Ilmuwan Bongkar Rahasia Umur Panjang Kakak Beradik Usia 316 Tahun

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Kamis, 30/07/2026 07:05 WIB
Foto: Trio bersaudara dengan rekor rekor ikatan yang tak terpecahkan dengan usia gabungan lebih dari 316 tahun. (Dok. guinnessworldrecords)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga kakak beradik asal Brasil telah melewati usia 100 tahun. Jika usia mereka digabungkan, angkanya mencapai 316 tahun. Dan kini, para ilmuwan memburu rahasia di balik umur panjang mereka.

Zulina de Deus Nunes, Zoraide de Deus Mota, dan Levita de Deus Nunes masing-masing berusia 103, 104, dan 109 tahun. Guinness World Records bahkan menobatkan mereka sebagai trio kakak beradik tertua yang masih hidup di dunia

Ketiganya tinggal di Rio de Janeiro dan menjadi bagian dari proyek penelitian DNA Longevo yang dipimpin ilmuwan dari University of Sao Paulo, Mayana Zatz. Penelitian tersebut berupaya mengidentifikasi faktor biologis yang membuat seseorang mampu menua dengan tetap sehat secara fisik dan kognitif.


Para peneliti akan membandingkan orang-orang berusia 90-an dan 100-an dengan mereka yang mengalami kerapuhan fisik, penurunan fungsi kognitif, atau penyakit kronis. Penelitian ini bertujuan menemukan karakteristik yang berkaitan dengan umur panjang.

"Melalui tes DNA, kami mencari gen pelindung, dan kami tahu ada beberapa di antaranya. Makin banyak orang yang hidup melewati usia 100 tahun, terutama keluarga dengan banyak orang berusia 100 tahun, penelitian kami akan makin akurat dalam mengidentifikasinya," kata Zatz, yang mengoordinasikan Human Genome Research Center di universitas tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (21/7/2026).

Para ilmuwan meyakini faktor genetik yang diwariskan dapat memainkan peran lebih besar dibandingkan faktor lingkungan dalam menjaga kesehatan dan fungsi tubuh pada usia lanjut.

Ben Meyers, CEO LongeviQuest, organisasi global yang memverifikasi rekor umur panjang dan bekerja sama dengan Guinness World Records, mengatakan usia panjang ketiga saudara tersebut kemungkinan memiliki kaitan kuat dengan faktor genetik.

"Ketika saudara perempuan mencapai usia seperti itu, jelas ada komponen genetik yang kuat. Namun, karena mereka tinggal berdekatan, mereka juga memiliki jaringan dukungan, dengan keluarga yang dapat membantu ketika dibutuhkan. Jelas ada aspek komunitas juga," kata Meyers.

Ketiga saudari tersebut menyebut pola makan sehat dan gaya hidup aktif sebagai salah satu alasan mereka bisa berumur panjang.

Zulina mengenang masa kecilnya yang dihabiskan dengan berenang dan memancing di sungai.

"Semuanya masih segar. Kami tidak memiliki kulkas," ujarnya.

Zoraide juga menekankan pentingnya pemberian ASI.

"Menyusui sangat penting," ungkapnya.

Di luar usia mereka yang luar biasa panjang, ketiga saudari tersebut menjalani kehidupan yang relatif biasa. Levita pernah bekerja sebagai pengrajin dan kemudian di sebuah jaringan televisi. Zoraide bekerja sebagai perawat dan membesarkan lima anak. Sementara itu, Zulina menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan enam anak.

Levita mengatakan dirinya tidak memiliki penyesalan atas kehidupannya.

"Saya memiliki masa kecil dan masa remaja yang baik. Saya tidak bisa mengeluh," kata Levita.

Para peneliti kini ingin mengetahui sejauh mana faktor genetik, bukan hanya gaya hidup, mampu melindungi jantung, otot, serta fungsi kognitif dari dampak penuaan.

Peneliti yang bekerja bersama Zatz, Joao Paulo Guilherme, mengatakan penelitian tersebut menargetkan pengumpulan data dari 500 orang yang telah mencapai usia 100 tahun.

"Tujuannya adalah mencapai 500 orang berusia 100 tahun sehingga kami dapat menarik kesimpulan yang lebih definitif mengenai umur panjang," kata Guilherme.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perkuat Data Center AI: Infrastruktur Berkelanjutan Jadi Kunci