Google Bawa Chip AI ke Luar Angkasa, Mau Bikin Data Center di Orbit

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
03 October 2026 22:00
SpaceX Starship dan pendorong Super Heavy v3 meluncur dalam penerbangan uji coba ke-14 dari kompleks peluncuran SpaceX di Starbase, Texas, AS, pada 28 September 2026. Misi ini diperkirakan akan membawa wahana tersebut ke orbit untuk pertama kalinya d
Foto: SpaceX Starship dan pendorong Super Heavy v3 meluncur dalam penerbangan uji coba ke-14 dari kompleks peluncuran SpaceX di Starbase, Texas, AS, pada 28 September 2026. Misi ini diperkirakan akan membawa wahana tersebut ke orbit untuk pertama kalinya dan meluncurkan 26 satelit Starlink V3. (REUTERS/Steve Nesius)

Jakarta, CNBC Indonesia - Google mulai menguji kemungkinan membangun pusat data di luar angkasa dengan meluncurkan satelit yang membawa chip kecerdasan buatan (AI) ke orbit. Satelit prototipe tersebut membawa empat chip AI milik Google yang disebut Tensor Processing Units (TPU). Satelit itu diluncurkan menggunakan roket SpaceX dari California pada Kamis waktu setempat, sekitar pukul 11.30 waktu lokal, bersama sejumlah muatan lainnya.

Peluncuran tersebut menjadi awal eksperimen selama sekitar satu tahun untuk mengetahui apakah chip TPU Google mampu bertahan dalam kondisi luar angkasa.

Proyek yang diberi nama Suncatcher itu menjadi bagian dari ambisi Google untuk membangun pusat data di orbit Bumi. Dalam skenario masa depan, Google membayangkan ribuan satelit yang saling terhubung dan menggunakan energi Matahari untuk menjalankan komputasi AI. Google merancang satelit prototipe tersebut bersama Planet Labs. Satelit itu ditenagai panel surya.

Ke depan, Google berharap dapat menggunakan satelit yang ditempatkan pada orbit sinkron Matahari atau sun-synchronous orbit, sehingga satelit tersebut dapat terus terpapar sinar Matahari. Panel surya yang digunakan untuk memasok energi bagi chip TPU diperkirakan dapat menghasilkan energi hingga delapan kali lebih besar dibandingkan panel surya yang dipasang di Bumi.

Pasalnya, pembangkit listrik tenaga surya di Bumi menghadapi keterbatasan berupa atmosfer, kondisi cuaca, serta malam hari yang membuat panel tidak dapat menerima sinar Matahari sepanjang waktu.

"Matahari adalah sumber energi terbesar di tata surya kita, jauh lebih besar dibandingkan sumber lainnya," kata Travis Beals, Senior Director of Paradigms of Intelligence, tim riset AI Google yang merupakan bagian dari Alphabet dilansir dari WSJ.

Google menjadi salah satu perusahaan pertama yang mengirimkan chip AI ke luar angkasa. Sejumlah perusahaan lain, termasuk SpaceX dan Blue Origin, juga tengah menyiapkan proyek serupa.

Konsep pusat data di luar angkasa dinilai dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu. Val Elbert, Global Leader untuk praktik teknologi, media dan telekomunikasi di Boston Consulting Group, mengatakan pemerintah misalnya dapat memanfaatkan pusat data tersebut untuk menyimpan data berdaulat.

Perusahaan juga dapat menggunakannya untuk memproses citra satelit secara real-time, sehingga pengolahan data yang dikumpulkan dari luar angkasa tidak harus selalu dikirim terlebih dahulu ke pusat data di Bumi.

Para pendukung konsep pusat data di orbit juga menyebut teknologi ini berpotensi menghindari sejumlah persoalan yang dihadapi pusat data di daratan. Beberapa di antaranya adalah penolakan dari masyarakat sekitar, keterbatasan lahan, serta keterbatasan sumber energi.

Namun, membangun pusat data di luar angkasa juga menghadapi sejumlah tantangan besar, mulai dari biaya hingga paparan radiasi. Google mengatakan chip AI dapat mengalami gaya hingga 100 kali gravitasi Bumi ketika roket diluncurkan. Kondisi tersebut berpotensi merusak chip.

Setelah berada di orbit, chip juga harus bertahan dari paparan sinar kosmik dan peristiwa Matahari atau solar events yang dapat memengaruhi perangkat elektronik.

Masalah lain adalah panas. John Abraham, profesor teknik mesin di University of St. Thomas, mengatakan chip AI menghasilkan energi panas ketika memproses permintaan komputasi. Persoalannya, sistem pendingin yang digunakan pada pusat data di Bumi tidak dapat diterapkan begitu saja di luar angkasa.

Pusat data di orbit nantinya harus menggunakan radiator untuk membuang panas. Perangkat tersebut mengubah panas menjadi gelombang cahaya inframerah yang kemudian dipancarkan ke ruang angkasa.

"Chip-chip ini juga bisa mengalami panas berlebih," kata Abraham.

Satelit prototipe Google sendiri berukuran kurang lebih sebesar kulkas. Namun, satelit generasi berikutnya diperkirakan akan membawa puluhan TPU dalam satu satelit. Skala panel surya dan radiator yang dibutuhkan pun akan jauh lebih besar dibandingkan ukuran chip AI yang dibawanya.

Sebagai gambaran, satu chip TPU hanya memiliki lebar beberapa inci. Sementara itu, radiator yang dibutuhkan oleh satelit generasi mendatang dapat memiliki ukuran sebesar pesawat Boeing 747, menurut Elbert.

Beals memperkirakan dibutuhkan sekitar 10.000 satelit untuk membangun satu pusat data berkapasitas 1 gigawatt di luar angkasa. Biayanya tentu menjadi persoalan besar. Elbert memperkirakan, saat ini membangun sekaligus meluncurkan pusat data berkapasitas 1 gigawatt di orbit akan membutuhkan biaya sekitar US$30 miliar atau sekitar Rp500 triliun jika menggunakan asumsi kurs Rp16.700/US$.

Menurut Elbert, kemajuan teknologi peluncuran roket pada akhirnya dapat menekan biaya tersebut. Namun, perkembangan itu diperkirakan tidak akan sepenuhnya menghilangkan selisih biaya dengan pusat data yang dibangun di Bumi.

"Persamaan biaya akan selalu menguntungkan pusat data yang berada di Bumi," kata Elbert.

Meski demikian, Beals mengatakan Google memperkirakan suatu saat pusat data di luar angkasa dapat dibangun dengan biaya yang setara dengan pusat data di Bumi. Namun, teknologi tersebut kemungkinan masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai tahap tersebut.

Untuk saat ini, Google masih menunggu hasil eksperimen terhadap empat TPU yang baru saja dikirim ke orbit. Beals mengatakan dibutuhkan waktu beberapa pekan untuk mengetahui apakah chip tersebut dapat bertahan tanpa mengalami kerusakan.

"Kami ingin melihat apakah perilaku di luar angkasa sesuai dengan apa yang kami lihat di Bumi," ujar Beals.

Google juga telah menyiapkan langkah berikutnya. Pada 2027, perusahaan berencana kembali meluncurkan lebih banyak TPU ke luar angkasa, kali ini menggunakan dua satelit yang saling terhubung.

Proyek Suncatcher Google tersebut masih berada pada tahap eksperimen. Perusahaan harus membuktikan terlebih dahulu bahwa chip AI dapat beroperasi dalam lingkungan luar angkasa dalam jangka panjang sebelum konsep pusat data orbital dengan ribuan satelit dapat diwujudkan.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Google Rupanya Pantau Kita 24 Jam Penuh, Buruan Setop Pakai Cara Ini


Most Popular
Features