Amerika dan China Makin Panas Jelang Trump Ketemu Xi Jinping
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) melayangkan tuduhan serius terhadap perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) asal China. Washington menyebut perusahaan-perusahaan tersebut dengan sengaja dan jahat menyalin teknologi dari perusahaan AI Amerika.
Langkah ini berpotensi memperkeruh hubungan kedua negara menjelang rencana pertemuan puncak antara pemimpin dari dua ekonomi terbesar dunia tersebut, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, pada akhir bulan ini.
Berdasarkan pernyataan dari aparat penegak hukum dan pejabat intelijen AS, perusahaan-perusahaan China membobol kekayaan intelektual laboratorium AI AS menggunakan teknik yang disebut distillation (distilasi). Teknik ini merupakan metode untuk melatih model AI berukuran lebih kecil dengan memanfaatkan keluaran (output) dari model yang lebih besar dan berbiaya tinggi demi menekan anggaran pelatihan alat AI baru.
Pemerintah AS menyebut setidaknya enam perusahaan China terlibat dalam aksi ini, termasuk DeepSeek, Moonshot AI, dan Alibaba. Mereka dituding memanfaatkan berbagai varian model AI buatan AS untuk mempercepat pengembangan produk mereka.
Para pejabat AS mengklaim tindakan tersebut "kemungkinan besar dengan sepengetahuan pemerintah China". Perusahaan-perusahaan tersebut dilaporkan menyasar model AI besutan Anthropic, OpenAI, Google milik Alphabet, hingga SpaceX.
"Perusahaan-perusahaan AI yang berbasis di China melakukan kegiatan distilasi yang agresif, berniat buruk, dan ditargetkan dalam skala industri," ujar para pejabat AS, seperti dikutip Reuters, Rabu (9/9/2026).
Tuduhan anyar ini dilontarkan di tengah persiapan pemerintahan Trump menyambut kunjungan kenegaraan Xi Jinping pada akhir September mendatang. Selain itu, kedua negara dijadwalkan menggelar dialog khusus guna membahas risiko keamanan AI pada pertengahan September ini.
Respons Tegas Beijing
Menanggapi tuduhan tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa kemajuan pesat AI di negaranya murni buah dari pencapaian "kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi tingkat tinggi".
"Kami berharap AS akan sungguh-sungguh menerapkan konsensus penting yang dicapai oleh para pemimpin kedua negara dan menahan diri dari membuat tuduhan palsu serta mencemarkan nama baik China," kata Mao. "Sebagai kekuatan utama dalam kecerdasan buatan, China dan AS seharusnya memperkuat kerja sama".
Sebelumnya, Washington juga pernah melemparkan tuduhan serupa pada April lalu, menjelang lawatan Trump ke Beijing.
Pemerintah AS menilai praktik distilasi tersebut tidak sekadar memangkas biaya riset dan pengembangan bagi korporasi China, tetapi juga mendongkrak "kemampuan militer dan serangan siber China yang dapat digunakan terhadap AS dan sekutu-sekutu kita". Isu ini semakin diperkuat oleh laporan Reuters pada 31 Juli lalu yang mengungkap bahwa peneliti militer China memanfaatkan output dari model AI terkemuka AS untuk memperkuat sistem pertahanan domestik mereka.
(fab/fab)