Sinkhole Pelan-Pelan Lahap Rumah Warga, Kondisinya Sudah Parah

Verda Nano,  CNBC Indonesia
27 September 2026 11:00
Sebuah tayangan drone menunjukkan gelombang kecil saat air pasang menghantam tebing batu pasir dan tangga akses pantai yang rusak dan ditutup di Encinitas, California, AS, 16 September 2026. REUTERS/Mike Blake
Foto: ./Mike Blake

Jakarta, CNBC Indonesia - Garis pantai California, Amerika Serikat, tengah menghadapi ancaman erosi parah akibat gelombang tinggi yang terus menghantam kawasan pesisir. Di wilayah Malibu, Samudra Pasifik memicu terbentuknya lubang amblesan (sinkhole) di dekat kediaman aktor ternama Nicolas Cage, serta menimbulkan kerusakan serius pada sejumlah properti mewah di tepi pantai.

Sementara itu, di sepanjang Beach Road, Dana Point, terjangan gelombang laut dilaporkan telah menghancurkan satu unit rumah warga. Pemerintah kota setempat pun terpaksa mengosongkan atau membatasi hunian di 16 rumah lainnya demi keselamatan.

Kerusakan masif di sejumlah wilayah California Selatan sepanjang musim panas ini dipicu serangkaian siklon dan badai di Samudra Pasifik Timur, yang kondisinya makin diperparah oleh kemunculan fenomena cuaca El Niño.

Meskipun badai-badai tersebut tidak menghantam daratan California secara langsung, gelombang raksasa yang dihasilkannya terus menerjang pesisir, mengikis jutaan ton pasir pantai, serta mengubah lanskap garis pantai yang selama ini menjadi ikon kawasan tersebut.

Ancaman Musim Dingin Ekstrem dan Kenaikan Air Laut

Para ahli memperingatkan bahwa gelombang yang jauh lebih dahsyat berpotensi menerjang dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi ini dipicu oleh siklus cuaca alami yang diperparah oleh perubahan iklim, yang datang bersamaan dengan puncak pasang air laut tertinggi.

"Segala kondisinya mengarah pada musim dingin yang sangat ekstrem dalam hal potensi bahaya," ujar Patrick Barnard, Direktur Penelitian di Center for Coastal Climate Resilience, University of California, Santa Cruz, dikutip dari Reuters.

Pemerintah California bahkan telah menetapkan status darurat lebih awal guna memobilisasi bantuan bencana serta menerjunkan tim tanggap darurat sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak lanjutan El Niño. Fenomena ini mulai terdeteksi sejak Juni dan diperkirakan mencapai kekuatan puncaknya hingga akhir 2026 serta berlanjut sampai awal 2027.

Sebagai catatan, permukaan air laut di California Selatan telah mengalami kenaikan antara 8 hingga 12 inci (sekitar 20 cm hingga 30 cm) dalam satu abad terakhir. Kehadiran El Niño yang kuat diprakirakan mampu mendongkrak permukaan laut untuk sementara waktu sebesar 6 hingga 12 inci lagi.

Situasi ini diperburuk oleh fenomena gelombang Kelvin bawah laut. Menurut Michael Jacox, seorang ahli oseanografi di badan cuaca AS National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), gelombang Kelvin besar pertama dari siklus El Niño ini diperkirakan akan mencapai pesisir California pada awal Oktober.

Dampak tersebut juga berisiko berbarengan dengan fenomena pasang laut ekstrem musiman (king tides) serta badai hujan dahsyat atau "sungai atmosfer" (atmospheric rivers) yang kerap memicu banjir pesisir dan abrasi tebing.

Pantai Lenyap Seketika, Manusia Jadi Pemicu Masalah

Dampak erosi ini terlihat jelas di Carlsbad, sebuah kota berpenduduk 112.000 jiwa yang terletak sekitar 35 mil (56 km) di utara San Diego. Pasir di Pantai Tamarack dilaporkan lenyap hampir dalam semalam. Padahal, pantai ini merupakan aset vital bagi perekonomian kota yang mengandalkan 14% anggaran operasionalnya dari pajak sektor pariwisata dan perhotelan.

Adam Young, seorang ahli geomorfologi pesisir dari Scripps Institution of Oceanography di UC San Diego, mengungkapkan bahwa dirinya harus memanjat tumpukan batu bulat besar (cobblestones) saat mengunjungi Tamarack-di lokasi yang dulunya merupakan hamparan pasir pantai yang luas. Tepat di sebelah selatannya, air laut bahkan telah menelan seluruh area pantai dan meluap hingga merendam area parkir kendaraan.

Menurut Young, meski pemerintah pusat maupun daerah dapat berupaya memperkuat struktur properti, menyuplai pasir buatan, atau membentuk gundukan pelindung, akar permasalahan utama bukan terletak pada alam semata.

"Penting untuk diingat bahwa erosi di garis pantai sudah berlangsung selama ribuan tahun. Ini adalah proses alami. Masalah sebenarnya adalah kita membangun berbagai hal yang menghalangi proses tersebut, serta mendirikan bangunan di pantai dan kawasan rawan bencana, dan itulah yang memicu masalah ini," pungkasnya.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Nepal Banjir Bandang, Ahli Warning Bom Air dari China Tunggu Meledak


Most Popular
Features