Medan Magnet Bumi Berbalik Arah, Suaranya Bikin Merinding
Jakarta, CNBC Indonesia - Medan magnet Bumi ternyata bisa terdengar mengerikan seperti suara berderit, bergemuruh dan benturan batu. Suaranya sama sekali tidak mencerminkan kondisi planet yang sedang baik-baik saja.
Para ilmuwan merekonstruksi suara melemahnya medan magnet Bumi sekitar 41.000 tahun lalu, ketika medan tersebut mengalami perubahan dramatis dengan kutubnya berbalik arah.
Melansir dari ScienceAlert, rekonstruksi itu memanfaatkan data satelit Swarm milik Badan Antariksa Eropa (ESA), serta bukti perubahan medan magnet yang tersimpan dalam batuan dan sedimen purba.
Ilmuwan kemudian mengubah data tersebut menjadi suara dengan menambahkan rekaman kayu berderit dan batu yang bertabrakan untuk menggambarkan gejolak medan magnet.
ESA menjelaskan pada 2024 bahwa proses mengubah data menjadi suara mirip dengan menyusun musik berdasarkan sebuah partitur. Bedanya, partitur tersebut berasal dari aktivitas Bumi 41.000 tahun silam.
Peristiwa yang dikenal sebagai Laschamps excursion itu menyebabkan kekuatan medan magnet Bumi turun hingga sekitar 5% dari kondisi normal dan bertahan selama berabad-abad.
Medan magnet Bumi terbentuk dari pergerakan logam cair di inti planet dan berfungsi melindungi atmosfer dari partikel berenergi tinggi yang berasal dari Matahari.
Ketika peristiwa Laschamps berlangsung, catatan inti es dan sedimen laut menunjukkan kadar berilium-10, isotop yang terbentuk akibat hantaman sinar kosmik ke atmosfer, meningkat hampir dua kali lipat. Kondisi ini mengindikasikan lebih banyak radiasi kosmik yang menembus atmosfer.
Peneliti memperkirakan proses perubahan medan magnet itu berlangsung sekitar 250 tahun. Pada periode tersebut, kekuatannya mungkin sempat turun hingga mendekati nol sebelum medan magnet menetap dalam orientasi yang berlawanan selama sekitar 440 tahun.
Lantas, apakah peristiwa serupa bisa kembali terjadi?
Menurut penelitian, belum ada indikasi bahwa pembalikan medan magnet akan segera terjadi. Namun, medan magnet Bumi saat ini memang terus berubah.
Kutub magnet utara terus bergeser dari Kanada menuju Siberia, sementara wilayah Anomali Atlantik Selatan mengalami pelemahan medan magnet.
Data satelit Swarm menunjukkan wilayah anomali tersebut bertambah luas antara 2014 dan 2025. Meski demikian, para ilmuwan menilai pelemahan di kawasan itu tidak otomatis menandakan pembalikan medan magnet secara menyeluruh.
"Anomali Atlantik Selatan bukan hanya satu blok," kata Chris Finlay, profesor geomagnetisme di Universitas Teknik Denmark, yang memimpin studi tahun 2025 yang meneliti pertumbuhan anomali tersebut.
"Perubahannya berbeda di dekat Afrika dibandingkan di dekat Amerika Selatan. Ada sesuatu yang istimewa terjadi di wilayah ini yang menyebabkan medan magnet melemah dengan cara yang lebih intens,"
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anomali khusus ini belum tentu merupakan tanda akan terjadinya pembalikan kutub secara menyeluruh, wilayah-wilayah yang lemah dan berpindah-pindah seperti ini pernah muncul sebelumnya tanpa berujung pada peristiwa berskala besar layaknya peristiwa Laschamps.
Hal ini tidak memberi tahu kapan pembalikan kutub berikutnya akan terjadi, dan justru itulah sebabnya para ilmuwan terus memantaunya.
"Memahami peristiwa ekstrem ini penting untuk mempelajari kemungkinan kejadiannya di masa depan, memprediksi cuaca antariksa, serta menilai dampaknya terhadap lingkungan dan sistem Bumi," kata Sanja Panovska dari GFZ Potsdam, Jerman, yang merekonstruksi data medan magnet tersebut pada 2024.
Kini, suara kayu berderit dan batu bergesekan menjadi gambaran mengerikan tentang bagaimana medan magnet Bumi melemah ribuan tahun lalu.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]