Trump Tolak Anggapan Dunia Dalam Bahaya, Blak-Blakan Teriak Hoaks
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam beberapa pekan terakhir, dunia dihebohkan dengan kekhawatiran terkait pengembangan teknologi AI yang kian canggih. Beberapa bos raksasa teknologi bahkan mengajak laboratorium AI untuk mengerem laju peningkatan AI.
Pasalnya, AI sudah mulai 'liar' dan tak terkendali. Terbukti, sistem AI buatan raksasa teknologi AS beberapa kali dilaporkan 'kabur' dari ruang pengujian dan secara otomatis membobol sistem perusahaan lain tanpa aba-aba manusia.
Selain itu, sistem perbankan di berbagai belahan dunia juga mulai mewanti-wanti ancaman besar dari AI yang kian canggih. Belum lagi ancaman lingkungan akibat infrastruktur data center penopang AI, risiko penipuan, penyebaran disinformasi, hingga hilangnya banyak pekerjaan manusia.
Di tengah diskusi hangat terkait perlu atau tidaknya mengerem AI, Presiden AS Donald Trump justru dengan lantang mengemukakan penolakan.
Trump memastikan bahwa tidak akan ada peraturan baru untuk memperketat AI. Hal tersebut ia tegaskan saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB.
Meski menolak pembuatan regulasi baru, Trump mengatakan pemerintah tetap akan melakukan pengawasan terhadap perkembangan AI melalui Departemen Kehakiman.
"Kami akan mengawasinya melalui Departemen Kehakiman," ujar Trump, dikutip dari Reuters, Rabu (23/9/2026).
Trump Teriak Hoaks
Trump juga menepis berbagai kekhawatiran terkait AI yang marak dibicarakan dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyebut argumen dari sejumlah pihak tersebut sebagai hoaks.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak berniat menghambat pertumbuhan teknologi yang dinilainya akan membawa dampak luar biasa. "Saya tidak akan menghambat pertumbuhan sesuatu yang akan jauh lebih besar dari Revolusi Industri," ucapnya.
Selain itu, Trump mengungkapkan bahwa dokumen resmi pemerintah AS kini tidak lagi menggunakan istilah Artificial Intelligence (AI/kecerdasan buatan), melainkan mengubah sebutannya menjadi Super Intelligence (SI/kecerdasan super).
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap risiko AI terus disuarakan oleh berbagai pihak, salah satunya oleh peneliti Jacob Coxon yang baru saja meninggalkan raksasa AI Anthropic. Ia menyatakan bahwa alasan pengunduran dirinya adalah keyakinan bahwa AI berpotensi memusnahkan umat manusia sebelum dekade ini berakhir.
Sebelumnya, para senator AS sempat turun tangan untuk mengatasi permasalahan ini dengan merancang regulasi guna mencegah peredaran model AI berisiko tinggi.
Aturan tersebut dirancang agar Menteri Perdagangan memiliki kewenangan khusus untuk mendesak perusahaan AI menunjukkan bukti adanya sistem pengamanan, termasuk mengerahkan auditor independen guna menguji keamanannya secara langsung.
Namun, pembahasan regulasi tersebut masih berada di fase awal dan memiliki peluang yang kecil untuk dapat disahkan. Hal ini dikarenakan Trump telah menegaskan bahwa instrumen hukum yang ada saat ini sudah mencukupi untuk mengatur ekosistem AI dan para raksasa teknologi.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]