MARKET DATA

Kabar Baik! Harga Minyak Dunia Terjun, WTI Sudah di Bawah US$90

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
23 September 2026 10:23
Ilustrasi kilang minyak, dan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran tampak dalam ilustrasi ini yang diambil pada 2 Maret 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi/Foto Arsip
Foto: Ilustrasi kilang minyak, dan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran tampak dalam ilustrasi ini yang diambil pada 2 Maret 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi/Foto Arsip

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar baik datang dari pasar minyak dunia. Setelah sempat bertahan di atas US$100 per barel, harga minyak terus turun. Pada perdagangan Rabu (23/9/2026), Brent masih berada di bawah angka tersebut, sementara WTI sudah jatuh ke bawah US$90 per barel.

Merujuk data Refinitiv per pukul 10.00 WIB, Brent turun 0,49% menjadi US$98,76 per barel. Penurunan WTI lebih tajam, yakni 5,13% ke harga US$89,74 per barel.

Sejatinya, kedua harga acuan minyak dunia tersebut terus turun sejak 15 September atau pekan lalu. Apabila pelemahan hari ini bertahan sampai penutupan, Brent dan WTI akan mencatat penurunan selama enam hari perdagangan berturut-turut. Dalam rentang itu, Brent telah turun 9,19%, sedangkan WTI anjlok 15,20%.

Pipa Saudi Mulai Mengalir Lagi

Salah satu kabar yang membuat harga minyak turun datang dari Arab Saudi. Pada Selasa (22/9/2026), Arab Saudi mulai mengoperasikan kembali pipa East-West yang terhenti sejak serangan pada 11 September 2026.

Pipa tersebut membawa minyak dari bagian timur Saudi ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Sebelum serangan, sekitar 4 juta barel minyak dialirkan melalui jalur ini setiap hari. Karena pipa mulai beroperasi lagi, pasar berharap pengiriman minyak Saudi yang sempat terganggu dapat meningkat.

Namun, minyak belum kembali mengalir seperti semula. Beberapa sumber menyebut pipa itu baru memompa dalam jumlah kecil. Tiga stasiun pompanya rusak, sementara pemulihan hingga kapasitas penuh diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan.

Di saat Saudi berusaha memulihkan pengiriman minyak, perhatian pasar juga tertuju pada pembicaraan untuk mengakhiri perang AS-Iran di New York.

Presiden AS Donald Trump mengatakan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan yang produktif melalui perantara Iran. "Saya kira ada dorongan yang kuat bagi mereka untuk mencapai kesepakatan," kata Trump, dikutip dari Reuters.

Pernyataan itu memberi harapan bahwa gangguan pasokan minyak akibat perang bisa mereda.

Namun demikian, harapan tersebut belum diikuti pemulihan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Menurut data awal pelacakan kapal yang dikutip melalui Reuters, hanya tiga kapal komoditas melintasi selat itu pada Selasa kemarin, jauh di bawah rata-rata sekitar 15 kapal per hari dalam 10 hari terakhir. Jumlahnya masih dapat berubah karena sebagian kapal mematikan alat pelacak selama pelayaran.

Ketidakpastian ini membuat arah harga minyak masih cukup sulit diprediksi.

Bank of America memperkirakan Brent berada di US$95 per barel pada akhir 2026, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar US$83 per barel. Bank tersebut juga memperingatkan harga dapat melampaui US$150 per barel jika gangguan pasokan terus berlanjut dan persediaan minyak semakin menipis. Angka US$150 itu merupakan skenario jika keadaan memburuk.

JPMorgan bahkan mengaku belum memiliki gambaran yang jelas tentang bagaimana pasar minyak akan keluar dari situasi perang ini. "Kami tidak tahu bagaimana memperkirakan akhir dari situasi ini," tulis analis bank tersebut.

Menurut JPMorgan, harga masih bisa kembali naik apabila gangguan pasokan di Timur Tengah berlangsung lama.

Untuk saat ini, kabar pulihnya pipa Saudi dan peluang kesepakatan damai memberi ruang bagi harga minyak untuk turun. Namun, selama pengiriman melalui Hormuz belum kembali lancar, pasar masih harus bersiap menghadapi perubahan harga yang tajam.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular