Amerika Terpecah Belah, Banyak Orang Teriak Bahaya Kecuali Trump
Jakarta, CNBC Indonesia - Bos-bos raksasa teknologi tiba-tiba kompak menyerukan pentingnya mengerem laju peningkatan teknologi kecerdasan buatan (AI), untuk memprioritaskan keselamatan masyarakat. Hal ini dimulai dari esai panjang CEO Anthropic, Dario Amodei, yang kemudian didukung 'elit' teknologi lain seperti Sam Altman dari OpenAI dan Elon Musk dari xAI.
Sebelumnya, mantan peneliti AI Anthropic, Jacob Coxon, lebih dulu membuat viral internet lantaran menyebut peningkatan AI yang kian masif bisa menyebabkan kepunahan manusia dalam dekade berikutnya.
Kekhawatiran soal AI yang makin tinggi di kalangan masyarakat umum, turut memicu 'perpecahan' di antara para pejabat Amerika Serikat). Dua kubu politik yang selama ini dikenal berseberangan, Senator progresif Bernie Sanders dari Partai Demokrat dan Steve Bannon, sekutu garis keras Presiden Donald Trump, secara mengejutkan kompak menyuarakan desakan agar pemerintah memperketat pengawasan terhadap AI.
Meski demikian, desakan ini justru membentur tembok tebal di lingkaran kekuasaan. Presiden AS Donald Trump memilih untuk pasang badan dan mengambil sikap berseberangan dengan para pengkritiknya.
Trump Pilih Gaspol Lanjutnya Pengembangan AI
Alih-alih memperketat regulasi, Trump secara terbuka meremehkan kekhawatiran para pelaku industri dan politisi terkait potensi bahaya AI. Di hadapan publik, pemerintahannya bersikeras bahwa AS telah memiliki koridor pengamanan (guardrails) yang memadai untuk menjinakkan teknologi super canggih tersebut tanpa harus memasung inovasi.
Sikap Gedung Putih ini juga mendapat dukungan penuh dari Ketua DPR AS dari Partai Republik, Mike Johnson. Menurut Johnson, penerapan moratorium atau penundaan dalam pengembangan AI justru akan membuat AS kehilangan taring dan menyerahkan keunggulan kompetitif di tangan China.
Johnson bahkan dengan tegas menyerahkan urusan mitigasi risiko kepada mekanisme pasar internal korporasi.
"Mereka bisa mengatur diri sendiri. Mereka tidak butuh pemerintah untuk menyuruh mereka memperlambatnya. Jika mereka ingin memperlambatnya, silakan lakukan," cetus Johnson kepada awak media, dikutip Reuters, Rabu (16/9/2026).
Pandangan serupa turut disuarakan oleh beberapa bos besar industri teknologi lain, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang. Kubu industri yang berseberangan dengan omongan Amodei cs ini berargumen bahwa regulasi yang terlalu ketat dari pemerintah justru akan mematikan daya saing perusahaan AS di kancah global melawan rival-rival mereka dari Negeri Tirai Bambu.
Sanders dan Bannon Desak Rem Darurat
Kubu oposisi dan sejumlah pengamat menilai pendekatan "lepas tangan" (hands-off) yang diusung Trump sangat berbahaya. Dalam sebuah forum di Washington, Bernie Sanders melontarkan peringatan keras bahwa AI berpotensi melenyapkan puluhan juta lapangan kerja dan menghancurkan berbagai profesi dalam waktu dekat.
Tak hanya itu, Sanders juga menyoroti temuan mencengangkan bahwa AI untuk pertama kalinya telah disalahgunakan untuk merancang virus baru yang berisiko memicu biosekuriti global.
"Teknologi ini akan lepas dari kendali manusia dengan konsekuensi yang berpotensi menjadi malapetaka," ujar Sanders, yang bahkan mendesak Trump untuk segera merundingkan traktat penangguhan AI dengan Presiden China Xi Jinping.
Suara senada datang dari Steve Bannon. Mantan arsitek strategi Gedung Putih itu mengkritik keengganan Trump untuk mengatur sektor teknologi, yang menurutnya tak lepas dari kuatnya cengkeraman para lobi korporasi. Bannon menilai Kongres terlalu lamban dalam merumuskan undang-undang, sehingga ia mendesak adanya tindakan eksekutif kilat untuk mengerem laju ekspansi AI sekaligus memutus total pasokan cip komputer AS ke China.
Pemerintah Tuding Ada Politisasi Pemilu
Di tengah memanasnya silang pendapat ini, Gedung Putih menepis mentah-mentah berbagai kekhawatiran tersebut. Jaksa Agung AS Todd Blanche bahkan menuding Partai Demokrat sengaja mempolitisasi isu AI demi mendulang sentimen politik menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November mendatang.
Kendati perdebatan sengit terus bergulir di Capitol Hill, para raksasa teknologi kini dihadapkan pada tekanan publik yang kian masif. Selain masalah ancaman eksistensial, gelombang penolakan warga terhadap megaproyek pusat data (data center) yang memborong pasokan listrik publik turut menjadi duri dalam daging bagi ambisi ekspansi industri AI.
(fab/fab)