutnya.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]