China Bilang Amerika Cuma Gertak, Tuduh Ada Motif Tersembunyi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China menolak secara tegas seruan para pemimpin perusahaan teknologi besar untuk memperlambat laju perkembangan kecerdasan buatan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa seruan yang disampaikan para bos teknologi itu hanyalah upaya menakut-nakuti publik demi kepentingan sendiri.
Pernyataan Guo muncul sebagai balasan langsung atas tulisan terbuka yang disampaikan pimpinan perusahaan Anthropic, Dario Amodei, yang kemudian didukung oleh pimpinan OpenAI, Sam Altman, serta Elon Musk, dikutip dari laporan CNBC Internasional, Selasa (15/9/2026).
"Menakut-nakuti, memicu pertentangan, dan persaingan tidak sehat hanya akan mengganggu upaya regulasi kecerdasan buatan di seluruh dunia," ujar Guo Jiakun dalam pernyataan resminya.
Dalam tulisan terbukanya, Dario Amodei menyampaikan bahwa perkembangan AI yang terlalu cepat dapat membahayakan umat manusia. Namun di sisi lain, ia juga menyampaikan peringatan tersembunyi. Jika Amerika Serikat memperlambat laju perkembangannya, China akan segera melampaui dan mengambil alih posisi terdepan.
Pernyataan itulah yang kemudian ditanggapi tajam oleh pihak China. Mereka menilai bahwa kekhawatiran mengenai bahaya AI itu hanyalah kedok. Tujuan sebenarnya adalah untuk menahan laju kemajuan negara lain agar perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dapat terus memimpin tanpa saingan.
Menteri Keamanan Negara China, Chen Yixin, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan kini telah menjadi medan pertempuran utama persaingan teknologi dunia. Oleh karena itu, China justru akan mempercepat pembangunan sistem pengawasan dan pengembangan kecerdasan buatan, bukan memperlambatnya.
Pernyataan para bos teknologi itu ternyata juga ditolak oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Saat berada di Irlandia, Trump menyampaikan bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun menahan laju kemajuan negaranya. "Saat ini kita masih memimpin China dalam bidang kecerdasan buatan. Dan saya ingin kita tetap memimpin. Karena siapa pun yang menang dalam persaingan kecerdasan buatan, dialah yang akan menentukan masa depan dunia," ujar Trump.
Akibat perselisihan tajam ini, harga saham perusahaan teknologi terkait kecerdasan buatan ikut terpengaruh. Saham perusahaan investasi terbesar, SoftBank, turun hingga 10 persen di pasar saham Jepang.
Kini dunia menghadapi dua pandangan yang berlawanan. Di satu sisi, para pemimpin industri teknologi Amerika Serikat mengajak memperlambat laju perkembangan demi keamanan bersama. Di sisi lain, pemerintah China justru menyebut ajakan itu sebagai tipuan dan bersiap melaju makin cepat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menolak perlambatan dan menekankan pentingnya menjaga keunggulan AS di atas segalanya.
Artinya, di balik pembicaraan mengenai bahaya dan keamanan AI, tersembunyi persaingan teknologi terbesar dalam sejarah manusia.
(dem/dem)