Bahaya di Pantura Jawa, Peringatan Tanda Bahaya Kondisi Genting

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
06 May 2026 13:35
Sejumlah anak bermain di Masjid Wal-Adhuna yang tenggelam belasan tahun lalu akibat banjir rob di Muara Baru, Jakarta, Selasa (25/10/2021). Proyeksi lembaga nirlaba, Climate Central mendeteksi sejumlah wilayah di kawasan Pantai Utara (Pantura), Jawa
Foto: Sejumlah anak bermain di Masjid Wal-Adhuna yang tenggelam belasan tahun lalu akibat banjir rob di Muara Baru, Jakarta, Selasa (25/10/2021). Proyeksi lembaga nirlaba, Climate Central mendeteksi sejumlah wilayah di kawasan Pantai Utara (Pantura), Jawa terancam tenggelam atau terendam air pasang laut. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti Pusat Riset dan Atmosfer Badan Roset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tubagus Solihuddin mengungkapkan tingkat abrasi yang tinggi di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa. Totalnya mencapai 65,8% pada kawasan yang terbentang dari Serang hingga Situbondo itu.

Temuan perubahan itu berasal dari Citra Satelit Sentinel periode 2000 hingga 2024. Selain laju erosi 65,8%, ditemukan pula penambahan daratan atau tingkat akresi hanya 34,2%.

Dia menjelaskan tingginya tekanan demografi menyebabkan pembangunan pemukiman dan pusat kegiatan ekonomi di Pantura. Pada akhirnya membuat ekstraksi sumber daya laut dan pesisir yang tidak terkontrol.

"Jadi, 84 persen Pantai Utara Jawa itu tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa itu masih unconsolidated. Masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan," jelas Tubagus dikutip dari laman resmi BRIN, Selasa (5/4/2026).

Kondisi ini makin diperparah dengan keadaan morfologis di Pantura. Di sana didominasi pantai dataran rendah dengan elevasi kurang dari 10 meter.

Tubagus juga menyoroti anomali erosi yang masif terjadi pada lingkungan delta yang secara alamiah adalah area sedimentasi. Kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas modifikasi di daerah hulu, seperti kanalisasi, pembelokan arah sungai dan pembangunan bendungan.

Modifikasi antropogenik terlihat di sejumlah titik. Misalnya pada daratan seluas 1,72 kilometer persegi di Tanjung Pontang, Serang, lenyap terkena erosi karena pembelokan aliran Sungai Ciujung Baru.

Sementara air laut masuk hingga 4 km di daratan Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi. Kondisi tersebut menenggelamkan infrastruktur publik secara permaneh dan merendam lebih dari 1.000 hektare tambak milik warga.

Temuan lainnya adalah kondisi penurunan muka tanah (land subsidence). Tubagus menjelaskan laju amblesan tanah tertinggi beerada di Demak sebanyak 16 cm per tahun, kemudian Jakarta (15 cm/tahun), Sidoarjo (14 cm/tahun), dan Pekalongan (11 cm/tahun), Surabaya (8 cm/tahun), Brebes (7 cm/tahun), serta Serang, Cirebon, dan Indramayu (masing-masing 6 cm/tahun).

Masalah ini, dia menjelaskan bersifat sistemik. Pemicunya termasuk alih fungsi lahan masif, termasuk 1.500 km persegi area terbangun dan 5.449 km persegi sawah, dan pembabatan magrove serta struktur penahajn ombak yang dibangun sporadis dan tidak terintegrasi.

Tubagus mengatakan penting melakukan transisi menuju pendekatan lintas sektoral dan kewilayahan. Menurutnya tidak ada solusi tunggal yang bisa diterapkan di seluruh kawasan tersebut, karena terdapat karakteristik dan morfologi yang berbeda di tiap pantai.

Arah kebijakan juga diminta untuk berlandaskan pada riset saintifik dan kredibel. Selain itu juga mengedepankan keseimbangan ekosistem, bukan sekadar pembangunan infrastruktur.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tanda Kiamat Ditemukan di Flores, Manusia Lenyap Tanpa Bekas


Most Popular
Features