Elon Musk Hancur-Hancuran, Harapannya Cuma Starlink

In, CNBC Indonesia
Kamis, 06/08/2026 16:25 WIB
Foto: CEO Tesla Elon Musk memegang telepon seluler saat tiba untuk menghadiri jamuan makan malam kenegaraan bersama Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026. (REUTERS/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham SpaceX anjlok sekitar 12% setelah perusahaan milik Elon Musk memaparkan kinerja keuangan pertamanya sebagai perusahaan publik. Meski SpaceX mengklaim investasi besar di kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai memberikan hasil lebih cepat dari perkiraan, investor tetap khawatir bisnis Starlink masih menjadi sumber utama pendanaan ekspansi AI yang sangat mahal.

Mengutip laporan Reuters, penurunan saham tersebut membuat harga SpaceX jatuh jauh di bawah harga initial public offering (IPO) sebesar US$135 dalam waktu kurang dari dua bulan sejak debut spektakulernya di bursa.

Kekhawatiran utama investor tertuju pada kemampuan Starlink untuk terus membiayai investasi besar SpaceX di pusat data dan cip AI Nvidia.


Analis pasar ActivTrades, Carolane de Palmas, mengatakan tekanan terhadap saham SpaceX kemungkinan belum akan mereda.

"Dengan belanja modal yang diperkirakan tetap tinggi dan antusiasme investor mulai mendingin, saya yakin saham ini masih bisa berada di bawah tekanan menjelang berakhirnya masa lock-up," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa hal itu dapat memicu volatilitas yang signifikan ketika pasar kembali menilai valuasi SpaceX dan laju pembakaran kas (cash burn) perusahaan.

SpaceX melaporkan pendapatan AI pada kuartal II melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan juga mengungkap sejumlah kontrak baru di bisnis komputasi awan (cloud computing), meski belanja modal AI pada kuartal tersebut naik menjadi US$15,8 miliar.

Chief Financial Officer (CFO) SpaceX, Bret Johnsen, mengatakan investasi AI kini menghasilkan pengembalian yang jauh lebih cepat.

"Ekonomi saat ini telah menghasilkan periode pengembalian kurang dari satu tahun untuk penempatan modal baru kami di bidang komputasi," kata Johnsen.

Ia juga mengungkapkan SpaceX telah menandatangani kontrak komputasi awan baru senilai US$6,7 miliar sejak akhir kuartal II dan berada di jalur untuk mencapai laju pendapatan tahunan sebesar US$100 miliar pada akhir tahun.

Pernyataan tersebut berbeda dengan investasi pusat data tradisional yang umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk balik modal.

Manajer portofolio Aptus Capital Advisors, David Wagner, mengatakan Elon Musk selama ini kerap membuat investor terkejut dengan inovasi teknologinya, tetapi eksekusi sering membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

"Elon terus mengejutkan investor mengenai apa yang bisa dilakukan inovasi dan teknologi, tetapi selalu ada ketidaksesuaian mengenai jangka waktu kapan eksekusi itu benar-benar terjadi," kata Wagner.

"Saya percaya angka-angka itu. Ya, angka tersebut agresif, tetapi bukan fantasi. Semua elemennya ada, hanya membutuhkan eksekusi yang sempurna," imbuhnya.

Pemaparan manajemen setelah laporan keuangan menunjukkan perubahan penting dalam narasi investasi SpaceX. Sebelumnya, investor menganggap arus kas Starlink sebagai sumber utama pendanaan ambisi AI perusahaan. Kini, manajemen mulai berargumen bahwa infrastruktur AI sendiri mulai menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membiayai ekspansi berikutnya.

Namun, kenyataannya SpaceX masih menggelontorkan belanja modal sekitar US$18,4 miliar pada kuartal II, setara sekitar seperlima dari dana US$85,7 miliar yang dihimpun melalui IPO Juni lalu. Perusahaan juga masih mencatat arus kas bebas (free cash flow) yang negatif akibat investasi besar-besaran di infrastruktur AI.

Eksekutif SpaceX mengatakan permintaan terhadap komputasi AI masih jauh melampaui pasokan. Perusahaan menargetkan kapasitas komputasi lebih dari dua gigawatt pada akhir tahun.

Jika permintaan tetap kuat dan seluruh infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan secara penuh, bisnis AI berpotensi membiayai pertumbuhannya sendiri tanpa bergantung pada arus kas Starlink.

Namun, tidak semua investor yakin skenario tersebut akan berjalan mulus. Manajer portofolio Polen Capital, Drew Cupps, mengatakan hubungan antara belanja modal dan pendapatan saat ini tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

"Hubungan antara belanja modal dan pendapatan tidak berkelanjutan, sehingga belanja modal harus turun atau pendapatan harus tumbuh sangat besar. Di situlah keyakinan terhadap visi Musk, kepemimpinan tekniknya, dan rekam jejak eksekusinya menjadi pembeda antara pihak yang optimistis dan pesimistis," kata Cupps.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Akselerasi AI Indonesia Hadapi Tantangan Data Silo, Solusinya?