Alasan PBB Ubah Peta Dunia, Ini Perbedaan RI di 'Atlas' Baru dan Lama

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 07/09/2026 18:20 WIB
Foto: Proyeksi Equal Earth, peta dunia baru yang disepakati oleh Majelis Umum PBB. (Dok. equal-earth)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB baru saja memutuskan untuk mengubah proyeksi peta dunia yang digunakan secara internasional. Sebanyak 164 negara mendukung perubahan tersebut, tetapi satu negara menolak. Perubahan ini dilakukan karena peta dunia standar yang dipakai selama 450 tahun ternyata menggambarkan ukuran benua dan negara tidak sesuai kenyataan, terutama benua Afrika yang terlihat jauh lebih kecil daripada aslinya,

Peta dunia yang selama ini digunakan dikenal sebagai proyeksi Mercator. Peta ini dibuat oleh Gerardus Mercator pada tahun 1569, dirancang agar pelaut dapat menentukan arah dengan tepat saat berlayar melintasi samudra.

Namun, kelebihannya dalam menunjukkan arah ternyata mengorbankan realitas ukuran wilayah sebenarnya. Makin dekat ke kutub, tampilan suatu wilayah menjadi makin besar. Sebaliknya, negara-negara yang berada di sekitar garis khatulistiwa tampak jauh lebih kecil daripada ukuran sebenarnya.


Perbedaan Peta Baru dan Peta Lama

Berikut perbandingan jelas antara peta lama Mercator dan peta baru Equal Earth yang kini didukung PBB:

Peta Lama - Proyeksi Mercator

  • Dibuat tahun 1569, dirancang untuk keperluan pelayaran
  • Negara dekat kutub terlihat jauh lebih besar dari aslinya
  • Negara dekat khatulistiwa terlihat lebih kecil dari aslinya
  • Afrika tampak hampir sama besar dengan Pulau Greenland, padahal sebenarnya Afrika 14 kali lipat lebih besar daripada Greenland
  • Benua Amerika Utara dan Eropa terlihat jauh lebih besar dibanding benua Afrika dan Amerika Selatan
  • Selama berabad-abad peta ini membentuk pandangan dunia seolah-olah negara utara lebih besar dan lebih penting

Peta Baru - Equal Earth

  • Dirancang tahun 2018, menampilkan ukuran wilayah sesuai luas aslinya
  • Benua Afrika tampak sesuai ukuran sebenarnya yaitu luasnya setara dengan gabungan antara Amerika Serikat, China, India, Jepang, Meksiko, dan sebagian Eropa sekaligus
  • Tidak ada lagi pembesaran wilayah di dekat kutub atau penyusutan di khatulistiwa
  • Bentuk benua tetap terjaga dengan baik tanpa distorsi berlebihan
  • Dikembangkan oleh tim kartografer internasional agar adil dan akurat

Mengapa PBB Mengubah Peta Sekarang?

Inisiatif perubahan ini diajukan oleh negara Togo atas nama seluruh negara anggota Uni Afrika. Dalam sidang PBB, Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menyampaikan bahwa peta bukan sekadar gambar di atas kertas.

"Peta tidak pernah bersifat netral. Peta membentuk cara kita berpikir, memengaruhi bagaimana kita memahami kedudukan bangsa dan benua di dunia," ujar Dussey.

Selama berabad-abad, peta Mercator dianggap telah menanamkan pandangan yang keliru karena benua di utara tampak lebih besar dan lebih signifikan, sedangkan benua Afrika dan negara-negara berkembang tampak kecil dan tidak berarti. Karena itulah, perubahan peta ini disebut juga sebagai langkah menuju keadilan penggambaran dunia.

Dari 165 negara yang memberikan suara, sebanyak 164 negara mendukung perubahan peta tersebut. Enam negara memilih tidak memberikan suara. Namun hanya satu negara yang secara tegas menolak yaitu Amerika Serikat.

Wakil tetap Amerika Serikat untuk Dewan Ekonomi PBB menyatakan bahwa pembahasan peta ini membuang-buang waktu dan tidak seharusnya dibahas di PBB. Namun sebagian besar negara lain justru memandang langkah ini sebagai perbaikan yang sudah tertunda selama hampir 450 tahun.

Prancis juga menyatakan akan ikut beralih menggunakan peta yang lebih akurat. Negara Eropa tersebut berencana menggunakan proyeksi peta yang serupa, yang juga menampilkan ukuran benua sesuai luas aslinya.

Apa Artinya Bagi Indonesia?

Bagi Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa, peta standar lama juga membuat wilayah RI tampak jauh lebih kecil dari sebenarnya. Dengan peta baru yang menampilkan ukuran sesuai kenyataan, luas wilayah Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara akan tampak lebih besar dan proporsional dibandingkan peta yang biasa kita lihat selama ini.

Artinya, perubahan peta dunia ini bukan sekadar perubahan gambar. Ini adalah langkah agar dunia mulai melihat benua Afrika, Indonesia, dan seluruh negara di sekitar khatulistiwa sebagaimana adanya.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Kesan Pertama Pegang Samsung Galaxy S26 FE, HP Rasa Flagship!