Huawei Berdarah-Darah, Kekuatan China Lawan AS Terancam

In,  CNBC Indonesia
04 September 2026 19:00
Huawei. (REUTERS/Wolfgang Rattay/File Photo)
Foto: REUTERS/Wolfgang Rattay

Jakarta, CNBC Indonesia - Huawei Technologies menghadapi tekanan finansial yang cukup berat di tengah ambisinya mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing sekaligus membentengi diri dari sanksi Amerika Serikat (AS). Raksasa teknologi asal China ini mencatat penurunan laba bersih hingga 36% pada semester I-2026.

Dihimpun dari Reuters, laba bersih Huawei selama periode Januari hingga Juni 2026 merosot ke angka 23,81 miliar yuan. Penurunan laba ini terjadi kendati roda pendapatan perusahaan masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 9,6% menjadi 467,82 miliar yuan.

Lonjakan Biaya Produksi dan Agresivitas R&D

Anjloknya profitabilitas Huawei dipicu oleh lonjakan biaya produksi yang melesat hingga 12,4%, melampaui laju pertumbuhan pendapatannya sendiri. Di sisi lain, Huawei juga jorjoran meningkatkan anggaran belanja penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D) hingga 25,2% menjadi 121,38 miliar yuan, yang porsinya memakan hampir 26% dari total pendapatan perusahaan.

Dana jumbo tersebut digelontorkan secara masif untuk mendanai pengembangan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor mandiri, teknologi komunikasi mutakhir, perangkat pintar, hingga ekosistem kendaraan otonom.

Langkah agresif ini merupakan pilar utama strategi Huawei dalam merakit kemandirian teknologi domestik pasca-embargo AS yang memutus akses mereka terhadap chip canggih dan sistem operasi Android.

Meski sempat babak belur akibat sanksi awal hingga pendapatannya anjlok 29% pada 2021, Huawei sempat menunjukkan kebangkitan dengan meraup pendapatan 880,9 miliar yuan (naik 2,2%) pada penutupan tahun 2025 lalu.

Tekanan Arus Kas dan Tumpukan Persediaan

Dampak dari ekspansi masif dan tekanan eksternal ini turut menjalar ke kondisi finansial jangka pendek perusahaan. Sepanjang semester I-2026, arus kas operasional Huawei tercatat negatif sebesar 39,88 miliar yuan, berbalik drastis dari posisi positif sebesar 31,18 miliar yuan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tidak hanya itu, nilai persediaan barang perusahaan juga membengkak tajam hingga 42% sejak akhir tahun 2025.

Menanggapi laporan keuangan tersebut, manajemen Huawei menyatakan bahwa kinerja paruh pertama ini masih sejalan dengan proyeksi internal perusahaan. Kendati demikian, pihak Huawei belum bersedia membeberkan proyeksi bisnis untuk setahun penuh menyusul tingginya ketidakpastian global dan lonjakan biaya input.

Selain tantangan rantai pasok dan finansial, Huawei juga masih harus menghadapi badai hukum di AS terkait tuduhan penipuan bank serta pelanggaran sanksi. Belum lama dari itu, kasus hukum terpisah yang melibatkan tuduhan pencurian rahasia dagang operator seluler T-Mobile dijadwalkan mulai disidangkan pada Oktober tahun depan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pengakuan Mengejutkan Bos Huawei, China Ternyata Diam-Diam Bantu Iran


Most Popular
Features