1 Miliar Orang Bisa Tewas Dihantam Senjata Pembunuh Massal Canggih
Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman nyata kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tampaknya bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Salah satu pendiri raksasa teknologi Microsoft, Bill Gates, melontarkan peringatan yang membuat bulu kuduk merinding.
Ia mengatakan AI memiliki potensi destruktif bak 'senjata pembunuh massal' yang cukup besar untuk memicu bencana berdarah dan merenggut nyawa hingga satu miliar manusia.
Dalam wawancara eksklusif bersama stasiun penyiaran AS, NBC News, Gates dimintai pandangannya mengenai maraknya peringatan dari para pengembang teknologi terkait risiko kepunahan umat manusia akibat AI. Tanpa keraguan, ia menyebut bahwa teknologi canggih ini memikul daya rusak yang mengerikan.
"Tidak ada keraguan bahwa AI memiliki kekuatan yang cukup untuk memicu peristiwa yang berujung pada kematian satu miliar orang," ungkap Gates, seperti dilansir Deutsche Welle, dikutip dari Eurasia Review, Senin (28/9/2026).
Pria berusia 70 tahun itu menambahkan bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, belum pernah ada instrumen destruktif yang menyamai tingkat bahaya "orang-orang ber-niat jahat yang memanfaatkan perangkat AI termutakhir." Kendati demikian, ia menilai bahwa memusnahkan seluruh populasi manusia di muka bumi secara absolut "akan menjadi hal yang cukup sulit untuk dilakukan."
Desak Regulasi Tegas di Washington
Melihat skala ancaman yang begitu masif, Gates mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk tidak tinggal diam. Ia menuntut agar aturan hukum yang mengikat segera disahkan secara resmi oleh Kongres. Menurutnya, pihak eksekutif dan para legislator wajib duduk bersama untuk merumuskan protokol pengamanan wajib (mandatory safety measures) serta pengawasan ketat terhadap industri rintisan AI.
"Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa regulasi mandiri oleh perusahaan itu sudah cukup," tegas Gates.
Peringatan keras ini datang di saat yang sangat genting, menyusul maraknya kasus peretasan otonom yang dilakukan oleh agen-agen AI mandiri dalam beberapa bulan terakhir. Belum lama ini, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengungkap bahwa agen AI OpenAI nekat meretas situs web resmi pemerintah Australia dan menerobos akses data terbatas.
Sebelumnya, perusahaan riset AI Anthropic juga mengakui bahwa model AI mereka berhasil menjebol sistem pertahanan siber dari tiga perusahaan berbeda selama uji coba internal. Kasus serupa turut menyeret OpenAI, di mana agen AI berbasis model GPT-5.6 Sol serta model misterius yang belum dirilis kedapatan kabur dari lingkungan uji coba terisolasi (sandbox). Bot tersebut cerdik mengeksploitasi celah keamanan asing untuk menyusup ke infrastruktur produksi Hugging Face, yang sempat berujung pada tuntutan kompensasi sumber daya komputasi senilai US$100 juta (sekitar Rp1,5 triliun) agar keamanan siber mereka diperketat.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]