OpenAI Rilis Model ChatGPT Baru, Makin Canggih dan Bikin Ngeri
Jakarta, CNBC Indonesia - OpenAI akhirnya resmi meluncurkan model-model baru GPT Live, setelah sebelumnya sempat ditunda karena ada hambatan regulasi dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Hambatan tersebut bersumber dari kekhawatiran bahwa perkembangan AI sudah terlalu cepat.
Adapun model baru yang dirilis adalah dua versi GPT Live. Pertama, GPT-Live-1 yang menjadi basis untuk layanan ChatGPT Voice bagi pelanggan paket Go, Plus, dan Pro. Selain itu, ada pula GPT-Live-1 Mini yang diperuntukkan bagi pengguna gratis.
Model-model ini juga akan tersedia dalam bentuk API alias Appication Programming Interface, yang memungkinkan pengembang mengintegrasikan model tersebut ke dalam aplikasi, situs web, atau sistem mereka sendiri.
GPT-Live yang merupakan generasi model AI berbasis suara (voice) terbaru, bertujuan membuat interaksi manusia dengan AI menjadi lebih natural, layaknya berinteraksi dengan manusia lain.
Peningkatan signifikannya tampak pada arsitektur yang membuat model ini bisa mendengar dan berbicara kepada pengguna secara simultan, mengurangi latensi, dan menciptakan pengalaman interaksi yang lebih natural bagi pengguna.
Ketika pengguna mengajak chatbot berbicara, model GPT-Live bisa mengutarakan frasa yang menunjukkan mimik natural, misalnya 'mhmmm'. Kemudian, model bisa terlibat dalam percakapan santai yang saling bersahutan dengan cepat, atau bahkan memberi pengguna lebih banyak waktu untuk berpikir tanpa menyela, dikutip dari The Deep View, Kamis (9/7/2026).
Selain itu, ketika pengguna meminta penalaran yang lebih mendalam, GPT-Live akan otomatis mengalihkan permintaan tersebut ke model lain, yaitu GPT 5.5. Proses penalaran GPT 5.5 berlangsung di latar belakang agar percakapan dengan pengguna secara natural tetap dapat berlanjut.
Sebagai contoh, dalam demonstrasi yang diperlihatkan kepada pers menjelang peluncurannya, model ini melakukan penerjemahan simultan secara real-time ke dalam bahasa Hindi saat presenter sedang berbicara, lalu menyuarakan hasil terjemahan bahasa Hindi yang lengkap.
Ini merupakan fitur unggulan yang benar-benar meningkat. Sebelumnya, saat sedang memroses informasi, model ini mengeluarkan suara "berpikir" yang tidak alami, sehingga menyebabkan jeda yang janggal dan mengharuskan pengguna menghentikan alur percakapan.
Menurut OpenAI, semua pembaruan ini membuat GPT-Live mengungguli Advanced Voice Mode, yakni teknologi sebelumnya yang diluncurkan bersama GPT-4o, baik dalam hal percakapan yang lebih disukai pengguna maupun dalam tolok ukur teknis, seperti penalaran ilmiah dan pencarian berbasis agen (agentic search).
Di saat AI bertransformasi dengan cepat dan canggih, ada beberapa hal yang masih menjadi masalah. Laporan dari Pew Research beberapa saat lalu menunjukkan bahwa warga AS kian agresif dan mulai kecanduan mengadopsi teknologi chatbot AI.
Lonjakannya terbilang ekstrem. Tercatat, hampir separuh atau sekitar 49% orang dewasa di Negeri Paman Sam mengaku telah menggunakan chatbot AI secara aktif. Angka ketergantungan ini melesat tajam jika dibandingkan dengan data tahun 2024 yang saat itu 'hanya' bertengger di level 33%.
Lebih detail terkait penggunaan chatbot AI, riset Pew Research menunjukkan mayoritas warga AS mengandalkan teknologi ini untuk memburu berbagai informasi (42%). Selain itu, sebanyak 38% responden memanfaatkannya untuk menyelesaikan tugas-tugas profesional terkait pekerjaan mereka.
Tak berhenti di situ, AI juga merambah sektor hiburan (25%), pembuatan atau pengeditan konten foto dan video (24%), hingga perolehan rekomendasi medis dan kesehatan (20%). Bahkan, panduan diet serta kebugaran (fitness) pun kini didelegasikan kepada kecerdasan buatan (20%).
Mirisnya, tak sedikit manusia yang mulai kehilangan interaksi sosial dan beralih menjadikan AI sebagai tempat bersandar. Laporan tersebut mengungkap fakta mengejutkan di mana 1 dari 10 responden di AS nekat memanfaatkan chatbot AI demi mendapatkan dukungan emosional (emotional support) sekaligus teman curhat.
Tingkat kecanduan ini kian mengkhawatirkan setelah 24% responden mengaku wajib menggunakan chatbot AI setiap hari, dengan 4% di antaranya terikat tanpa henti setiap saat.
Untuk urusan platform penguasa, ChatGPT besutan OpenAI masih memimpin peta persaingan global dengan pangsa pasar mencapai 44% di tahun ini, melonjak dari 34% pada dua tahun lalu.
Korban Kecanduan ChatGPT
Laporan Reuters beberapa saat lalu mengungkap fakta miris yang dialami pengguna ChatGPT dengan gangguan bipolar. Ia menilai interaksi dengan ChatGPT memperparah kondisi mentalnya.
Klaim mencenangkan disebutkannya setelah melakukan percakapan dengan ChatGPT tahun lalu menggunakan GPT 4-o. Dia mengaku episode manik pada dirinya memburuk hingga mengalami delusi berminggu-minggu hingga mencoba bunuh diri.
Lines dalam gugatan mengatakan telah menjelaskan pada ChatGPT dirinya tengah mengonsumsi obat untuk gangguan mental. Namun yang dilakukan chatbot adalah memvalidasi keyakinan Lines sebagai Yesus dan berpura-pura sebagai makhluk ilahi, bukan mengarahkan mendapatkan bantuan di dunia nyata.
Percakapan ini makin parah saat Lines mengungkapkan keinginan bunuh diri. Alih-alih mencegah, chatbot itu mendorongnya mengakhiri hidup.
"Ini saatnya Anda melangkah keluar, melepaskan diri dan membuang yang membebani Anda," kata chatbot.
Dalam gugatannya, Lines mengatakan OpenAI memiliki kurang perlindungan pada pengguna dengan penyakit mental. Produk chatbot itu dinilai berisiko pada mereka yang memiliki penyakit mental.
Lines juga menuntut ganti rugi dari gugatannya. Selain itu meminta adanya perintah untuk OpenAI menghentikan percakapan soal perilaku melukai diri dan berhenti memasarkan platform tanpa keamanan yang sesuai.
Pihak OpenAI tengah meninjau gugatan tersebut. Lebih lanjut, ChatGPT, disebut perusahaan diklaim telah dilatih untuk bisa mengenali tanda-tanda pengguna dengan gangguan mental.
Perusahaan menjanjikan ChatGPT bisa memberikan respon yang lebih kuat saat sensitif. Termasuk bekerja sama dengan pihak terkait.
"Kami melatih ChatGPT mengenali dan menanggapi tanda-tanda gangguan mental atau emosional, meredakan percakapan dan mengarahkan orang untuk mendapatkan dukungan di dunia nyata," jelas OpenAI.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]