Dulu Ramai Diserbu Anak Muda, Profesi Ini Sekarang Punah Diganti Mesin
Jakarta, CNBC Indonesia - Profesi konsultan penerimaan perguruan tinggi di China yang dulu diburu jutaan keluarga kini mulai kehilangan pamornya. Layanan yang selama ini mengandalkan informasi, pengalaman, serta rekomendasi jurusan perlahan digantikan oleh chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dapat diakses secara gratis.
Perubahan ini terjadi ketika sekitar 10 juta siswa di China menghadapi masa krusial setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi nasional (Gaokao). Mereka hanya memiliki waktu beberapa pekan untuk menentukan universitas dan jurusan-sebuah keputusan penting yang dapat menentukan arah karier mereka di masa depan.
Jika sebelumnya para orang tua rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menyewa jasa konsultan pendidikan, kini makin banyak siswa beralih ke chatbot AI yang mampu memberikan rekomendasi kampus dan jurusan hanya dalam hitungan menit, dikutip dari DigitalTrends, Kamis (30/7/2026).
Raksasa teknologi seperti Alibaba, ByteDance, Tencent, dan Baidu telah meluncurkan layanan AI khusus untuk membantu perencanaan masuk perguruan tinggi. Siswa cukup memasukkan nilai ujian, minat karier, hasil tes kepribadian, serta preferensi seperti anggaran biaya kuliah hingga lokasi kampus yang diinginkan.
Mengutip Digital Trends, chatbot tersebut kemudian akan menyusun daftar program studi yang dibagi ke dalam beberapa kategori, seperti target utama, opsi aman, hingga pilihan cadangan berdasarkan nilai dan kriteria kelayakan.
Laporan Rest of World menyebutkan bahwa skala penggunaan layanan ini sangat masif. Hingga awal Juli, model AI Qwen milik Alibaba tercatat telah menghasilkan 23 juta laporan rekomendasi. Sementara itu, chatbot Yuanbao milik Tencent mengklaim telah menjawab lebih dari 200 juta pertanyaan terkait pemilihan kampus dan jurusan.
Laporan rekomendasi tersebut menjadi sangat krusial karena universitas di China umumnya tidak mengizinkan mahasiswa berpindah jurusan setelah resmi diterima. Kondisi ini membuat keputusan memilih jurusan menjadi jauh lebih krusial dibandingkan di negara lain seperti Amerika Serikat.
Di sisi lain, pesatnya penggunaan AI mulai menekan industri konsultan pendidikan tradisional yang selama ini bertumpu pada informasi manual.
Sejumlah konsultan penerimaan mahasiswa kini diam-diam memanfaatkan AI untuk mempercepat riset dan menyusun rekomendasi awal. Mereka kemudian mengalihkan fokus pada layanan yang membutuhkan sentuhan manusia, seperti dukungan emosional, mediasi dengan keluarga, hingga perencanaan jangka panjang.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa teknologi AI belum sepenuhnya sempurna. Chatbot masih berpotensi mengalami kekeliruan (hallucination), salah memahami prioritas siswa, atau mengabaikan kondisi pribadi yang memengaruhi keputusan penting dalam hidup.
Oleh karena itu, banyak pihak menilai AI akan mengubah cara kerja layanan konseling perguruan tinggi, bukan sepenuhnya memusnahkan peran manusia.
Laporan lain juga menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi AI ini belum merata. Tingkat kesadaran dan penggunaan AI masih dominan di kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan berpendidikan, sehingga kehadiran alat gratis ini belum tentu sepenuhnya menyamakan ketimpangan peluang.
Bagi banyak siswa, perubahan terbesar saat ini adalah bahwa layanan bimbingan masuk perguruan tinggi tidak lagi menjadi fasilitas eksklusif bagi keluarga yang mampu membayar konsultan mahal semata.
(fab/fab)