Ramai-Ramai Bakar Uang Buat AI, Dampaknya Mengerikan
Jakarta, CNBC Indonesia - Investasi besar-besaran untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat disebut mulai menimbulkan risiko finansial. Nilai pembangunan AI diproyeksikan menyerap porsi ekonomi AS yang lebih besar dibandingkan pembangunan listrik, jalur kereta api, jalan tol antar negara bagian, maupun internet.
Hal tersebut terungkap dalam studi Stijn Van Nieuwerburgh, profesor keuangan dan real estat di Columbia Business School, dikutip dari Reuters, Kamis (24/9/2026).
Menurut studi tersebut, pembangunan infrastruktur AI akan menghabiskan sekitar 3,6% produk domestik bruto (PDB) AS setiap tahun hingga 2032. Jika dihitung secara keseluruhan, nilainya mencapai lebih dari US$10 triliun.
Angka itu melampaui pembangunan jaringan kereta api AS pada akhir abad ke-19 yang menyerap sekitar 2,2% PDB per tahun. Sementara pembangunan sistem jalan tol antar negara bagian dan ekspansi telekomunikasi sejak pertengahan 1990-an masing-masing menyerap sekitar 1% PDB per tahun.
Van Nieuwerburgh menilai skala investasi tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran karena industri AI tidak lagi hanya mengandalkan kas perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Meta, dan Google. Pembiayaan kini semakin kompleks dengan melibatkan bank, pemberi pinjaman kredit swasta, perusahaan real estat, hingga berbagai investor lainnya.
"Itu sangat rumit," kata Van Nieuwerburgh, merujuk pada struktur pembiayaan yang muncul di antara perusahaan AI, perusahaan teknologi hyperscaler, bank, pemberi kredit swasta, dan pemain lainnya.
Ia memperkirakan AS akan memiliki tambahan kapasitas pusat data sekitar 183 gigawatt dalam tujuh tahun ke depan, dibandingkan sekitar 57 gigawatt yang sudah terpasang saat ini.
Masalahnya, investasi yang berjalan sudah melampaui kemampuan perusahaan-perusahaan besar membiayainya dari arus kas internal.
Peralihan ke pembiayaan eksternal meningkatkan utang, menyebarkan risiko ke berbagai sektor ekonomi, sekaligus membuat investasi bergantung pada sumber pendapatan AI yang belum sepenuhnya terbukti.
Van Nieuwerburgh bahkan membandingkan struktur pembiayaan tersebut dengan krisis kredit perumahan subprime AS yang memicu resesi pada 2007-2009.
"Ketidakjelasan dari seluruh special purpose vehicle ini agak mengingatkan pada apa yang terjadi dalam krisis hipotek subprime," ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan tekanan finansial tidak berarti akan segera terjadi. Pertumbuhan aplikasi AI yang kuat, tingkat utilisasi yang tinggi, dan peningkatan kemampuan model dapat menopang pembangunan infrastruktur sekaligus menghasilkan arus kas yang stabil.
Namun, kombinasi permintaan yang belum pasti, perubahan teknologi yang cepat, hambatan eksekusi, serta tingginya leverage menciptakan risiko kerugian yang signifikan jika ekspektasi terhadap industri AI berubah.
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]