Sindikat Penipu Online Kawakan Tumbang Setelah 2 Dekade Berjaya

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 02/09/2026 13:50 WIB
Foto: Ilustrasi Penipuan Online. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Operasi peretasan asal Rusia yang telah berakar selama dua dekade, "Sality", akhirnya berada di ujung tanduk. Aparat penegak hukum Amerika Serikat (AS) bersama raksasa keamanan siber CrowdStrike resmi mengumumkan pembongkaran jaringan malware kawakan ini.

Pemerintah AS bergerak cepat menyita berbagai domain web yang selama ini dimanfaatkan para peretas untuk membajak komputer publik. Perangkat yang terinfeksi biasanya dialihfungsikan untuk mengirim spam, melancarkan serangan distributed denial-of-service (DDoS), hingga mengeruk mata uang kripto secara ilegal.

Di sisi lain, CrowdStrike sukses memutus mata rantai jaringan komputer korban dari sang dalang utama. Mega-operasi pelumpuhan "botnet" ini bahkan dimulai secara terbuka di hadapan publik pada Senin di ajang KTT Intelijen Ancaman Day Zero di Las Vegas.


FBI dan Departemen Kehakiman AS (DOJ) menegaskan bahwa penindakan ini merupakan hasil kolaborasi masif bersama penegak hukum Eropa dan berbagai aliansi global.

"Penjahat siber, botnet, dan malware adalah ancaman yang nyata dan mendesak bagi keamanan serta perekonomian kita," tegas First Assistant United States Attorney, Bill Essayli, dikutip dari Reuters, Rabu (2/9/2026).

Meski dalam beberapa tahun terakhir kalah pamor dari kelompok ransomware yang lebih agresif, Sality pertama kali terdeteksi pada 2003 dan tetap memegang rekor sebagai salah satu sindikat kejahatan siber tertua di dunia maya.

DOJ menyebut jaringan ini berbasis di Rusia, meski belum membeberkan detail lebih lanjut. Sementara itu, Kedutaan Besar Rusia di Washington belum memberikan respons resmi atas permintaan komentar.

Kebal Hukum Berkat Arsitektur Canggih

Sality dikenal sangat liar dan kebal terhadap intervensi hukum berkat penggunaan arsitektur peer-to-peer. Jaringan ini mampu menerima instruksi komando melalui ribuan komputer korban yang tersebar luas tanpa satu titik pusat kendali tunggal (single point of failure).

Namun, CrowdStrike membalikkan keunggulan tersebut menjadi senjata makan tuan. Melalui blog resminya, perusahaan membeberkan strategi mereka dengan menyusupkan data palsu ke dalam sistem. Akibatnya, komponen botnet terkecoh dan secara otomatis memutus koneksi dengan sang kreator.

Peneliti CrowdStrike, Tillmann Werner, mengakui bahwa membedah anatomi botnet ini membutuhkan tingkat kerumitan yang tinggi.

"Ini adalah pengambilalihan botnet paling rumit yang pernah kami lakukan. Sistem ini memang dirancang tangguh untuk bertahan dari upaya takedown. Wajar jika ia mampu bertahan selama ini," ungkap Werner kepada Reuters.

Kendati dinilai sudah cukup uzur atau "jadul" oleh Direktur The Shadowserver Foundation, David Watson, Sality tetap menyimpan potensi bahaya laten bagi sektor korporasi.

"Sistem ini masih menjadi jalur masuk favorit ke dalam berbagai organisasi," ujar Watson.

Kini, fokus industri keamanan siber beralih pada satu pertanyaan besar: langkah apa yang akan diambil sang kreator misterius Sality untuk merebut kembali kendali kerajaannya?


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bill Gates Usulkan Pajak AI