Bukan Tembok China, Ini Tujuan Wisata Baru di Tiongkok

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
28 September 2026 20:20
Robot humanoid Tiangong Ultra 2025 mendekati garis finis dari ajang Beijing E-Town Half Marathon dan Humanoid Robot Half Marathon kedua di Beijing, China, 19 April 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov)
Foto: Robot humanoid Tiangong Ultra 2025 mendekati garis finis dari ajang Beijing E-Town Half Marathon dan Humanoid Robot Half Marathon kedua di Beijing, China, 19 April 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov)

Jakarta, CNBC Indonesia - China kini menjadi tujuan bagi investor dan pengusaha asing yang ingin melihat langsung perkembangan teknologi dan manufaktur Negeri Tirai Bambu.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kemajuan China di bidang kecerdasan buatan (AI), robot humanoid, kendaraan listrik, baterai hingga manufaktur dengan teknologi tinggi.

Mereka bahkan rela membayar hingga US$15.000 atau sekitar Rp264 juta untuk mengikuti tur teknologi selama lima hari.

Sejumlah investor dan eksekutif asing mengikuti tur khusus ke pabrik-pabrik China untuk mempelajari teknologi dan proses produksi secara langsung. Tur tersebut mencakup sejumlah pusat industri seperti Beijing, Shenzhen, Shanghai, Hangzhou dan Hefei.

Robert Wu, CEO perusahaan riset data Baiguan yang berbasis di Shanghai, mengatakan minat tersebut menunjukkan perubahan cara dunia melihat China.

"Saat ini, orang-orang memandang China sebagai objek studi dan pembelajaran, sebuah tren yang hampir tidak ada beberapa tahun yang lalu," kata Wu dikutip dari Reuters, Jumat (25/9/2026).

Wu sendiri telah menggelar dua tur yang diikuti lebih dari 20 investor, pengusaha dan eksekutif. Biayanya mencapai US$15.000 untuk program lima hari, dengan sekitar separuh peserta berasal dari Asia Tenggara.

Tren ini juga mendorong munculnya bisnis khusus yang menawarkan akses langsung ke ekosistem inovasi China.

Glopen, agen tur teknologi berbasis di Shanghai, mencatat pertanyaan dari calon peserta melonjak 50% pada 2026, terutama dari klien Eropa dan Singapura. Perusahaan itu kini menggelar lebih dari 100 tur perusahaan setiap bulan.

Bertrand Chen, CEO Global Shipping Business Network, yang mengikuti tur teknologi robotika di China pada April lalu, mengatakan perkembangan tersebut sulit dipahami hanya dari luar.

"Anda tidak dapat memahami skala, kecepatan, dan wujud nyata inovasi China tanpa berdiri di lantai pabrik," ujarnya.

Pemerintah China turut mendorong wisata industri dengan menetapkan lebih dari 140 lokasi demonstrasi resmi. Sejumlah pabrik juga membuka kunjungan publik dengan tarif sekitar US$60.

Pabrik kendaraan listrik Xiaomi di Beijing, misalnya, telah menerima lebih dari 250.000 pengunjung sejak Maret 2024. Tingginya permintaan bahkan membuat slot kunjungan yang diperoleh melalui undian diperjualbelikan secara online hingga 2.000 yuan atau sekitar Rp 5,3 juta.

Meskipun data mengenai wisata teknologi masih terbatas, sektor pariwisata industri secara umum sedang berkembang pesat.

Menurut media pemerintah, sektor pariwisata industri China mencatatkan pendapatan sebesar US$17,8 miliar pada tahun lalu dan diproyeksikan akan melampaui angka 300 miliar yuan (US$44,6 miliar) pada tahun 2029.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Huawei Berdarah-Darah, Kekuatan China Lawan AS Terancam


Most Popular
Features