Ramai-Ramai Warga Tolak Data Center, Pemerintah Akhirnya Menyerah

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 07/09/2026 21:00 WIB
Foto: Ilustrasi Data Center. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang penolakan keras dari akar rumput akhirnya membuahkan hasil. Tekanan masif serta kemarahan publik terhadap masifnya pembangunan pusat data (data center) berhasil mendesak para pejabat pemerintah untuk membalikkan arah kebijakan secara drastis.

Pembangunan data center selama ini dituding sebagai biang 'petaka' di Amerika Serikat (AS) yang merugikan masyarakat umum. Mulai dari meroketkan tagihan listrik warga, menguras pasokan air bersih, hingga mencemari lingkungan.

Fenomena pergeseran politik yang luar biasa ini paling mencolok terjadi di Texas, AS. Belum genap setahun lalu, Gubernur Texas Greg Abbott dengan bangga mendengungkan wilayahnya sebagai "episentrum pengembangan kecerdasan buatan (AI)" demi memikat korporasi kakap seperti SpaceX dan Oracle.


Namun, di tengah derasnya aspirasi penolakan warga menjelang pemilihan paruh waktu (midterm election), para elite politik buru-buru mengambil jarak demi menyelamatkan karier mereka dari amukan para pemilih.

Abbott secara mendadak menyerukan pembatasan ketat terhadap pembangunan data center, mendesak pencabutan insentif pajak pembangunan, serta membatasi ekspansi di wilayah perdesaan, dikutip dari Reuters, Senin (7/9/2026).

Audit negara bagian yang diumumkannya bahkan secara efektif telah membekukan persetujuan sambungan jaringan listrik baru bagi fasilitas-fasilitas yang 'rakus' daya tersebut.

Langkah serupa juga ditempuh oleh Jaksa Agung Ken Paxton, yang kini berbalik arah menyusun rencana regulasi demi meredam dampak negatif data center, setelah sebelumnya sempat merangkul industri tersebut.

Peta Politik Berubah, Suara Rakyat Pukul Mundur Raksasa Teknologi

Perubahan sikap para petahana ini menciptakan garis perpecahan baru di tubuh Partai Republik. Para kandidat di berbagai wilayah strategis seperti Michigan, Wisconsin, dan Pennsylvania terpaksa meninggalkan garis kebijakan pro-AI Presiden Donald Trump.

Sebelumnya, Trump blak-blakan memperingatkan bahwa warga yang melawan data center berisiko membuat AS tertinggal. Ia juga mengatakan warga yang menolak data center bisa jatuh miskin.

Di tengah tekanan populis ini, para elite partai memilih tunduk pada aspirasi konstituen lokal ketimbang ambisi korporasi.

Kuatnya penolakan warga tergambar jelas dalam jajak pendapat Texas Politics Project, di mana hanya 30% responden yang menyatakan setuju ada data center di komunitas mereka.

Warga menilai fasilitas berteknologi tinggi tersebut tidak memberikan timbal balik yang sepadan. Lapangan kerja yang tercipta minim, pendapatan pajak tidak sebanding dengan insentif yang dibayarkan, sementara beban infrastruktur dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kepanikan pun melanda kalangan industri teknologi besar. Merasa terlambat merespons kemarahan publik, perusahaan-perusahaan AI dan media sosial terpaksa menggelontorkan dana lebih dari US$300 juta (sekitar Rp5,2 triliun) melalui berbagai super PAC dan kampanye iklan besar-besaran untuk merayu pemilih.

Kendati demikian, gempuran modal raksasa teknologi tersebut menemui jalan terjal. Solidnya perlawanan lintas partai, baik dari Demokrat maupun Republik, membuktikan bahwa ketika kenyamanan dan hak-hak dasar masyarakat dikorbankan demi ambisi korporasi digital, suara rakyat pada akhirnya terbukti jauh lebih perkasa dalam memegang kendali penuh atas arah kebijakan pemerintah.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Kesan Pertama Pegang Samsung Galaxy S26 FE, HP Rasa Flagship!