Zona Megathrust RI Berubah, Peneliti Jepang Tunjuk Wilayah Bahaya

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 04/09/2026 16:20 WIB
Foto: Ilustrasi gempa Megathrust segmen Sumatera dan Selatan Jawa. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)

JAKARTA, CNBC Indonesia - Ancaman gempa raksasa di Tanah Air kembali mencuat ke permukaan menyusul pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang mencatat lonjakan jumlah zona megathrust hingga mencapai 14 titik. Dokumen resmi ini sekaligus mengonfirmasi tingkat potensi bahaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan peta rilisan 2017 silam, terindikasi dari kian merapatnya garis kontur bahaya di berbagai kawasan.

Kenaikan jumlah zona megathrust ini turut membetot perhatian para pakar internasional, salah satunya Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, Jepang. Berdasarkan kajiannya, karakteristik geologi Indonesia dinilai sangat mirip dengan kawasan Nankai Trough di Jepang, yakni salah satu zona megathrust paling aktif di muka bumi.

"Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar," ungkap Heki saat bertugas sebagai Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), beberapa saat lalu.


Strategi Mitigasi dan Pemantauan Tektonik

Kendati waktu pasti pergerakan bumi mustahil ditebak, Heki menekankan bahwa pemantauan deformasi kerak bumi jangka panjang merupakan harga mati dalam mitigasi bencana. Ia menggarisbawahi urgensi pemanfaatan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pengukuran geodesi dasar laut guna memonitor akumulasi tegangan di zona subduksi.

"Kami melihat adanya kopling antiseismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya," jelas Heki.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti fenomena slow slip event alias pergeseran lambat yang kerap terdeteksi sebelum gempa besar menerjang. Walau bergerak dalam tempo lambat, anomali ini diyakini ampuh berfungsi sebagai sinyal peringatan dini.

"Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya," tambahnya.

Melihat rentangan zona subduksi aktif yang membentang dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, hingga Maluku, Heki menilai Indonesia memiliki peluang emas untuk mengadopsi sistem pemantauan serupa. Penguatan jaringan GNSS dan teknologi bawah laut diyakini mampu mendeteksi penumpukan energi tektonik secara jauh lebih presisi. "Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia," ujar Heki.

Titik Rawan dan Potensi Magnitudo Terbesar

Berdasarkan peta bahaya terbaru, distribusi kekuatan maksimal di sejumlah zona megathrust mencakup:

  • Megathrust Aceh-Andaman: Potensi gempa maksimal hingga magnitudo 9,2.

  • Megathrust Jawa: Potensi gempa maksimal hingga magnitudo 9,1.

  • Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, & Enggano: Potensi gempa masing-masing hingga magnitudo 8,9.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah membunyikan alarm kewaspadaan terkait keberadaan dua zona megathrust yang masih terjebak dalam fase seismic gap, yakni wilayah Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Kedua area tersebut tercatat sudah ratusan tahun 'puasa' gempa besar, masing-masing sejak insiden terakhir pada tahun 1757 dan 1797.

Kendati demikian, BMKG menegaskan bahwa narasi "menunggu waktu" sama sekali bukan bentuk ramalan ihwal kepastian waktu kejadian.

"Yang dimaksud adalah akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat," tegas BMKG dalam keterangan resminya.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gak Cuma Dari Telkomsel, Ini Sumber Cuan Baru Telkom Group