Wilayah Bandung Ini Rawan Gempa, Dulunya Danau Purba-Ada Sesar Lembang
Jakarta, CNBC Indonesia - Kota Bandung yang kini dipadati permukiman, gedung, jalan, hingga berbagai infrastruktur modern ternyata menyimpan jejak sejarah geologi panjang di bawah permukaannya. Wilayah yang dikenal sebagai Cekungan Bandung itu pada masa lalu merupakan danau purba.
Adapun wilayah Cekungan Bandung yakni Kota Bandung, Kota Sumedang, Kabupaten Bandung dan Cimahi. Total luas areal 338 ribu hektare. Endapan yang ditinggalkan Danau Bandung Purba tersebut menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan karena karakter materialnya dapat memperkuat efek guncangan ketika terjadi gempa bumi.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat, menjelaskan keberadaan Danau Bandung Purba telah dibuktikan melalui penelitian geologi, termasuk pengeboran yang menemukan lapisan endapan danau dan rawa. Endapan tersebut terbentuk dalam perjalanan geologi yang berlangsung selama puluhan ribu tahun.
Menurut Edi, pembentukan Danau Bandung Purba berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Letusan gunung tersebut menghasilkan material vulkanik yang membendung aliran Sungai Citarum purba sehingga air menggenangi Cekungan Bandung dan membentuk danau. Danau itu diperkirakan mulai terbentuk sekitar 90 ribu tahun lalu dan bertahan hingga sekitar 16 ribu tahun lalu.
"Letusan gunung itu membendung sungai yang ada di tengah Danau Bandung. Aliran air terus menerus ada, menggenang seluruh dataran Bandung, menjadi sebuah danau," ujar Edi, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Karakter endapan tersebut menjadi penting diperhatikan, jikalau suatu saat Cekungan Bandung menerima gelombang gempa. Edi menjelaskan, perbedaan karakter antara batuan keras yang mengelilingi Bandung dan material lebih lunak yang mengisi cekungan dapat menimbulkan amplifikasi, yakni penguatan guncangan gempa pada lapisan tanah tertentu. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti material lunak di dalam sebuah wadah yang akan ikut bergerak ketika wadah diguncang.
"Cekungan Bandung ini hampir seluruh bagian dasar dan sekelilingnya disusun batuan-batuan keras dari produk gunung api dan batuan sedimen yang jauh lebih tua, sementara di tengahnya adalah batuan yang masih relatif lunak dengan umur yang jauh lebih muda. Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi. Amplifikasi ini yang akan berbahaya bagi Kota Bandung kalau ada gempa," kata Edi.
Potensi tersebut menjadi relevan karena Bandung berada tidak jauh dari sejumlah sumber gempa bumi di darat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sesar Lembang, yang menurut Edi membentang sekitar 29 kilometer berarah barat - timur dan berjarak sekitar 10 kilometer di utara kota Bandung. Selain Sesar Lembang, penelitian geofisika juga menunjukkan indikasi keberadaan patahan-patahan lain di bawah permukaan Cekungan Bandung yang tidak semuanya terlihat di permukaan.
Edi menekankan bahwa karakteristik Danau Bandung Purba secara geologi perlu dipahami lebih jauh. Karakter endapan bekas danau dapat memengaruhi respons tanah ketika gelombang gempa dari suatu sumber mencapai Cekungan Bandung. Karena itu, risiko gempa tidak cukup dilihat hanya dari sumber gempanya, tetapi juga kondisi geologi wilayah yang menerima guncangan.
"Ini yang menjadi perhatian khusus karena Sesar Lembang paling dekat dengan Bandung. Sementara Bandung ini adalah danau purba yang kalau bergetar ada efek amplifikasinya," ungkapnya.
Selain amplifikasi, keberadaan lapisan pasir yang mempunyai sifat porositas tinggi pada endapan danau Bandung juga perlu diperhatikan karena terkait dengan potensi likuifaksi. Edi menjelaskan, ketika lapisan pasir jenuh air menerima tekanan akibat guncangan gempa, tekanan air di dalam material dapat meningkat dan mendorong air serta pasir menuju permukaan. Kondisi tersebut berpotensi dapat memicu penurunan tanah.
Meski demikian, Edi tidak menyamakan potensi likuifaksi di Bandung dengan peristiwa likuifaksi berskala besar yang pernah terjadi di daerah lain, seperti di Kota Palu, Sulawesi. Penjelasannya menekankan bahwa keberadaan lapisan pasir dan air tanah jenuh pada endapan Danau Bandung Purba merupakan salah satu kondisi geologi yang memungkinkan berdampak negatif yang perlu menjadi kajian risiko kegempaan daerah Bandung.
Ada Sesar Lembang
BRIN melalui Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan British Geological Survey (BGS) melakukan kajian terhadap potensi bahaya gempa Sesar Lembang serta dampaknya terhadap kerentanan dan resiliensi wilayah Cekungan Bandung.
Kajian tersebut menjadi bagian dari diskusi publik yang membahas hasil riset dan kolaborasi selama dua tahun. Hal tersebut dibahas dalam kegiatan "Public Exhibition: Setanah Tak Diam" di Selasar Soenaryo Art Space Kabupaten Bandung, Sabtu (29/8/2026).
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa penelitian tersebut mencakup sumber gempa dari Sesar Lembang, guncangan tanah, serta berbagai bahaya ikutan seperti tanah longsor dan likuefaksi.
Hasil kajian juga diarahkan untuk menyediakan informasi saintifik yang dapat dipahami masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan dan resiliensi masyarakat di wilayah Bandung Raya. "Tujuan dari diskusi publik ini sebenarnya kita ingin melakukan diseminasi dari hasil riset yang kita kerjakan selama dua tahun ini," ujarnya.
Menurut Adrin, Cekungan Bandung memiliki kondisi geologi yang perlu mendapat perhatian apabila terjadi gempa kuat. Wilayah tersebut tersusun atas endapan Danau Purba yang terdiri atas lapisan lempung dan pasir, sementara sebagian lapisan pasirnya bersifat lepas dan belum mengalami pemadatan.
"Selain guncangan dan retakan permukaan, kondisi tersebut dapat memunculkan bahaya ikutan, salah satunya likuefaksi. Likuefaksi merupakan fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah pasir akibat guncangan gempa, terutama pada kondisi tanah yang lepas dan jenuh air," paparnya.
Ia menambahkan, fenomena ini dapat menyebabkan penurunan tanah, pergerakan lateral, semburan pasir, hingga gangguan pada bangunan dan infrastruktur. Likuefaksi itu fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah pasir. Jadi, perilaku pasir itu berubah menjadi seperti cairan, bisa mengalir dan bisa menyembur ke atas.
"Untuk mengetahui potensi tersebut, kami melakukan pemboran di sembilan titik di wilayah Cekungan Bandung, khususnya di Kabupaten Bandung. Data pemboran teknik kemudian dianalisis berdasarkan karakteristik butiran serta hasil uji Standard Penetration Test (SPT) untuk mengetahui ketebalan dan kedalaman lapisan pasir yang berpotensi untuk mengalami likuefaksi," terangnya.
Adrin menyampaikan, hasil analisis menunjukkan adanya sejumlah lapisan pasir yang berpotensi mengalami likuefaksi pada kedalaman tertentu. Pada skenario gempa magnitudo 6,8 dengan percepatan gempa lebih dari 0,2, potensi penurunan tanah akibat likuefaksi diperkirakan dapat mencapai 40 cm di lokasi tertentu.
Lebih lanjut Adrin membeberkan, salah satu wilayah yang menunjukkan potensi penurunan relatif tinggi adalah Desa Tegalluar di Kecamatan Bojongsoang. Sebaliknya, hasil analisis pada Desa Padamukti di Kecamatan Solokanjeruk, menunjukkan potensi likuefaksi yang lebih rendah.
"Hasil riset tersebut masih memerlukan penguatan data untuk menghasilkan pemetaan yang lebih detail. Variasi jenis, ketebalan, dan kepadatan lapisan tanah di Cekungan Bandung menjadi faktor penting dalam penyusunan peta mikrozonasi," tegasnya.
Di akhir pemaparannya, Adrin menekankan pentingnya penyusunan peta mikrozonasi kerentanan penurunan tanah akibat likuefaksi di wilayah Cekungan Bandung. Tentunya dengan dukungan data yang lebih banyak, sehingga zonasi tingkat penurunan tanah dapat dibuat secara lebih detail.
(wur/wur)