Warga Kompak Tolak Data Center, Presiden Bilang Siap-Siap Jadi Miskin
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam keras berbagai komunitas di negaranya yang beramai-ramai menolak pembangunan pusat data (data center). Kemarahan ini mencuat di tengah kekhawatiran Partai Republik atas gelombang penolakan pemilih menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang.
"Satu-satunya alasan komunitas di seluruh AS menolak data center adalah jika mereka ingin berakhir menjadi masyarakat yang tertinggal dan miskin," tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social, dikutip dari CNBC International (1/9/2026).
Sebaliknya, Trump menggembar-gemborkan manfaat ekonomi dari proyek infrastruktur raksasa tersebut. "Jika mereka ingin sukses dan kaya, dengan pajak yang jauh lebih rendah dan lapangan pekerjaan di mana-mana, biarkan Data Reign (pusat data berjaya)," tambahnya.
Trump juga memperingatkan bahwa penolakan domestik ini justru akan menjadi keuntungan besar bagi geopolitik rival utama AS. "Kabar baiknya adalah ada banyak tempat lain yang menginginkan mereka [data center]. Jika kita membunuh 'Angsa Emas' ini, kalian hanya bisa menyalahkan diri sendiri. China tidak bisa lebih bahagia lagi dengan gerakan anti-data center ini. Faktanya, mereka tidak percaya hal ini benar-benar terjadi!"
Kemarahan sang presiden muncul hanya berselang sepekan setelah Komite Senator Nasional Republik (NRSC) merilis memo internal yang memperingatkan bahwa kampanye anti-data center akan meluas jauh melampaui wilayah Ohio jika persepsi pemilih tidak segera dipulihkan.
Berdasarkan data lembaga survei Gallup pada Maret lalu, tercatat 7 dari 10 warga Amerika menolak pembangunan data center kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di wilayah lokal mereka, dengan 48% di antaranya menyatakan sangat menolak.
Wolfe Research dalam laporan terbarunya pada 28 Agustus lalu juga menyebutkan bahwa kecepatan dan skala penolakan ini belum pernah terjadi sebelumnya, ditandai dengan anjloknya dukungan bersih hingga 60 poin lintas partai dalam 12 bulan terakhir.
Gelombang penolakan ini dipicu oleh kekhawatiran warga terhadap lonjakan biaya listrik, tingginya permintaan daya energi, penggunaan air yang masif, serta berbagai dampak lingkungan lokal lainnya.
Isu krusial ini terbukti menjadi palang ganjalan politik yang signifikan. Ohio yang menjadi salah satu pusat pembangunan pabrik AI, kandidat Senat dari Partai Republik, Jon Husted, terjebak dalam persaingan ketat (dead heat) melawan penantangnya dari Partai Demokrat, Sherrod Brown. Menurut memo NRSC, Brown secara efektif menjadikan penolakannya terhadap data center sebagai amunisi utama kampanye.
"Lebih dari hal apa pun dalam perlombaan ini, data center adalah jangkar yang membebani leher Husted. Jika ia kalah dan data center disalahkan, para politisi di seluruh negeri akan memerhatikan. Mereka tidak akan mendekati proyek data center berikutnya," tulis memo tersebut.
Pemilu paruh waktu mendatang akan menjadi pertaruhan besar yang menentukan partai mana yang akan menguasai kedua kamar di Kongres, di mana Partai Republik saat ini memegang mayoritas tipis di DPR serta mayoritas 53-47 di Senat.
(fab/fab)