Serangan Besar-Besaran Guncang Amerika, Wall Street Jadi Target

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
06 August 2026 15:50
Seorang pria berjalan di Wall Street di luar Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 7 April 2025. (REUTERS/Brendan McDermid//File Foto)
Foto: Seorang pria berjalan di Wall Street di luar Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 7 April 2025. (REUTERS/Brendan McDermid)

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan siber besar-besaran mengguncang sektor keuangan Amerika Serikat (AS). Sejumlah peretas melancarkan rangkaian serangan siber canggih terhadap perusahaan keuangan besar di Wall Street dan perusahaan pengelola investasi dalam beberapa hari terakhir dengan menargetkan sistem informasi mereka.

Mengutip laporan Reuters, Kamis (6/8/2026), dua sumber yang mengetahui langsung persoalan tersebut mengatakan para pelaku berupaya menyusup ke infrastruktur digital perusahaan-perusahaan keuangan terkemuka. Serangan ini menargetkan beberapa hedge fund terbesar di dunia serta sejumlah perusahaan private equity.

Peretas menggunakan modus panggilan telepon untuk mengelabui karyawan agar memberikan akses ke sistem internal atau menyerahkan informasi sensitif lainnya. Taktik ini masih menjadi salah satu metode yang paling efektif dalam serangan siber.

Salah satu perusahaan yang menjadi sasaran adalah Point72 Asset Management. Salah satu sumber mengatakan perusahaan itu telah memberi tahu para investornya pada Rabu (5/8) bahwa mereka menghadapi serangan dari peretas.

Meski demikian, Point72 menyatakan tidak ada data pelanggan yang dicuri dalam insiden tersebut.

Selain Point72, para peretas juga berupaya membobol sistem informasi hedge fund lain, termasuk Two Sigma Investments dan Citadel. Two Sigma belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters, sementara Citadel dan Point72 menolak berkomentar.

Pakar keamanan siber mengatakan upaya peretasan terhadap lembaga keuangan besar sebenarnya merupakan kejadian yang rutin. Namun, pola serangan yang mengandalkan rekayasa sosial melalui telepon tetap menjadi ancaman serius.

Taktik panggilan telepon ini pernah digunakan secara efektif oleh kelompok peretas seperti Scattered Spider, jaringan longgar yang terdiri dari peretas muda dan telah menimbulkan banyak korban dari kalangan korporasi dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan global kini menghadapi lonjakan serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) serta ransomware yang mampu mengganggu operasional dan mencuri data.

Gedung Putih sendiri telah membentuk kelompok kerja pada awal tahun ini yang mempertemukan pengembang AI dan operator infrastruktur kritis untuk berbagi informasi intelijen ancaman serta mengoordinasikan pertahanan siber.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rekening Bisa Ludes Dalam Hitungan Detik, Waspada Virus Jenis Baru


Most Popular
Features