Muncul Fenomena Makin Banyak Unta Gagal Ginjal-Mati, Ada Apa?

Thea Arbar, CNBC Indonesia
Sabtu, 05/09/2026 13:45 WIB
Foto: Unta di padang pasir. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kematian unta meningkat di sejumlah wilayah gurun seiring suhu ekstrem yang kian sering terjadi. Hewan yang selama ini dikenal sangat tangguh menghadapi panas bahkan mulai kesulitan bertahan di habitat alaminya.

Pakar Genetika Ekologi IPB University Prof Ronny R Noor mengatakan suhu gurun dalam satu dekade terakhir kerap mencapai 50-55 derajat Celcius. Kondisi tersebut dapat membuat unta mengalami luka lepuh, dehidrasi, gagal ginjal hingga kematian.

"Fenomena suhu ekstrem yang meningkat di gurun pasir, sampai-sampai bahkan unta pun tidak mampu bertahan, benar-benar menunjukkan adanya krisis iklim yang sangat serius," ujar Prof Ronny, dikutip Sabtu (5/9/2026).


Dampaknya terlihat di sejumlah negara. Di Somalia, penelitian menunjukkan sekitar 73% unta mati di wilayah Sool, sedangkan di Kenya angka kematian meningkat 15% dalam dua tahun terakhir akibat hipertermia.

Menurut Prof Ronny, unta sebenarnya memiliki mekanisme fisiologis khusus untuk menghadapi panas. Suhu tubuhnya dapat berubah dari sekitar 34 derajat Celcius pada malam hari menjadi 41 derajat Celcius pada siang hari tanpa banyak berkeringat, sehingga penggunaan air dapat dihemat.

Namun, kemampuan tersebut mulai kurang efektif ketika suhu lingkungan melewati 45 derajat Celcius. Kondisi itu dapat memicu kerusakan ginjal, gangguan metabolisme hingga kegagalan organ.

"Pada suhu ekstrem di atas 50°C, bahkan unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam jika tidak memiliki akses terhadap air atau tempat perlindungan," katanya.

Tekanan panas juga diperparah kekeringan dan desertifikasi yang mengeringkan sumber air serta mengurangi vegetasi gurun. "Sayangnya, eksploitasi lahan dan desertifikasi semakin memperburuk kondisi ini, sehingga semuanya menjadi semakin sulit," tambahnya.

Kondisi serupa dilaporkan di Ethiopia, di mana peternak di Afar kehilangan delapan anak unta dalam sebulan akibat suhu ekstrem. Dampaknya tidak berhenti pada hewan karena masyarakat gurun turut kehilangan sumber susu, daging dan transportasi yang selama ini bergantung pada unta.

"Jika unta, simbol kekuatan gurun, tidak lagi mampu bertahan, masyarakat gurun seperti suku Badui di Sahara dan komunitas Bedouin di Timur Tengah tentunya akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka," ujar Prof Ronny.

Menurut dia, meningkatnya kematian unta menjadi sinyal bahwa perubahan iklim mulai melampaui kemampuan adaptasi makhluk hidup, sehingga pengelolaan air, tanaman tahan panas dan langkah adaptasi lainnya semakin mendesak.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gak Cuma Dari Telkomsel, Ini Sumber Cuan Baru Telkom Group