Terungkap Taktik Baru Teroris Rakit Bom-Lancarkan Serangan Mematikan
Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman yang ditimbulkan teknologi kecerdasan buatan (AI) kian meluas. Bukan cuma memudahkan penyebaran propaganda online yang memicu perpecahan, tool AI juga dimanfaatkan kelompok-kelompok teroris untuk membantu merencanakan serangan, menciptakan senjata, hingga merakit bom.
Menurut studi terbaru dari peneliti Dr. Juelich yang dipublikasikan di The New York Times, kelompok-kelompok teroris seperti ISIS dan Boko Haram, mulai kencang memanfaatkan tool AI untuk membantu operasi mereka.
Menurut penelitian Juelich, kelompok teroris kini sudah memanfaatkan tool AI untuk meningkatkan persenjataan, hingga mencari ide-ide baru dalam melancarkan serangan ke musuh.
"Anda mengetik pertanyaan atau menggunakan suara, lalu [tool AI] memberikan jawaban terperinci, misalnya 'Bagaimana cara membuat bom?', dan kemudian [tool AI] memberi tahu caranya. Ia seperti robot manusia! Kami sering menggunakannya," ujar seorang mantan komandan Islamic State West Africa Province, yakni faksi utama Boko Haram, kepada Juelich pada tahun lalu, dikutip dari NDTV berdasarkan laporan The New York Times, Senin (13/7/2026).
Temuan Juelich berdasarkan pada hampir 60 wawancara yang dilakukan sepanjang tahun lalu dengan 27 mantan anggota Boko Haram di Nigeria. Beberapa di antara mereka mengatakan chatbot AI digunakan untuk memperoleh informasi teknis yang dapat membantu menyempurnakan senjata dan merencanakan serangan.
Mantan anggota mengungkapkan bahwa kelompok tersebut mengadakan sesi pelatihan, yang kabarnya dipimpin oleh anggota yang memiliki kaitan dengan ISIS, untuk mengajarkan cara menggunakan chatbot AI secara lebih efektif.
Selama sesi pelatihan ini, para anggota menggunakan laptop dengan VPN dan software enkripsi untuk menyembunyikan aktivitas online mereka. Para pengajar juga membimbing mereka membuat akun AI, memberikan pernyataan yang benar untuk mendapat jawaban relevan, hingga mengelabui sistem pembatasan keamanan AI.
Laporan tersebut menyoroti kasus seorang pria Tunisia berusia 27 tahun yang ditangkap pada Mei lalu karena dugaan rencana serangan terhadap sebuah museum atau situs Yahudi di Paris. Para penyelidik menyatakan bahwa AI digunakan untuk membantu merencanakan serangan tersebut.
Daniel Byman, seorang pakar terorisme di Universitas Georgetown, mengatakan bahwa kelompok teroris tidak hanya mengandalkan satu chatbot. Sebaliknya, mereka beralih di antara berbagai platform AI, termasuk ChatGPT, Claude, Gemini, Grok, dan DeepSeek.
Direktur CIA John Ratcliffe baru-baru ini mengibaratkan rencana kelompok teroris untuk menggunakan AI sebagai "senjata nuklir digital".
Pejabat intelijen AS mengatakan beberapa kelompok teroris juga memanfaatkan AI untuk membantu memproduksi suku cadang senjata hasil cetakan 3D. Menurut seorang mantan pejabat AS, AI juga digunakan untuk merancang dan memproduksi suku cadang drone, komponen senjata, serta perlengkapan amunisi.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]