China Kasih Peringatan Keras ke Amerika, Ancam Pembalasan Penuh
Jakarta, CNBC Indonesia - China mengancam akan membalas dendam kepada Amerika Serikat (AS) setelah pemerintah AS kembali memperketat pembatasan terhadap produk teknologi asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa Komisi Komunikasi Federal AS (Federal Communications Commission/FCC) berulang kali mengabaikan sikap China yang selama ini menahan diri terkait larangan produk.
Pernyataan tersebut muncul setelah FCC pada pekan ini mengumumkan penambahan perangkat robotik canggih buatan luar negeri, termasuk robot humanoid, ke dalam daftar pembatasan impor ke AS dengan alasan keamanan siber.
Meskipun FCC tidak menyebut negara tertentu secara eksplisit dalam pengumumannya, Beijing menilai kebijakan tersebut jelas menargetkan produk-produk asal China. Perlu dicatat, FCC mengatakan bahwa pengecer masih dapat mengimpor model yang sebelumnya telah mendapat persetujuan-
Kementerian Perdagangan China menyebut pembatasan yang terus diperluas oleh FCC terhadap barang-barang China telah "merusak secara serius stabilitas ekonomi dan perdagangan China-AS."
Beijing pun mendesak AS untuk mencabut keputusan tersebut dan memperingatkan akan mengambil langkah balasan jika Washington tidak mengubah kebijakannya.
Dampak ke Produsen Robot dan Pasar Saham
Analis dari Counterpoint Research, Marc Einstein, mengatakan bahwa kebijakan terbaru AS ini menjadi kabar buruk bagi produsen robot humanoid China yang sedang mempersiapkan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) dalam beberapa bulan mendatang.
"Dua kartu utama yang bisa dimainkan China adalah memperketat kembali penjualan logam tanah jarang (rare earth) kepada perusahaan-perusahaan Amerika, serta semakin membatasi akses perusahaan AS seperti Tesla dan NVIDIA ke pasar China," ujarnya, dikutip dari Reuters, Jumat (31/7/2026).
Pernyataan keras dari Kementerian Perdagangan China ini muncul menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan menerima Presiden China Xi Jinping pada September mendatang.
Di saat yang sama, eskalasi persaingan teknologi antara kedua negara terus meningkat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan bahwa Amerika dapat menjatuhkan sanksi terhadap China terkait dugaan pencurian model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Meski demikian, Trump pada Kamis mengisyaratkan bahwa AS mungkin akan mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati terkait kontrol AI demi mempertahankan kepemimpinan teknologi AS atas China.
Peta Persaingan Pasar Robotik
Menurut data Counterpoint Research, tiga perusahaan asal China-yaitu Agibot, Unitree, dan UBTech-menguasai pangsa pasar pemasangan robot humanoid terbesar tahun lalu. Sementara itu, robot Optimus milik Tesla berada di posisi kelima.
Imbas dari isu ini, saham UBTech yang tercatat di Bursa Hong Kong sempat anjlok lebih dari 6% pada perdagangan Kamis pagi. Di sisi lain, Unitree dan Agibot diketahui telah mengajukan rencana IPO.
Di Amerika Utara, distributor robot humanoid China, Robostore, mengaku telah bersiap menghadapi pembatasan baru tersebut dengan memperluas kemampuan operasionalnya di wilayah AS.
CEO Robostore, Teddy Haggerty, menyampaikan bahwa perusahaan kini sedang memperkuat kapabilitas operasional yang berbasis di AS, meski tidak membeberkan detail lengkapnya.
(fab/fab)